Dan hari ini 98 Tahun Lalu, Telah Diikrarkan Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Indonesia
Jakarta - Spektroom: Menuju satu abad Sumpah Pemuda pada 2028, kita memiliki waktu untuk membuktikan bahwa ikrar 1928 tetap hidup dan relevan. Generasi terdahulu telah mewariskan gagasan tentang Indonesia yang bersatu.
Kini, tugas kita adalah mengisi persatuan itu dengan pendidikan yang lebih baik, ekonomi yang inklusif, demokrasi yang sehat, dan kesempatan yang adil bagi seluruh anak bangsa.
Bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan apabila generasi muda dipersiapkan dengan keterampilan, karakter, dan daya saing. Tanpa itu, besarnya populasi usia produktif justru dapat berubah menjadi beban sosial dan ekonomi.
Disisi lain, semangat Sumpah Pemuda perlu diterjemahkan ke dalam tindakan sederhana tetapi berdampak. Pemuda dapat berkontribusi dengan menciptakan lapangan kerja, mengembangkan usaha lokal, meningkatkan literasi digital, menjaga lingkungan, melawan korupsi, dan menghormati perbedaan.
Bahasa Indonesia harus tetap menjadi jembatan persatuan, tanpa membuat kita melupakan bahasa daerah sebagai kekayaan budaya. Kemajuan teknologi pun semestinya digunakan untuk memperluas manfaat bagi masyarakat, bukan sekadar mengejar popularitas atau keuntungan pribadi.
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 merupakan tonggak penting dalam perjalanan pembentukan identitas nasional Indonesia. Melalui ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, para pemuda menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang tidak harus menjadi penghalang untuk membangun cita-cita bersama.
Pada masa itu, Indonesia belum merdeka. Para pemuda hidup dalam situasi kolonialisme dan menghadapi berbagai keterbatasan. Akan tetapi, mereka mampu melihat masa depan yang lebih besar daripada kepentingan kelompok dan daerah masing-masing. Mereka menyadari bahwa perjuangan yang terpecah akan sulit mewujudkan kemerdekaan.
Jika generasi muda tahun 1928 berjuang menghadapi kolonialisme, generasi muda tahun 2026 menghadapi tantangan yang berbeda. Mereka hidup dalam dunia digital yang bergerak cepat, perkembangan kecerdasan buatan, persaingan ekonomi global, perubahan pola kerja, serta arus informasi yang tidak selalu dapat dipertanggungjawabkan.
Teknologi membuka kesempatan besar bagi pemuda untuk belajar, berinovasi, membangun usaha, mengembangkan kreativitas, dan memperluas jaringan kolaborasi. Namun, teknologi juga membawa tantangan berupa penyebaran hoaks, perundungan digital, ujaran kebencian, polarisasi, dan kecenderungan menilai persoalan secara dangkal.
Kecakapan digital harus berjalan bersama dengan etika, tanggung jawab, dan kesadaran kebangsaan. Kebebasan berekspresi perlu disertai penghormatan terhadap martabat sesama. Perbedaan pandangan tidak boleh menjadi alasan untuk menyebarkan kebencian, sementara kritik seharusnya disampaikan secara argumentatif dan bertanggung jawab.
Presiden Prabowo Subianto, dalam pesan peringatan Sumpah Pemuda , mengingatkan bahwa perjuangan para pemuda terdahulu harus dilanjutkan melalui ilmu pengetahuan, kejujuran, disiplin, dan kerja keras.
Pesan tersebut menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah garis akhir perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab untuk mewujudkan masyarakat yang maju, modern, dan sejahtera.
Para pemuda yang dahulu memperjuangkan persatuan dan kemerdekaan kini menjadi teladan bagi generasi penerus untuk mengisi kemerdekaan melalui tindakan nyata. Tantangan zaman memang berubah, tetapi nilai perjuangannya tetap sama: mencintai Indonesia dan bekerja untuk masa depannya.
Bahkan Menpora Erik Tohir mengingatkan bahwa 98 tahun lalu, para pemuda Indonesia telah mengikrarkan janji yang menyatukan perbedaan, menguatkan perjuangan, serta meneguhkan tekad untuk berdiri sebagai satu bangsa, yaitu Indonesia.
Menurutnya, kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, kecanggihan teknologi, maupun kekayaan, tetapi juga dari kualitas manusia, karakter, kecintaan terhadap tanah air, semangat pantang menyerah, dan kepedulian terhadap sesama.
Dan hari ini 98 Tahun Lalu, Telah Diikrarkan Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Indonesia. (@Ng) Diangkat dari berbagai sumber