JASMERAH dari Negeri Bekas Penjajah: Ketika Eropa Merawat Ingatan, Kita Justru Melupakannya

JASMERAH dari Negeri Bekas Penjajah: Ketika Eropa Merawat Ingatan, Kita Justru Melupakannya
Syafaruddin Daeng Usman Di depan Rijkmuseum Amsterdam Netherlands Belanda. (Foto : Dok Pribadi)

Oleh: Syafarudin Daeng Usman.

Harlem Belanda-Spektroom : Di tengah derasnya arus digital yang mengubah hampir seluruh cara manusia berkomunikasi, sebuah pemandangan sederhana justru memantik renungan panjang.

Di sudut-sudut kota tua di Italia, mulai dari Milan hingga Roma, masih berdiri kokoh bilik-bilik telepon koin.

Benda yang bagi sebagian masyarakat Indonesia mungkin hanya tersisa dalam album kenangan itu, ternyata tetap dipertahankan dan dirawat.

Bukan karena teknologi mereka tertinggal, melainkan karena mereka memahami satu hal penting: sejarah adalah bagian dari identitas yang tidak boleh diputus.

Ironisnya, di negara-negara yang menjadi pusat kemajuan teknologi dunia, jejak masa lalu justru dijaga dengan penuh penghormatan.

Sementara di Indonesia, termasuk di Pontianak, telepon koin yang pernah menjadi simbol modernitas pada masanya kini nyaris tak meninggalkan bekas. Generasi muda bahkan mungkin tidak pernah mengenalnya.

Pemandangan itulah yang terus terbayang dalam perjalanan hampir dua pekan menyusuri sejumlah kota di Eropa, terutama Belanda.

Di sela berbagai aktivitas, waktu banyak dihabiskan mengunjungi museum, perpustakaan, hingga toko-toko buku tua yang menyimpan ribuan dokumen berusia ratusan tahun.

Di Rijksmuseum, Amsterdam, maupun sejumlah pusat perdagangan buku kuno di Haarlem dan kota-kota lainnya, sejarah tidak sekadar disimpan. Ia dirawat, dipelajari, dan dijadikan fondasi untuk memahami masa depan.

Bagi peneliti dan pegiat sejarah Kalimantan Barat, tempat-tempat seperti itu menghadirkan pengalaman yang tak ternilai.

Banyak dokumen, foto, peta, arsip perdagangan, hingga catatan kolonial yang menyimpan potret Kalimantan Barat dan Pontianak tempo dulu masih terpelihara dengan baik di negeri bekas penjajah tersebut.

Lembaran-lembaran kertas yang telah menguning dimakan usia itu memang tidak mampu berbicara.

Namun di balik diamnya, tersimpan begitu banyak cerita tentang perjalanan sebuah daerah, masyarakat, dan peradaban.

Pertanyaannya kemudian, sejauh mana kita sendiri menghargai warisan sejarah yang kita miliki?

Sering kali pelestarian sejarah berhenti pada sebatas apresiasi dan seremoni. Kita memuji pentingnya arsip, mengagumi bangunan tua, atau berbicara tentang nilai sejarah dalam berbagai forum. Namun langkah nyata untuk menyelamatkan dan merawatnya masih jauh dari memadai.

Padahal menjaga sejarah bukan sekadar mengumpulkan benda-benda lama. Lebih dari itu, sejarah adalah upaya mempertahankan memori kolektif sebuah bangsa agar tidak tercerabut dari akar identitasnya.

Dari Haarlem, Belanda, sebuah pelajaran sederhana terasa begitu kuat. Melestarikan masa lalu tidak cukup dengan basa-basi atau slogan.

Dibutuhkan kerja nyata, kepedulian, dan kemauan untuk merawat setiap jejak yang masih tersisa.

Sebab ketika sebuah bangsa kehilangan ingatannya, sesungguhnya ia sedang kehilangan sebagian dari dirinya sendiri.

Pesan Bung Karno yang terkenal itu kembali menemukan relevansinya di tengah perjalanan ini: JASMERAH-Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.
Karena sejarah bukan hanya untuk dikenang. Ia harus dirawat, dijaga, dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar perjalanan bangsa tidak pernah kehilangan arah.

Berita terkait

Hadiri Syukuran Gereja Toraja di Batam, Nyanyang Haris Puji Toleransi Kepri

Hadiri Syukuran Gereja Toraja di Batam, Nyanyang Haris Puji Toleransi Kepri

Batam - Spektroom : Wakil Gubernur Kepulauan Riau (Kepri), Nyanyang Haris Pratamura, menghadiri perayaan Syukuran Tahunan Gereja Toraja Jemaat Batam Center di Gedung Sosialisasi Tongkonan Batam, Sabtu (8/8/2026). Dalam sambutannya, Nyanyang menyampaikan bahwa perayaan syukur tahunan ini merupakan momentum penting untuk memperkuat kehidupan rohani sekaligus mempererat tali persaudaraan antarumat

Desmawati, Heriyoko