Cak Imin Tekankan Pentingnya Pemberdayaan Ekonomi Pesantren serta Transformasi Kelembagaan
Banjarbaru - Spektroom: Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar atau kerap disapa Cak Imin, mendorong pondok pesantren menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat dan penanggulangan kemiskinan.
Upaya ini dilakukan dengan mengembangkan ekosistem ekonomi yang tumbuh di lingkungan pesantren agar lebih produktif dan dapat direplikasi di masyarakat sekitar.
Hal itu disampaikan Cak Imin pada Peringatan Hari Santri Nasional di Pondok Pesantren Al Falah Putera, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (24/10/2026).
Muhaimin menyampaikan, pesantren tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Dari Kemenko Pemberdayaan sendiri akan mendorong ekosistem yang sudah berjalan di pesantren itu menjadi potensi ekonomi karena memang di dalam siklus pesantren yang santrinya kayak di sini Al Falah 4.500 santri, tentu ada ekosistem-ekosistem yang mandiri, kekuatannya kokoh,” katanya.
Terkait kondisi infrastruktur Pesantren, dalam kesempatan tersebut, Cak Imin menyoroti bahwa dari sekitar 40.000 pesantren di Indonesia, baru sekitar 1 persen yang memiliki infrastruktur dan bangunan berkualitas baik.
Karenanya, Pemerintah menyampaikan rasa hormat dan apresiasi tinggi kepada Para Pengelola Pondok Pesantren yang terus kokoh mendidik Generasi Bangsa secara mandiri ditengah keterbatasan fasilitas.
Selain perbaikan fasilitas dan sarana pendidikan, Pemerintah mendorong Pesantren agar dapat berbenah secara internal serta membangun ekosistem ekonomi mandiri yang produktif demi membantu penanggulangan kemiskinan.
Muhaimin menjelaskan, terdapat dua cara utama untuk memutus mata rantai kemiskinan, yakni pendidikan dan pemberdayaan.
Pertama, melalui pendidikan, santri perlu dibekali keterampilan, kapasitas, dan ilmu pengetahuan agar memiliki bekal untuk meningkatkan taraf hidup. “Yang kedua, pemberdayaan. Pemberdayaan itu berbasis pada kurikulum, berbasis pada ekosistem ekonomi dan ini akan kita dorong agar pesantren-pesantren mampu menjadi pelaku ekonomi yang produktif,” tambah Muhaimin. Selain mendorong pemberdayaan ekonomi, Muhaimin menyoroti kondisi infrastruktur pesantren di Indonesia. Dirinya menyebut terdapat sekitar 40.000 pesantren di Tanah Air, tetapi menurut perkiraannya, hanya satu persen yang memiliki kualitas infrastruktur memadai.
Mayoritas pesantren-pesantren itu berdiri mandiri, kokoh dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada,” katanya. Muhaimin akan mendorong pesantren melakukan transformasi untuk meningkatkan kualitas pengelolaannya. Cak Imin menyebut penggabungan atau merger dapat dipertimbangkan bagi pesantren yang dinilai kurang efektif agar pengembangan kualitas dapat lebih terarah.
“Di hari santri ini jadikan momentum untuk berbenah. Kalau perlu yang kelihatannya tidak efektif, [bisa] di-merger, misalnya gitu. Sehingga jumlah 40.000 itu nanti kita dorong untuk menjadi pesantren-pesantren yang berkualitas,” ujarnya.
Dikesempatan yang sama, Muhaimin juga mendorong keterlibatan pesantren dan masyarakat adat dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurutnya, sejumlah pesantren telah berperan dalam menjaga lingkungan sehingga potensinya perlu dilibatkan dalam upaya perlindungan hutan. “Saya ingin Pemda, pemerintah pusat, kementerian lingkungan hidup, kehutanan, melibatkan pesantren di dalam menjaga hutan, melibatkan masyarakat adat dalam menjaga hutan,” ujarnya.*****