BRIN Kembangkan Cabai Tahan Kutu Daun

BRIN Kembangkan Cabai Tahan Kutu Daun

Cibinong - Spektroom : Cabai merupakan komoditas hortikultura yang memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia. Selain menjadi kebutuhan pokok masyarakat, fluktuasi harga cabai juga menjadi salah satu faktor utama penyumbang inflasi pangan. Karena itu, menjaga produktivitas cabai menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Hortikultura, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ady Daryanto, mengungkapkan pengembangan varietas cabai tahan hama menjadi solusi yang lebih berkelanjutan dibandingkan ketergantungan pada penggunaan pestisida.

"Perubahan iklim dan meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman membuat budidaya cabai semakin menantang. Pengembangan varietas tahan hama merupakan pendekatan yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan produksi cabai," jelas Ady dalam webinar HortiActive #27 bertajuk Pemuliaan Cabai Tahan Kutu Daun: Pendekatan Bioassay dan Analisis Genetik, dan Siaran Pers diterima Spektroom, Senin, (29/06/2026).

Kutu daun (Aphis gossypii) merupakan salah satu hama paling merugikan pada tanaman cabai. Selain mengisap cairan tanaman sehingga menghambat pertumbuhan, serangga ini juga menghasilkan embun jelaga (honeydew) yang memicu pertumbuhan jamur jelaga serta menjadi vektor lebih dari 50 jenis virus pada tanaman famili Solanaceae, termasuk Cucumber Mosaic Virus (CMV), Pepper Yellow Mosaic Virus (PepYMV), dan polerovirus.

Tanaman memiliki mekanisme alami untuk menghadapi serangan hama melalui 2 sistem pertahanan, yakni antixenosis yang memengaruhi perilaku hama agar enggan menyerang tanaman, serta antibiosis yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan hama setelah berinteraksi dengan tanaman. Penelitian BRIN difokuskan pada mekanisme antibiosis karena dinilai lebih efektif dalam menekan perkembangan populasi kutu daun.

Dalam riset ini, Ady mengevaluasi 7 genotipe cabai untuk mengidentifikasi sumber ketahanan terhadap kutu daun. Hasil penelitian menunjukkan genotipe C20 dan C367 secara konsisten mampu menekan perkembangan populasi kutu daun sehingga berpotensi menjadi donor ketahanan dalam program pemuliaan cabai.

Untuk memperoleh hasil yang akurat, peneliti mengembangkan 3 metode skrining berbasis no-choice test, yakni seedling cage, detached leaf, dan clip cage. Ketiga metode itu digunakan untuk mengevaluasi perkembangan populasi kutu daun selama 7 hari setelah infestasi dengan menghitung perkembangan populasi kutu daun pada masing-masing perlakuan

"Hasil pengujian menunjukkan seluruh metode memiliki nilai heritabilitas yang sangat tinggi, sekitar 90%-91%. Artinya, karakter ketahanan lebih banyak dikendalikan oleh faktor genetik dibandingkan pengaruh lingkungan," ujar Ady.

Di antara ketiga metode itu, menurut Ady, clip cage dinilai sebagai metode yang paling praktis sekaligus andal. Metode ini memungkinkan pengujian dilakukan pada daun yang masih melekat pada tanaman sehingga kondisi tanaman tetap alami dan risiko kerusakan selama pengujian menjadi lebih rendah.

Penelitian juga mengungkap sifat ketahanan terhadap kutu daun merupakan karakter kuantitatif yang dikendalikan oleh banyak gen dengan interaksi genetik yang kompleks. Meski demikian, keberadaan efek gen aditif yang cukup kuat membuka peluang besar bagi pemulia tanaman untuk meningkatkan ketahanan melalui proses seleksi pada generasi lanjut, yakni mulai generasi F4 hingga F6. Temuan menjadi landasan penting bagi pengembangan varietas cabai unggul yang tidak hanya produktif, tetapi juga memiliki ketahanan alami terhadap serangan hama.

Melalui inovasi ini, BRIN berharap dapat mendukung lahirnya varietas cabai tahan kutu daun yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap pestisida, meningkatkan efisiensi budidaya, serta memperkuat sistem pengendalian hama terpadu yang lebih ramah lingkungan.

Hasil penelitian ini diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas cabai nasional sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan harga cabai sebagai salah satu komoditas strategis bagi ketahanan pangan Indonesia. (nurm/ed:ade,ugi)

Berita terkait

Pangdam XV/Pattimura Luncurkan Program Emas Hijau, Tanam Sejuta Pohon Sukun Perkuat Ketahanan Pangan

Pangdam XV/Pattimura Luncurkan Program Emas Hijau, Tanam Sejuta Pohon Sukun Perkuat Ketahanan Pangan

Ambon-Spektroom : Kodam XV/Pattimura kembali memperkuat komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung ketahanan pangan melalui penanaman pohon sukun secara masif. Kegiatan Launching Penanaman Sejuta Pohon Sukun ini digelar di kawasan Bukit Paralayang, Ambon, pada Jumat (31/7/2026). Kegiatan penanaman ini dilaksanakan serentak di jajaran Kodam XV/Pattimura. Acara

Eva Moenandar, Julianto
Pemkot Jayapura Bekali Pengetahuan Pelaku UMKM Dengan Pelatihan Teknologi Digital

Pemkot Jayapura Bekali Pengetahuan Pelaku UMKM Dengan Pelatihan Teknologi Digital

Jayapura-Spektroom : Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura, Papua melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM setempat membekali pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki kekerampilan mengusai teknologi digital untuk meningkatkan daya saing produk dalam dunia usaha. Asisten II Bidang Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Jayapura Abdul Majid mengatakan peningkatan kesejahteraan

Anthonius Teniwut, Julianto
ссс