Bulog Sulap Lahan Strategis di Pontianak Jadi Kawasan Bisnis
Pontianak - Spektroom : Perum Bulog mulai tancap gas mencari sumber pendapatan di luar bisnis pangan. Badan usaha milik negara yang selama ini identik dengan pengelolaan beras dan cadangan pangan pemerintah itu kini menggarap sektor properti dan komersial melalui pengembangan kawasan bisnis terpadu Perdana Avenue di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.
Langkah itu sinyal kuat Bulog tengah mempercepat transformasi bisnis di tengah tuntutan efisiensi dan optimalisasi aset negara. Alih-alih membiarkan lahan menganggur, perusahaan memilih mengubah aset strategis menjadi sumber pendapatan baru yang berpotensi menghasilkan keuntungan berkelanjutan.
Perdana Avenue dibangun di atas lahan seluas 16.650 meter persegi di kawasan Jalan Perdana, salah 1 koridor ekonomi yang berkembang di Pontianak. Sebelum seluruh kawasan rampung dikembangkan, sekitar 5.670 meter persegi lahan sudah berhasil tersewa oleh pelaku usaha.
Direktur Pemasaran Perum Bulog, Rahmanto Amin Jatmiko menegaskan optimalisasi aset kini menjadi bagian penting dari strategi perusahaan untuk memperkuat struktur pendapatan di luar bisnis inti pangan. Aset negara yang selama ini berada dalam pengelolaan Bulog harus mampu menghasilkan nilai ekonomi lebih besar dan tidak hanya berfungsi sebagai aset pasif.
"Optimalisasi aset menjadi salah 1 fokus Bulog dalam memperkuat pendapatan perusahaan di luar core business pangan sehingga aset negara yang dikelola dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar," kata Rahmanto saat peresmian kawasan bisnis tersebut, Kamis (23/07/2026).
Mengusung konsep Bulog Business District, Perdana Avenue diproyeksikan menjadi pusat aktivitas ekonomi baru yang menampung perdagangan, jasa, kuliner, hingga ruang kolaborasi bagi investor dan UMKM. Strategi ini mencerminkan perubahan paradigma BUMN yang tidak lagi hanya mengandalkan bisnis utama, tetapi juga dituntut mampu memaksimalkan nilai aset yang dimiliki.
Perdana Avenue proyek lanjutan dari strategi pengembangan aset Bulog yang sebelumnya telah melahirkan sejumlah kawasan bisnis di berbagai daerah. Jika model ini terbukti berhasil, bukan tidak mungkin aset-aset Bulog di kota lain mengikuti jejak serupa.