Bodewin Wattimena Warning Pelaku Usaha: Jangan Manipulasi Data Sensus Ekonomi 2026
Ambon-Spektroom:Walikota Ambon,Bodewin Wattimena mengingatkan seluruh pelaku usaha dan masyarakat untuk memberikan data yang jujur dan akurat dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026.
Ia menegaskan, kualitas data yang dihimpun akan menentukan arah pembangunan Ambon dalam satu dekade ke depan.
Peringatan itu disampaikan Bodewin saat menghadiri kegiatan “Arika Deng Sensus Ekonomi 2026” yang digelar Badan Pusat Statistik di Amaris Hotel Ambon, Selasa (26/5/2026).
Menurutnya, Sensus Ekonomi yang dilaksanakan setiap 10 tahun bukan sekadar agenda administratif, melainkan instrumen strategis pemerintah untuk memotret kondisi ekonomi secara menyeluruh sebagai dasar penyusunan kebijakan publik.
“Data itu bukan sekadar angka. Data adalah senjata pemerintah untuk mengambil keputusan. Kalau datanya benar, kebijakan akan tepat. Tapi kalau datanya dimanipulasi, pembangunan bisa salah arah dan masyarakat yang akan menanggung dampaknya,” tegas Bodewin.
Ia menyoroti berbagai persoalan program bantuan pemerintah yang selama ini kerap bermasalah akibat data tidak valid. Kesalahan pendataan, kata dia, sering membuat masyarakat yang tidak layak justru menerima bantuan, sementara warga yang benar-benar membutuhkan malah terabaikan.
“Orang yang tidak miskin bisa masuk kategori miskin, sementara yang benar-benar miskin justru tidak tercatat. Akibatnya bantuan sosial, BLT, dan berbagai program pemerintah menjadi salah sasaran. Selama datanya salah, jangan berharap masalah kemiskinan selesai,” ujarnya.
Bodewin juga meminta para pelaku usaha tidak merasa khawatir mengikuti sensus karena data yang dikumpulkan dijamin kerahasiaannya dan tidak berkaitan dengan urusan perpajakan. Ia menegaskan, petugas sensus hadir untuk menghimpun informasi ekonomi demi kepentingan pembangunan, bukan melakukan pengawasan pajak.
“Petugas sensus bukan petugas pajak. Data yang diberikan dilindungi undang-undang dan hanya dipublikasikan secara agregat. Jadi tidak ada alasan untuk menyembunyikan informasi atau memberikan data yang tidak benar,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Bodewin menjelaskan perekonomian Kota Ambon hingga kini masih bertumpu pada sektor perdagangan, jasa, dan pariwisata. Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2025, sektor perdagangan menyumbang 21,98 persen terhadap total ekonomi kota.
Namun, ia mengingatkan perubahan ekonomi dalam satu dekade terakhir berlangsung sangat signifikan, terutama dengan tumbuhnya industri digital yang kini menjadi bagian penting dalam ekosistem ekonomi daerah.
“Sepuluh tahun lalu industri digital belum sebesar sekarang. Hari ini orang bisa hidup dari media sosial, menjadi konten kreator, influencer, atau menjalankan usaha lewat platform digital. Semua perubahan ini wajib dipotret secara benar dalam Sensus Ekonomi 2026,” ujarnya.
Bodewin juga menegaskan komitmen Pemerintah Kota Ambon untuk terus menciptakan iklim usaha yang sehat, terbuka, dan ramah investasi. Menurutnya, ketika pemerintah telah memberikan ruang dan dukungan bagi pelaku usaha untuk berkembang, maka sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk mendukung pembangunan melalui penyampaian data yang jujur.
“Tidak semua kontribusi untuk kota ini harus dalam bentuk uang. Memberikan data yang benar juga adalah kontribusi besar untuk masa depan Ambon. Jangan jadi beban dalam sejarah pembangunan, jadilah bagian dari perubahan,” pungkasnya..(EM)