Dari Perang Dunia ke Lapak Sayur: Cerita Bibik Sritinah di Pontianak

Dari Perang Dunia ke Lapak Sayur: Cerita Bibik Sritinah di Pontianak
Sayur hutan Pakis merah (lembiding) di lapak pasar Ibu Sungai Jawi Pontianak. (Foto: Apolo/Spektroom)

Pontianak-Spektroom : Riuh percakapan di Pasar Ibu, Sungai Jawi, Kota Pontianak, pada pagi hari itu terdengar seperti biasanya.

Suara tawar-menawar pembeli bercampur dengan aroma sayur segar yang baru datang dari hutan.

Namun di balik rutinitas itu, ada cerita lain yang tak terlihat: kisah tentang bagaimana gejolak dunia jauh di seberang sana perlahan merambat hingga ke lapak sederhana milik seorang penjual sayur bernama Sritinah.

Di lapaknya yang sederhana, bibik Sritinah menata ikatan pakis merah atau yang oleh sebagian orang disebut lembiding, pakis hijau, rebung bambu, daun singkong, hingga cendawan hutan.

Rebung bambu salah satu jenis sayuran yang diminati. (Foto: Apolo/Spektroom)

Sayuran ini bukan hasil kebun modern atau pertanian intensif. Sebagian besar dipetik langsung dari hutan oleh para pencari sayur liar, lalu dibawa ke pasar untuk dijual.

“Semua sayur naik pak,” ujar Sritinah sambil merapikan ikatan pakis di atas meja kayu kecilnya.

Kenaikan harga memang tidak terlalu mencolok jika dilihat sekilas, tetapi cukup terasa bagi pembeli setia di pasar tradisional.

Pakis hutan yang sebelumnya dijual Rp5.000 per ikat kini menjadi Rp10.000. Rebung bambu yang biasanya Rp8.000 per kilogram melonjak menjadi Rp15.000.

Sementara cendawan atau kulat hutan yang dahulu hanya Rp5.000 per bungkus kini ikut naik menjadi Rp10.000.

Bagi sebagian orang, kenaikan harga itu mungkin terlihat kecil. Namun bagi pedagang kecil seperti Sritinah, perubahan tersebut menyimpan cerita panjang tentang biaya, perjalanan, dan kondisi ekonomi yang ikut berubah.

Menurutnya, salah satu penyebab naiknya harga sayuran hutan adalah ongkos pengambilan barang dari lokasi yang semakin mahal.

“Ambil sayurnya jauh pak, pakai sepeda motor. Bensin banyak habis,” katanya.

Perjalanan menuju lokasi sayur liar biasanya menembus jalan tanah, kebun, hingga pinggir hutan.

Saat hujan turun, jalan berubah licin dan sulit dilalui. Ketika panas menyengat, perjalanan tetap harus ditempuh demi membawa pulang sayuran segar untuk dijual di pasar.

Belum lagi kabar yang belakangan sering ia dengar dari sesama pedagang maupun pelanggan.

“Kata orang bensin sekarang susah dapatnya, harus antre. Harganya juga mulai naik gara-gara ada perang,” ujar Sritinah.

Perang yang dimaksud memang terjadi jauh dari Pontianak, bahkan ribuan kilometer dari Kalimantan Barat.

Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran disebut-sebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.

Dampaknya terasa hingga ke sektor ekonomi global, termasuk harga minyak yang menjadi salah satu faktor penentu biaya transportasi.

Meski terdengar jauh, efeknya perlahan merambat hingga ke pasar tradisional.

Biaya perjalanan yang meningkat membuat para pencari sayur hutan menaikkan harga jualnya kepada pedagang.

Pedagang kemudian menyesuaikan harga agar tetap bisa memperoleh keuntungan kecil untuk bertahan.

Secara ekonomi, kenaikan harga barang dagangan memang tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan barang.

Biaya distribusi, transportasi, hingga energi menjadi komponen penting dalam menentukan harga akhir di pasar.

Menariknya, sayuran seperti pakis, rebung, atau cendawan hutan sebenarnya bukan hasil budidaya perkebunan khusus.

Tanaman tersebut tumbuh liar di alam dan bisa dipetik bebas. Namun tetap saja, ongkos perjalanan untuk mengambilnya menjadi faktor utama yang mempengaruhi harga.

Fenomena ini mengingatkan pada komoditas lain yang kerap memicu gejolak harga di Indonesia, seperti cabai.

Ketika harga cabai melonjak, dampaknya bisa terasa hingga ke tingkat inflasi nasional.

Di Pontianak sendiri, menjelang Idul Fitri harga kebutuhan pokok masyarakat relatif masih stabil.

Meski beberapa komoditas mulai bergerak naik, lonjakannya belum terlalu signifikan.

Namun bagi bibik Sritinah dan pedagang kecil lainnya, perubahan kecil itu tetap terasa.

Di balik ikatan pakis dan rebung yang tersusun rapi di lapaknya, ada cerita tentang perjalanan jauh, harga bensin, cuaca yang tak menentu, hingga riak ekonomi dunia yang tanpa disadari ikut singgah di meja sayur pasar tradisional.

(Feature oleh: Apolo Welly)

Berita terkait

Rembang Terapkan Metode PM-AAS, Produktivitas Padi Berpotensi Naik Jadi 10 Ton per Hektare

Rembang Terapkan Metode PM-AAS, Produktivitas Padi Berpotensi Naik Jadi 10 Ton per Hektare

Rembang-Spektroom: Pemerintah Kabupaten Rembang mendukung akselerasi Gerakan Tanam Padi Bersama se-Jawa Tengah melalui penerapan metode Pertanian Modern Advanced AgricuSSltural System (PM-AAS). Metode tersebut diharapkan mampu meningkatkan populasi tanaman sekaligus mendorong produktivitas padi. Penerapan PM-AAS dilakukan di lahan pertanian Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori, Selasa (15/9/2026). Wakil Bupati Rembang H.

Sigit Budi Riyanto, Buang Supeno
Menko Polkam Turun ke Kalbar, Kapolda dan Forkopimda Perkuat Strategi Hadapi Karhutla

Menko Polkam Turun ke Kalbar, Kapolda dan Forkopimda Perkuat Strategi Hadapi Karhutla

Pontianak - Spektroom : Pemerintah pusat memperkuat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat yang dalam beberapa pekan terakhir menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi di Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) RI memimpin langsung Rapat Koordinasi (Rakor) penanganan dan penanggulangan karhutla di

Apolonius Welly, Buang Supeno
UMJ Luncurkan I-CHIP, Dorong Kebijakan Kesehatan Berbasis Riset

UMJ Luncurkan I-CHIP, Dorong Kebijakan Kesehatan Berbasis Riset

Jakarta — Spektroom : Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) meluncurkan Institute for Community Health and Innovation Policy (I-CHIP) melalui Seminar Nasional bertema “Kedaulatan Kesehatan: Akselerasi Transdisiplin Menuju Kebijakan yang Berbasis dan Berkeadilan” di Gedung Cendekia UMJ, Selasa (15/9/2026). Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat menjadi salah

Irvan Idris Saleh, Buang Supeno
ссс