Dari Ruang Sunyi Menuju Keberanian: Cara Puskesmas Sebangkau Membantu Remaja Bangkit dari Perundungan
Sambas-Spektroom: Tidak semua luka terlihat. Di balik tawa para pelajar, ada yang menyimpan kecemasan, takut datang ke sekolah, hingga kehilangan rasa percaya diri karena menjadi korban perundungan.
Sebagian memilih diam, memendam semuanya sendirian.
Kondisi itulah yang mendorong Puskesmas Sebangkau, Kabupaten Sambas, menghadirkan inovasi "Mencegah Bullying dan Kekerasan dengan Remaja Tangguh" (MBAK RT).
Program ini bukan sekadar mengajak remaja berbicara tentang perundungan, tetapi memberi mereka ruang aman untuk didengar, dipahami, dan belajar bangkit.
Menurut ketua tim MBAK RT puskesmas Sebangkau, Kabupaten Sambas, dokter Nelly, dalam delapan kali pertemuan, para siswa diajak mengenali emosi, berbagi pengalaman, mengikuti permainan peran, hingga mempraktikkan teknik relaksasi sederhana untuk mengendalikan kecemasan.
Tidak ada cap sebagai "anak bermasalah". Semua peserta diperlakukan sebagai remaja yang sedang belajar memahami dirinya sendiri.
"Pendekatan tersebut terbukti membawa perubahan. Selama 2025–2026, sebanyak 508 siswa mengikuti program ini." ujar dr.Nelly.

Hasil evaluasi menunjukkan jumlah siswa yang mengalami indikasi gangguan emosional menurun dari 182 orang menjadi 138 orang. Gejala kecemasan dan depresi ringan hingga sedang juga berkurang setelah mengikuti rangkaian pendampingan.
Bagi para pendamping, keberhasilan terbesar bukan sekadar angka statistik, melainkan ketika seorang siswa yang sebelumnya enggan berbicara mulai berani mengungkapkan perasaannya, atau ketika korban perundungan kembali percaya diri untuk bergaul dengan teman-temannya.
Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Sambas. Melalui Surat Keputusan Bupati Sambas, MBAK RT resmi ditetapkan sebagai salah satu inovasi daerah yang akan terus dikembangkan sebagai upaya memperkuat kesehatan mental remaja di lingkungan sekolah.
Puskesmas Sebangkau pun terus menyempurnakan pelaksanaannya. Jadwal pertemuan kini dirancang lebih berdekatan, disertai sesi susulan singkat bagi peserta yang berhalangan hadir agar tidak ada materi penting yang terlewat.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental remaja, MBAK RT menunjukkan bahwa mencegah perundungan tidak cukup hanya dengan memberi sanksi kepada pelaku.
"Yang tak kalah penting adalah memastikan setiap anak memiliki tempat yang aman untuk bercerita, memperoleh dukungan, dan kembali percaya bahwa mereka mampu menghadapi tantangan. " tambah dr.Nelly.
Dari ruang-ruang kecil tempat mereka belajar mengenali emosi, lahirlah harapan akan generasi yang lebih tangguh, saling peduli, dan bebas dari perundungan.