Dari Sungai Kahayan ke Panggung Dunia, Jejak Abadi Subandi S. Musan

Dari Sungai Kahayan ke Panggung Dunia, Jejak Abadi Subandi S. Musan
Koleksi medali cabang dayung yang diraih Subandi S. Musan. (Foto: Dok. KONI KTG)

Palangka Raya-Spektroom: Sungai-sungai di Kalimantan Tengah menjadi saksi awal perjalanan panjang Subandi S. Musan mengayuh cita-cita. Dari aliran Sungai Kahayan yang membesarkan semangatnya sebagai atlet, ia kemudian membawa nama daerah dan Indonesia hingga ke panggung olahraga dunia.

Kini, sosok yang dikenal sebagai legenda dayung Kalimantan Tengah itu telah berpulang. Subandi S. Musan mengembuskan napas terakhir pada Minggu malam (14/6/2026) pukul 22.36 WIB setelah berjuang melawan sakit selama tujuh bulan terakhir. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, insan olahraga, dan para atlet yang pernah merasakan sentuhan pembinaan darinya.

"Setelah bertahan tujuh bulan dari sakitnya, akhirnya Pak Subandi dipanggil Pencipta dengan damai," ujar Ketua KONI Kalimantan Tengah Rahmat Hidayat, Senin (15/6/2026).

Almarhum meninggal dunia di kediamannya di Jalan Yos Sudarso V Nomor 100 A Palangka Raya. Sebelumnya, ia sempat menjalani perawatan intensif di RS Suaka Insan Banjarmasin sejak akhir Desember 2025 sebelum akhirnya menjalani perawatan di rumah.

Bagi dunia olahraga Kalimantan Tengah, Subandi bukan sekadar mantan atlet peraih medali emas. Ia adalah simbol ketekunan dan kebanggaan daerah yang berhasil mengangkat nama Bumi Tambun Bungai ke tingkat nasional hingga internasional.

Kariernya di cabang olahraga dayung telah mengukir sejarah panjang. Sejak era Pekan Olahraga Nasional (PON) VIII tahun 1973, Subandi menjadi salah satu atlet andalan Kalimantan Tengah yang konsisten menyumbangkan prestasi. Namanya semakin dikenal ketika meraih medali emas pada Kejuaraan Nasional Dayung di Kendari tahun 1986 pada nomor Kayak 2 bersama pasangannya, Benson.

Prestasi itu menjadi pintu menuju panggung internasional. Bersama Tim Nasional Indonesia, Subandi sukses meraih medali emas pada Kejuaraan Dunia Dragon Boat di Hong Kong dan kejuaraan internasional di Brunei Darussalam. Puncaknya, ia turut mengharumkan nama bangsa dengan meraih medali emas pada SEA Games 1987 di Jakarta.

Dedikasi dan prestasinya mendapat pengakuan dari negara. Berdasarkan catatan KONI Kalimantan Tengah, Subandi menerima penghargaan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia atas kontribusinya dalam mengharumkan nama Indonesia melalui olahraga.

Namun bagi banyak atlet muda, warisan terbesar Subandi bukanlah medali yang pernah diraihnya. Warisan itu justru lahir dari kesediaannya membimbing dan membina generasi penerus setelah gantung dayung.

Setelah mengakhiri karier sebagai atlet, Subandi tetap mengabdikan hidupnya untuk olahraga yang dicintainya. Ia dipercaya menjabat Kepala Bidang Pembinaan Prestasi Pengurus Provinsi Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Kalimantan Tengah serta menjadi Koordinator Pelatih Dayung Kalimantan Tengah pada dua edisi PON terakhir.

Dari tangan dinginnya lahir atlet-atlet yang melanjutkan tradisi prestasi dayung Kalimantan Tengah. Ketegasan, disiplin, dan ketulusannya dalam membina atlet menjadi kenangan yang terus hidup di kalangan komunitas olahraga.

Saat menjalani masa-masa kritis akibat sakit yang dideritanya, sejumlah pengurus KONI Kalimantan Tengah sempat menjenguk dan memberikan dukungan moril. Kunjungan itu menjadi bukti besarnya penghormatan insan olahraga kepada sosok yang telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk membangun prestasi daerah.

Ketua Harian KONI Kalimantan Tengah Hasanuddin Noor mengatakan kepergian Subandi merupakan kehilangan besar bagi dunia olahraga Kalimantan Tengah.

"Selamat jalan sang legendaris. Dedikasimu yang membawakan tradisi emas bagi Kalteng dan Indonesia akan selalu hidup di tepi sungai tempat para atletmu mengayuh mimpi," ucap Hasanuddin.

Kini, sang legenda telah berlabuh untuk terakhir kalinya. Namun jejak pengabdiannya tidak akan ikut pergi. Di setiap kayuhan atlet dayung Kalimantan Tengah, pada setiap prestasi yang lahir dari pembinaan yang pernah ia tanamkan, nama Subandi S. Musan akan terus hidup.

Dari Sungai Kahayan hingga panggung dunia, perjalanan itu telah selesai. Tetapi warisan seorang Subandi S. Musan akan terus mengalir sepanjang waktu.
(Polin-Edi)

Berita terkait

DKI Perkuat Pengelolaan Sampah dari Sumber, Pilot Project Digelar di Jagakarsa

DKI Perkuat Pengelolaan Sampah dari Sumber, Pilot Project Digelar di Jagakarsa

Jakarta - Spektroom : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkuat pengelolaan sampah dari sumber melalui sistem pilah, angkut, dan olah. Kebijakan ini diarahkan agar sampah tidak sekadar dikumpulkan dan dibuang, tetapi dipilah sejak dari rumah untuk kemudian dikelola sesuai jenisnya. Langkah tersebut diwujudkan melalui Pilot Project Pengelolaan Sampah Kolaboratif di RW 06,

Irvan Idris Saleh, Bian Pamungkas
Bazar Green Tourism Festival Raup Omzet Rp191,8 Juta, UMKM Jakarta Timur Ketiban Berkah

Bazar Green Tourism Festival Raup Omzet Rp191,8 Juta, UMKM Jakarta Timur Ketiban Berkah

Jakarta-Spektroom : Gelaran Bazar Green Tourism Festival 2026 tidak hanya menghadirkan hiburan dan kampanye wisata berkelanjutan. Kegiatan yang berlangsung di halaman Kantor Wali Kota Jakarta Timur pada 26-27 September 2026 itu juga menjadi ruang promosi dan transaksi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hasilnya cukup menggembirakan. Bazar yang melibatkan

Irvan Idris Saleh, Bian Pamungkas
ссс