Dari Layar Kambri ke Canberra: Menjadikan Sinema Indonesia Senjata Diplomasi yang Memikat
Oleh :Heriyoko -Jurnalis Spemtroom
Jakarta - Spektroom : Sinema nasional membuktikan tajinya di panggung internasional. Melalui perhelatan Festival Film Indonesia ke-2 (FFIC ke-2) di Kambri Theater, Universitas Nasional Australia (ANU), KBRI Canberra berhasil memukau 800 penonton dari berbagai latar belakang
Bukan sekadar hiburan, festival ini menegaskan film sebagai instrumen soft power yang sangat kuat. Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI, Heru Hartanto Subolo menekankan bahwa film lebih dari sekadar ekspresi budaya maupun penggerak ekonomi kreatif. Sinema adalah aset diplomasi powerful untuk mempererat hubungan antarnegara lewat pertukaran narasi budaya yang autentik.
Sepanjang rangkaian acara pada 16-17 Mei dan 23 Juni 2026, antusiasme publik Australia terlihat sangat tinggi. Mulai dari kalangan akademisi, diplomat, hingga pelajar memadati gedung teater.
Sesi pembukaan menayangkan docudrama "12 Mile: Guiding the Archipelago" yang membahas perjuangan diplomatik Prof. Mochtar Kusumaatmadja. Diskusi interaktif ini menghadirkan pakar hukum dan akademisi dari Unpad serta ANU, membedah pentingnya sejarah kemaritiman bagi pemahaman lintas generasi.
Puncak acara pada 23 Juni terasa lebih istimewa dengan hadirnya lebih dari 100 siswa Secondary School setempat. Melalui dukungan BPPB Kemendikdasmen, mereka menonton karya sineas Tanah Air sembari belajar Bahasa Indonesia. Film-film pilihan seperti "Jumbo", "Losmen Bu Broto", "Mata Tertutup", "KKN di Desa Penari", "Kulari ke Pantai", hingga "Humba Dreams" terbukti mampu menjembatani pemahaman budaya antar-bangsa.
Tantangan di Rumah Sendiri: Mengapa Gen Z Lebih Melirik Drakor?
Di tengah gegap gempita apresiasi karya anak bangsa di luar negeri, ironi justru terjadi di dalam negeri. Generasi Z Indonesia saat ini tampak lebih gandrung pada Drama Korea (Drakor) dan budaya populer asing lainnya. Mengapa fenomena ini terjadi?
Fenomena ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor akses, kemasan cerita, dan tren. Drama Korea sering kali menampilkan production value yang tinggi, cerita dengan plot twist yang relevan dengan kehidupan anak muda, serta dukungan pemasaran digital yang masif di platform global.
Selain itu, fenomena Fear of Missing Out (FOMO) juga memainkan peran besar. Ketika sebuah tayangan menjadi perbincangan global di media sosial, Gen Z secara natural akan ikut mengonsumsinya agar tetap merasa terhubung dengan tren sosial saat ini.
Namun, bukan berarti film Indonesia kalah kualitas. Karya-karya pemenang penghargaan seperti "Humba Dreams" atau "Losmen Bu Broto" memiliki kedalaman filosofis dan visual yang tak kalah bersaing. Kunci utamanya adalah strategi distribusi yang lebih dekat dengan gaya hidup Gen Z, serta penulisan skenario yang berani keluar dari zona nyaman dan lebih dekat dengan isu-isu keseharian anak muda.
Keberhasilan FFIC ke-2 di Canberra menunjukkan bahwa jika dikemas dengan tepat, film Indonesia memiliki daya tarik universal. Langkah strategis ini membuktikan bahwa sinema adalah jembatan diplomasi terbaik yang bisa dicintai oleh siapa saja, dari berbagai penjuru dunia.(**).