Dari Kamar 3x3 Meter Menuju Pasar Global
Semarang-Spektroom : Di sudut kawasan Mangkang Wetan, Semarang, terdapat sebuah kamar sederhana berukuran 3x3 meter.
Tidak ada yang istimewa dari ruangan itu pada tahun 2012. Hanya sebuah kamar sempit yang kemudian diisi tiga mesin jahit dan harapan besar dua kakak beradik yang ingin mengubah nasib.
Dari ruangan itulah perjalanan PT Moko Garment Indonesia dimulai.
Budi Turmoko dan adiknya, Ryan Muhammad, sama sekali bukan berasal dari dunia garmen. Mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan menjahit, bahkan mengoperasikan mesin jahit pun belum mampu.
Namun keterbatasan itu tidak menghentikan keberanian mereka untuk memulai usaha.
Modal awal yang mereka miliki hanya Rp5 juta, hasil penjualan Vespa kesayangan milik Budi. Uang tersebut digunakan membeli dua mesin jahit, sementara satu mesin lainnya diperoleh melalui sistem pembayaran tempo dari sebuah toko.
“Kami benar-benar mulai dari nol. Menjahit tidak bisa, pengalaman garmen juga tidak punya,” kenang Ryan.
Ide membangun usaha produksi sendiri lahir dari pengalaman Budi saat masih kuliah dan menjalankan bisnis advertising. Saat itu banyak pekerjaan produksi harus diserahkan kepada pihak lain. Sayangnya, hasil yang diterima sering tidak sesuai harapan, baik dari sisi kualitas maupun ketepatan waktu.
Keinginan untuk mengendalikan kualitas produk akhirnya mendorong mereka membangun lini produksi sendiri. Mereka merekrut tenaga profesional, belajar memahami industri secara perlahan, lalu menyusun sistem kerja yang terus berkembang hingga sekarang.
Hari-hari awal bukanlah masa yang mudah. Ryan masih mengingat bagaimana dirinya berkeliling menawarkan kerja sama ke berbagai perusahaan. Tak jarang ia ditolak bahkan sebelum sempat menjelaskan produknya.
“Belum sempat pegang pintu kantor saja sudah ditolak,” ujarnya sambil tersenyum mengenang masa-masa sulit tersebut.
Namun penolakan demi penolakan justru menjadi bahan bakar untuk terus bertahan. Mereka mulai fokus pada satu bidang yang diyakini memiliki masa depan, yakni produksi seragam dan workwear premium. Keputusan itu menjadi titik balik yang mengubah arah perusahaan.
Empat belas tahun kemudian, usaha yang lahir dari kamar sempit itu telah berkembang menjadi perusahaan garmen dengan kapasitas produksi sekitar 10 ribu potong pakaian setiap bulan. Lebih dari 90 tenaga kerja kini terlibat dalam operasional perusahaan.
Tak hanya membuka lapangan pekerjaan, usaha Garmentnya juga aktif memberdayakan masyarakat sekitar. Perusahaan menyelenggarakan pelatihan menjahit gratis, menerima siswa SMK magang, hingga membangun sistem pembelajaran yang mengenalkan peserta pada dunia industri modern secara menyeluruh.
Produk mereka kini tidak hanya beredar di berbagai daerah Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Pasar internasional pun mulai terbuka. Seragam buatan Moko telah dikirim ke Malaysia, Singapura, Timor Leste, Taiwan hingga Cyprus.
Meski bisnis terus berkembang, Ryan menegaskan bahwa nilai utama perusahaan tidak pernah berubah. Sebagian keuntungan rutin disalurkan untuk santunan anak yatim, sementara kegiatan kurban perusahaan diperuntukkan bagi para karyawan.
Di tengah persaingan industri yang semakin ketat, mereka memilih bertumbuh dengan cara yang sederhana: menjaga kualitas, menghargai manusia, dan terus berbuat baik.
Dari sebuah kamar berukuran 3x3 meter, mimpi yang dulu tampak mustahil kini menjelma menjadi kenyataan. Kisah Budi Turmoko dan Ryan Muhammad membuktikan bahwa perusahaan besar tidak selalu lahir dari gedung megah. Kadang, ia tumbuh dari ruang kecil yang dipenuhi keberanian untuk memulai. (kar)