Di Balik Kelir, Anak-anak Sleman Menjaga Nyala Budaya

Di Balik Kelir, Anak-anak Sleman Menjaga Nyala Budaya
Seorang dalang muda sedang memainkan tokoh wayang dalam kehidupan masyarakat saat ini di Gedung Serba Guna Kabupaten Sleman, Sabtu(9/5/26).Foto: Fatmawati.

Yogyakarta-Spektroom: Di sebuah sudut Gedung Serba Guna Kabupaten Sleman, suara gamelan mengalun pelan. Di depan layar putih kelir, tangan-tangan kecil mulai bergerak lincah memainkan tokoh wayang.

Mata mereka tampak serius, suara mereka mantap menirukan karakter para ksatria, raksasa, dan punakawan. Sabtu (9/5/2026), seni tradisi yang telah hidup ratusan tahun itu menemukan harapan baru pada generasi muda.

Festival Dalang Anak dan Remaja Kabupaten Sleman 2026 resmi dibuka sebagai bagian dari peringatan Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman.

Sebanyak 34 peserta, terdiri atas 17 anak dan 17 remaja dari seluruh kapanewon, berkumpul untuk menunjukkan kemampuan mereka menghidupkan kisah-kisah wayang yang sarat makna.

Wakil Bupati Sleman Danang Maharja membuka Festival Dalang Anak dan Remaja Kabupaten Sleman Foto: Fatmawati.

Bagi sebagian orang, menjadi dalang mungkin terdengar sebagai sesuatu yang kuno. Namun di tangan anak-anak dan remaja Sleman, pedalangan justru tampil segar dan penuh semangat. Mereka tidak sekadar menghafal dialog atau menggerakkan wayang, tetapi juga belajar memahami pesan-pesan tentang kejujuran, keberanian, kesabaran, dan tanggung jawab.

Sekretaris Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Arif Wibowo, mengatakan festival ini bukan hanya kompetisi, melainkan ruang pembinaan dan regenerasi seniman muda.

“Nilai-nilai luhur dalam wayang sangat penting diwariskan kepada generasi muda di tengah derasnya arus teknologi digital,” ujarnya.

Di era ketika anak-anak akrab dengan gawai dan media sosial, pilihan untuk duduk berjam-jam mempelajari lakon wayang menjadi hal yang istimewa. Seni pedalangan menuntut ketekunan, penghayatan, dan kesabaran—karakter yang justru semakin dibutuhkan dalam kehidupan modern.

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menilai para peserta telah menunjukkan dedikasi luar biasa. Menurutnya, seorang dalang bukan hanya pemain pertunjukan, tetapi juga penjaga nilai kehidupan.

“Cerita wayang selalu mengajarkan pencarian kebenaran dan jati diri. Itulah pelajaran penting bagi generasi muda,” katanya.

Festival ini akan berlangsung hingga 12 Mei 2026. Untuk kategori anak digelar pada 9–10 Mei, sedangkan kategori remaja pada 11–12 Mei.

Di balik kelir yang diterangi lampu, generasi penerus budaya itu sedang belajar menyalakan cahaya tradisi. Dari Sleman, mereka membuktikan bahwa wayang tidak hanya milik masa lalu, tetapi juga bagian penting dari masa depan.

Berita terkait

Genjot Indeks Literasi, Dispusip Jember Hadirkan Perpustakaan Keliling di Hari Libur

Genjot Indeks Literasi, Dispusip Jember Hadirkan Perpustakaan Keliling di Hari Libur

Jember - Spektroom: Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Jember terus berkomitmen memperluas akses literasi masyarakat melalui langkah jemput bola. Memanfaatkan momentum akhir pekan, Dispusip Jember kembali menghadirkan layanan perpustakaan keliling di tengah keramaian Car Free Day (CFD) Alun-Alun Jember, pada Minggu (28/06/2026). Layanan inovatif pada hari libur

Budi Sucahyono, Anggoro AP
Eddy Soeparno: Presiden Prabowo Berkomitmen Wujudkan Kemandirian Energi, BloombergNEF Diajak Publikasikan Kemajuan Transisi Energi Indonesia

Eddy Soeparno: Presiden Prabowo Berkomitmen Wujudkan Kemandirian Energi, BloombergNEF Diajak Publikasikan Kemajuan Transisi Energi Indonesia

Jakarta–Spektroom : Komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan kemandirian energi, mempercepat transisi menuju energi bersih, serta memperkuat aksi penanganan perubahan iklim terus menjadi perhatian pemerintah. Upaya tersebut juga diiringi langkah memperkenalkan berbagai kemajuan Indonesia kepada komunitas internasional guna menarik investasi di sektor energi hijau. Hal itu disampaikan Wakil Ketua MPR

Riswan Idris, Rafles