Bungkusan Tradisi dari Tangan Lansia: Kisah The Ngak Tjeng dan Bakcang Warisan Leluhur

Bungkusan Tradisi dari Tangan Lansia: Kisah The Ngak Tjeng dan Bakcang Warisan Leluhur
Inilah sosok Ibu The Ngak Tjeng (87) pembuat Bak Chang pelestari warisan Leluhur Tionghoa Pontianak Kalbar. (Foto: Apolo/Spektroom)

Pontianak-Spektroom : Aroma ketan yang baru matang memenuhi dapur sederhana milik The Ngak Tjeng di kawasan Pemukiman penduduk jalan Suka Mulya Pontianak kota.

Dengan tangan yang mulai keriput dimakan usia, perempuan 87 tahun itu masih cekatan menata lembar demi lembar daun bambu, mengisi ketan dengan daging, jamur, udang ebi, kacang, hingga kuning telur asin sebelum membungkusnya menjadi segitiga-segitiga bakcang yang rapi.

Bagi sebagian orang seusianya, masa tua mungkin dihabiskan dengan beristirahat di rumah. Namun tidak bagi The Ngak Tjeng.

Perempuan kelahiran Punggur yang kini menetap di Pontianak itu memilih tetap berkarya dengan membuat bakcang, kuliner tradisional Tionghoa yang selalu hadir menjelang Festival Duanwu atau Hari Raya Bakcang.

Menjelang perayaan Bakcang tahun ini, pesanan kembali berdatangan dari kolega dan pelanggan lama yang telah mengenal cita rasa racikannya selama puluhan tahun.

Aktivitas tersebut bukan sekadar pekerjaan sampingan, melainkan bagian dari kecintaannya terhadap tradisi yang diwariskan turun-temurun.

"Selama masih kuat, saya akan terus membuat bakcang," ujarnya sambil tersenyum.

Setiap bakcang yang dibuat The Ngak Tjeng melalui proses yang tidak singkat.

Beras ketan terlebih dahulu dikukus, kemudian dipadukan dengan berbagai bahan isian seperti daging ayam, sapi, atau babi sesuai pesanan, ditambah udang ebi, jamur, kacang, dan telur asin.

Setelah dibungkus menggunakan daun bambu atau daun pisang, bakcang diikat menggunakan tali rafia atau nilon sebelum kembali dikukus hingga matang.

Hasil akhirnya adalah bakcang beraroma khas dengan tekstur ketan yang pulen dan cita rasa gurih yang telah menjadi favorit banyak pelanggan.

Di musim perayaan Bakcang, The Ngak Tjeng mampu memproduksi hingga 100 bakcang dalam sehari.

Dengan harga sekitar Rp40 ribu per buah, kegiatan tersebut turut memberikan tambahan penghasilan di masa senjanya.

Namun lebih dari itu, setiap bakcang yang dibuatnya menyimpan cerita tentang ketekunan, tradisi, dan kecintaan terhadap budaya leluhur.

Pemerhati sosial budaya kemasyarakatan, Andreas Acui Simanjaya, menilai sosok seperti The Ngak Tjeng memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan budaya Tionghoa di tengah perubahan zaman.

Menurut Andreas, perempuan dalam keluarga Tionghoa selama ini menjadi penjaga tradisi, mulai dari persiapan perayaan Imlek, ziarah keluarga, hingga berbagai ritual budaya lainnya, termasuk Hari Raya Bakcang.

Peran itu tampak nyata dalam keseharian The Ngak Tjeng.
Dari dapurnya yang sederhana, ia tidak hanya menghasilkan makanan, tetapi juga merawat ingatan kolektif sebuah budaya agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, semangat The Ngak Tjeng menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak selalu dijaga melalui panggung besar atau seremoni megah.

Kadang, pelestarian budaya justru bertahan lewat tangan-tangan tua yang setia bekerja dalam diam, membungkus ketan demi ketan menjadi bakcang, lalu mewariskan maknanya kepada generasi berikutnya.

Berita terkait

Pemprov Sumbar Dorong Kolaborasi Masyarakat Lindungi Generasi Muda dari Narkoba

Pemprov Sumbar Dorong Kolaborasi Masyarakat Lindungi Generasi Muda dari Narkoba

Padang–Spektroom : Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat (Sekdaprov Sumbar), Arry Yuswandi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat ketahanan keluarga, pendidikan karakter, serta nilai-nilai keagamaan sebagai langkah bersama dalam mencegah penyalahgunaan narkoba dan berbagai persoalan sosial yang mengancam generasi muda. Ajakan tersebut disampaikan Arry saat menghadiri kegiatan Gerakan Subuh Berjamaah dan

Rafles
Di Balik Lantunan Yasin, Terselip Harapan Menjaga Harmoni Kalimantan Barat

Di Balik Lantunan Yasin, Terselip Harapan Menjaga Harmoni Kalimantan Barat

Pontianak-Kalbar : Suasana Pendopo Gubernur Kalimantan Barat, Minggu (21/06/2026), tampak berbeda dari biasanya. Ratusan santri, santriwati, dan jamaah Majelis Taklim Nurul Jannah memenuhi ruangan dengan wajah-wajah penuh harap. Sebagian mengenakan pakaian serba putih, sementara yang lain tampak menggenggam kitab Yasin yang menjadi saksi perjalanan mereka menuntaskan proses pembelajaran keagamaan.

Apolonius Welly, Rafles
Hadiri Festival Kuliner Tradisional, Wagub Vasko Ajak Masyarakat Jadikan Kuliner Minang Sebagai Kekuatan Pariwisata dan Ekonomi Daerah

Hadiri Festival Kuliner Tradisional, Wagub Vasko Ajak Masyarakat Jadikan Kuliner Minang Sebagai Kekuatan Pariwisata dan Ekonomi Daerah

Bukittinggi-Spektroom : Wakil Gubernur Sumatera Barat (Wagub Sumbar), Vasko Ruseimy menghadiri Festival Kuliner Tradisional yang digelar di kawasan Jam Gadang, Kota Bukittinggi, Minggu (21/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan 100 Tahun Jam Gadang sekaligus upaya memperkuat promosi budaya, pariwisata, dan ekonomi masyarakat berbasis kuliner tradisional. Dalam sambutannya,

Rafles