Dekopinwil NTB Resmi Dilantik, Usung Kolaborasi Besar untuk Bangkitkan Koperasi Modern
Mataram-Spektroom : Pelantikan Pengurus Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (Dekopinwil) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) periode 2025–2030 menjadi titik awal lahirnya semangat baru dalam membangun gerakan koperasi yang lebih modern, inklusif, dan berdaya saing. Prosesi pelantikan yang berlangsung di Mataram, Selasa (21/7/2026), menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat koperasi sebagai pilar ekonomi kerakyatan.
Gubernur NTB dalam sambutannya mengingatkan bahwa pengurus baru tidak memiliki banyak waktu untuk bekerja. Meski masa kepengurusan tercatat untuk periode 2025–2030, pelantikan yang baru terlaksana pada 2026 membuat waktu efektif kepengurusan hanya tersisa sekitar empat tahun.
"Masa jabatannya 2025–2030, tapi dilantik 2026. Secara de facto, waktu yang tersisa tinggal empat tahun. Jadi harus 'lari' karena sudah dapat diskon satu tahun," tegasnya.
Menurut Gubernur, koperasi tetap menjadi soko guru perekonomian nasional, namun perannya belum optimal. Hal itu tercermin dari kontribusi koperasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang masih sekitar 1,7 persen.
Ia menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh tata kelola yang belum profesional dan persepsi masyarakat yang masih memandang koperasi sebagai lembaga ekonomi konvensional. Karena itu, ia meminta kepengurusan baru memprioritaskan pembenahan manajemen organisasi sekaligus membangun kembali citra koperasi agar mampu menarik minat generasi muda.
Ketua Dekopinwil NTB yang baru dilantik, Anis Mudjahid Akbar, menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya akan bergerak dengan pendekatan kolaboratif. Menurutnya, koperasi tidak lagi bisa berkembang jika berjalan sendiri tanpa dukungan berbagai pihak.
"Kita tidak dapat menutup mata terhadap berbagai tantangan, seperti terbatasnya akses pembiayaan, kapasitas manajerial yang belum merata, belum optimalnya transformasi digital, hingga jaringan bisnis dan kemitraan strategis yang belum sepenuhnya terbangun," ujarnya.
Anis menyebut NTB memiliki modal besar karena ribuan koperasi bergerak di sektor pertanian, peternakan, perikanan, perdagangan, pariwisata, hingga ekonomi kreatif. Potensi tersebut, kata dia, harus dihubungkan dengan ekosistem pembiayaan, teknologi, dan pasar agar mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.
Sebagai langkah nyata, Dekopinwil NTB langsung membangun kemitraan dengan berbagai lembaga strategis melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU). Mitra tersebut meliputi Dinas Koperasi NTB, Bank NTB Syariah, OJK, Bank Indonesia, Perum Bulog, LPDB, kalangan akademisi, hingga sektor swasta.
Menurut Anis, kerja sama tersebut akan difokuskan pada penyediaan akses pembiayaan, percepatan digitalisasi koperasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan jaringan usaha anggota.
"Dokumen ini bukan sekadar formalitas. Kami ingin seluruh kerja sama tersebut diwujudkan dalam program-program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh koperasi di seluruh NTB," katanya.
Ia menegaskan, kepengurusan baru berkomitmen menjadikan Dekopinwil NTB sebagai rumah bersama bagi seluruh gerakan koperasi sekaligus jembatan yang menghubungkan kepentingan koperasi dengan pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, dan perguruan tinggi.
Dengan semangat kolaborasi tersebut, Dekopinwil NTB optimistis koperasi di daerah tidak hanya mampu bertahan menghadapi tantangan ekonomi, tetapi juga tampil sebagai motor penggerak ekonomi lokal yang modern, inovatif, dan berkontribusi lebih besar terhadap pembangunan daerah serta kesejahteraan masyarakat.