Kemenag Sawahlunto Perkuat Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, Guru Diminta Hadirkan Pendidikan yang Memanusiakan
Sawahlunto-Spektroom : Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Sawahlunto memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) melalui pembinaan guru madrasah yang digelar di Aula Kemenag Kota Sawahlunto, Rabu (12/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti kepala madrasah dan guru madrasah se-Kota Sawahlunto. Pembinaan diarahkan untuk memperkuat pemahaman sekaligus praktik KBC agar tidak berhenti sebagai konsep maupun pemenuhan administrasi, tetapi benar-benar menjadi bagian dari budaya pendidikan di madrasah.
Kepala Kantor Kemenag Kota Sawahlunto, Dr. H. Zulkifli, S.Ag., M.M., menekankan bahwa pendidikan membutuhkan kehadiran rasa cinta dalam setiap proses pembelajaran.
Menurut Zulkifli, guru tidak perlu memaksakan dirinya menjadi sama dengan orang lain. Yang lebih penting adalah membangun kesamaan dalam cara berpikir dan menghadirkan pendekatan pendidikan yang berorientasi pada kemanusiaan.
Ia mengajak para pendidik memandang peserta didik sebagai sesama hamba Allah yang harus diperlakukan dengan kasih sayang. Cinta, kata dia, bukan sekadar rasa memiliki, melainkan harus diwujudkan melalui kepedulian dan kesadaran bahwa guru dan peserta didik merupakan bagian dari satu kesatuan dalam proses pendidikan.
“Timbul rasa cinta itu apabila ada rasa, raso pareso. Kita harus menimbulkan rasa kepada peserta didik. Kamu tidak akan pernah sampai jika hanya sebatas ucapan, harus menjiwai,” ujar Zulkifli, mengutip pesan Ali bin Abi Thalib.
Ia menegaskan, penerapan KBC membutuhkan penghayatan dari pendidik. Nilai-nilai cinta tidak cukup hanya disampaikan melalui materi pembelajaran atau nasihat, tetapi harus terlihat dalam sikap, interaksi, bahasa, serta cara guru memperlakukan peserta didik.
Dengan pendekatan tersebut, madrasah diharapkan tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga ruang tumbuh bagi karakter, akhlak, empati, dan kepercayaan diri peserta didik.
Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Provinsi Sumatera Barat, Dr. H. Tan Gusli, S.Fil.I., M.A., M.AP., menyebut Kurikulum Berbasis Cinta sebagai ruh dari kurikulum pendidikan madrasah.
“KBC adalah ruh kurikulum. Jika KBC mampu dihidupkan, akan mampu melahirkan murid berkarakter dan berakhlakul karimah. Tentu dimulai dari mereka yang mengajar di madrasah,” kata Tan Gusli.
Ia mengingatkan agar implementasi KBC tidak terjebak pada aspek administratif. Menurutnya, keberhasilan KBC justru terlihat ketika nilai-nilai cinta telah menjadi kebiasaan dan budaya dalam keseharian warga madrasah.
Perpaduan antara akal dan hati, lanjut Tan Gusli, penting dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kematangan emosional dan karakter.
“Madrasah harus bermutu. Bagaimana bisa maju kalau tidak bermutu, bagaimana bisa mendunia kalau tidak bermutu,” tegasnya.
Tan Gusli juga meminta pengawas madrasah memperkuat fungsi pembinaan. Pengawas, menurut dia, tidak semata-mata bertugas menemukan kekurangan, tetapi harus mampu memberikan solusi, pendampingan, dan penguatan kepada madrasah.
Pesan tersebut menempatkan KBC bukan sekadar sebagai pendekatan pembelajaran, melainkan sebagai upaya membangun ekosistem pendidikan yang lebih manusiawi. Guru dituntut mampu menggabungkan kompetensi profesional dengan kepedulian terhadap kebutuhan dan perkembangan peserta didik.
Pada akhirnya, KBC bukan hanya berbicara tentang apa yang diajarkan, tetapi juga bagaimana peserta didik diperlakukan selama proses belajar. Peserta didik perlu merasakan bahwa dirinya dihargai, dibimbing, dipercaya, sekaligus diarahkan untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.
Melalui penguatan kapasitas guru dan kepala madrasah tersebut, Kemenag Sawahlunto mendorong agar nilai cinta benar-benar hadir dalam praktik pendidikan sehari-hari dan menjadi fondasi bagi lahirnya generasi madrasah yang berpengetahuan, berkarakter, serta berakhlakul karimah. (Ris1)