Dari Nadi Belantara, RRI Mengudara Hingga Ke Batas Negri

Dari Nadi Belantara, RRI Mengudara Hingga Ke Batas Negri
Flyer Spektroom (Repro Chatgpt).

Jakarta - Spektroom: Radio rimba raya atau yang kita kenal dengan Radio perjuangan memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia, terutama pada masa perjuangan kemerdekaan.

Radio digunakan sebagai sarana penangkis berita-berita propaganda musuh yang terus berusaha melemahkan semangat para pejuang bangsa, Serta menjadi alat komunikasi yang tidak diragukan lagi dan menjadi sarana untuk menyebarkan informasi, menggalang semangat perjuangan, dan mengkoordinasikan gerakan-gerakan perlawanan terhadap penjajah.

Radio menjadi alat tercepat dan tersingkat di masa itu dalam memberikan tuntunan, pemberitahuan dan perintah kepada rakyat. Maka dari itu tumbuh pemikiran untuk menguasai radio demi kepentingan pemerintah Republik Indonesia yang sebelumnya dikuasai oleh Jepang, juga untuk membentuk sebuah organisasi radio nasional.

Disepakatilah untuk membuat sebuah konferensi para wakil dari stasiun-stasiun radio yang ada di Jawa untuk berkumpul di Jakarta pada tanggal 10 September 1945.

Para tokoh yang berkecimpung di bidang radio yang datang dalam pertemuan ini antara lain Adang Kadarusman, Jusuf Ronodipuro, Suryodipuro, Sukasmo, Syawal Mochtarudin, dan Tjatja dari studio Jakarta.

Selanjutnya dari studio Bandung hadir Sakti Alamsyah, R.A Darya, dan Agus Marah Sutan, sedangkan dari stasiun radio Yogyakarta Sumarmadi dan Sudomomarto, dari studio Surakarta hadir Maladi dan Sutardi Hardjolukito, dari studio semarang hadir Suhardi dan Harto, dan dari studio Purwokerto hadir Sutardjo.

Rapat dipimpin Dr. Abdulrachman Saleh, kemudian hasil rapat tersebut didelegasikan kepada Menteri Sekretariat Negara, Mr. A.G Pringgodigdo.

Berawal dari kalimat pegawai Radio dan berjuang bersama rakyat untuk Republik Indonesia. Terjadilah kesepakatan menghimpun radio yang ada saat itu menjadi Radio Republik Indonesia (RRI) adalah badan nasional penyiaran radio yang bersifat persatuan, dengan Jakarta sebagai kantor pusat sementara dan studio-studio di daerah sebagai cabang-cabangnya yang bertanggung jawab atas segala penyiaran di daerah masing-masing.

Pada 11 September ditetapkan sebagai hari berdirinya RRI. Dr Abdulrachman Saleh ditetapkan sebagai pemimpin umum RRI Studio-studio radio di Jakarta dan Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya, dan Malang sebagai cabang-cabang RRI yang pertama.

Semua yang hadir dalam rapat tersebut merupakan pegawai RRI yang pertama.

Nawala "RRI Hingga ke Batas Negeri" merupakan program unggulan dari Radio Republik Indonesia (RRI) yang fokus menyiarkan informasi, nasionalisme, dan hiburan ke wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) di seluruh pelosok Indonesia.

Program ini menjadi jembatan informasi untuk menjaga kedaulatan negara dan menghubungkan masyarakat di perbatasan dengan pusat informasi nasional.

Radio sebagai Media yang Terus Beradaptasi

Eksistensi radio hingga saat ini tidak dapat dilepaskan dari kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan lanskap komunikasi.

Berbeda dengan anggapan umum bahwa radio merupakan media yang mulai ditinggalkan, kenyataannya banyak lembaga penyiaran radio yang justru bertransformasi dengan memanfaatkan platform digital sebagai perpanjangan kanal siarannya.

Transformasi ini terlihat jelas pada RRI sebagai lembaga penyiaran publik nasional yang bersifat independen, netral, dan tidak komersial sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran serta Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2005 tentang Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia.

RRI, yang didukung oleh jaringan siaran nasional lebih dari 90 stasiun di seluruh Indonesia, tidak lagi bertumpu semata pada siaran radio konvensional.

Pengembangan platform digital, salah satunya melalui aplikasi RRI Digital yang telah diunduh lebih dari 100.000 kali melalui Google Play Store, menjadi bukti nyata bahwa lembaga penyiaran publik ini berupaya menjangkau audiens yang perilakunya semakin mengandalkan media digital.

Langkah adaptasi tersebut menegaskan bahwa relevansi radio di era kini tidak lagi ditentukan oleh medium siarannya semata, melainkan oleh kemampuan lembaga penyiaran dalam mengintegrasikan siaran konvensional dengan ekosistem digital secara menyeluruh.

Tetaplah menjadi RRI yang setia melayani informasi hingga ke batas negeri.

(Diangkat dari berbagai sumber)

Berita terkait

Lima Mahasiswa UMJ, Lima Gelar Juara: Ketika Keringat dan Perjuangan Berbuah Prestasi

Lima Mahasiswa UMJ, Lima Gelar Juara: Ketika Keringat dan Perjuangan Berbuah Prestasi

Jakarta-Spektroom : Gemuruh pertandingan di GOR Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada akhir Agustus lalu menjadi saksi perjuangan para atlet muda dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Di tengah persaingan karate yang mempertemukan atlet dari berbagai daerah, lima mahasiswa UMJ tampil gemilang. Mereka bukan sekadar ikut bertanding, tetapi pulang membawa lima gelar Juara

Irvan Idris Saleh, Julianto