Di Balik Sang Juara Dunia, Ada Doa Seorang Nenek
Imam Qalyubi: Keberhasilan Seorang Anak Selalu Berakar pada Pengorbanan yang Tak Terlihat
Palangkaraya - Spektroom : Di panggung sepak bola dunia, nama Lamine Yamal kini dielu-elukan. Trofi Piala Dunia 2026 menjadi penanda lahirnya generasi baru yang membawa Spanyol menuju puncak kejayaan. Dunia mengenalnya sebagai pemain bertalenta, cepat, dan penuh percaya diri. Namun, sebagaimana pohon besar yang berdiri kokoh karena akar yang menghunjam dalam, kisah Yamal sesungguhnya bertumpu pada sosok yang nyaris tak pernah menjadi sorotan.
Namanya Fatima Romani.
Puluhan tahun silam, perempuan asal Maroko itu meninggalkan kampung halamannya menuju Spanyol. Ia tidak membawa harta melimpah atau jaminan masa depan. Yang ia bawa hanyalah keberanian, harapan, dan keyakinan bahwa pengorbanan hari ini akan menjadi jalan terang bagi anak cucunya kelak.
Di negeri yang asing, Fatima bekerja apa saja. Peluhnya menjadi ongkos bagi keluarganya untuk menyusul, termasuk putranya, Mounir Nasraoui, yang kemudian menjadi ayah Lamine Yamal. Dari kehidupan sederhana di Rocafonda, Mataró, lahirlah seorang anak yang kelak membuat dunia berdiri memberi tepuk tangan.
Namun, bagi Fatima, kemenangan terbesar bukanlah trofi. Kemenangan itu adalah melihat cucunya tumbuh menjadi pribadi yang tetap rendah hati, tak lupa asal-usul, dan selalu meminta doa sebelum melangkah ke lapangan.

Pemerhati sosial budaya sekaligus dosen UIN Palangka Raya, Imam Qalyubi, melihat kisah tersebut sebagai cermin kehidupan yang melampaui dunia olahraga.
"Kisah perjuangan Fatima Romani mengajarkan kepada kita bahwa di balik gemerlap keberhasilan seorang anak, selalu ada jejak panjang peluh yang mungkin tak pernah tersorot cahaya. Seperti akar yang tumbuh diam-diam di dalam tanah, perjuangan seorang ibu dan nenek sering kali tidak terlihat, tetapi justru menjadi kekuatan dahsyat dalam proses tumbuhnya sebuah generasi," ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Bagi Imam, keluarga bukan hanya tempat seseorang dilahirkan. Keluarga adalah ruang tempat harapan diwariskan, keteguhan ditanamkan, dan mimpi dipelihara lintas generasi.
Pandangan itu terasa begitu dekat dengan realitas Indonesia. Di banyak pelosok negeri, tidak sedikit orang tua yang merantau meninggalkan kampung halaman. Mereka bekerja di kota besar, menjadi buruh, pedagang kecil, petani, atau pekerja migran. Bertahun-tahun mereka menahan rindu, bukan demi kemewahan, melainkan agar anak-anak mereka dapat mengenyam pendidikan yang lebih baik dan memiliki kesempatan hidup yang lebih luas.
Sering kali, nama mereka tidak pernah tercatat dalam sejarah. Tidak ada kamera yang mengikuti langkah mereka. Tidak ada sorak penonton yang mengiringi perjuangan mereka. Namun, justru dari tangan-tangan yang kasar karena bekerja keras itulah lahir dokter, guru, ilmuwan, pemimpin, hingga atlet yang mengharumkan nama bangsa.
Dalam perspektif sosiologi, fenomena itu dikenal sebagai mobilitas sosial antargenerasi. Pengorbanan satu generasi menjadi fondasi bagi keberhasilan generasi berikutnya. Kesuksesan seorang anak bukanlah hasil kerja individu semata, melainkan akumulasi dari cinta, doa, dan kerja keras keluarga yang telah lebih dahulu berjuang.
Imam Qalyubi menilai pesan itu sangat relevan bagi keluarga Indonesia.
"Kita belajar bahwa kesuksesan bukan hanya milik mereka yang berdiri di panggung, tetapi juga milik mereka yang pernah berjalan dalam sunyi, menahan lelah, merawat harapan, dan percaya bahwa suatu hari perjuangan mereka akan menjelma menjadi masa depan yang lebih terang."
Dalam ajaran Islam, semangat Fatima Romani juga mengingatkan pada makna hijrah. Berpindah bukan sekadar meninggalkan tempat, tetapi meninggalkan keterbatasan menuju ikhtiar yang lebih baik, disertai kesabaran dan tawakal. Hijrah bukan hanya soal perjalanan geografis, melainkan perjalanan iman dan harapan.
Mungkin itulah sebabnya Lamine Yamal tak pernah lupa kepada neneknya. Di tengah gemerlap dunia sepak bola, ia tetap meminta restu sebelum bertanding dan bahkan pernah menunda sesi foto penting bersama Barcelona agar sang nenek dapat hadir mendampinginya. Sebuah isyarat bahwa sebesar apa pun seseorang tumbuh, ia tetap membutuhkan akar yang menguatkannya.
Kisah Fatima Romani akhirnya mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi mendalam. Di balik setiap keberhasilan, selalu ada seseorang yang rela berkorban tanpa meminta tepuk tangan. Mereka mungkin tidak pernah mengangkat piala, tetapi merekalah yang sesungguhnya membangun jalan menuju kemenangan.
Karena sejatinya, seorang juara tidak pernah lahir sendirian. Ia tumbuh dari doa yang tak putus, kasih sayang yang tak bersyarat, dan pengorbanan yang dilakukan dalam diam. Dan di sanalah, cinta seorang ibu atau nenek menemukan makna paling agung: melahirkan masa depan yang lebih terang bagi generasi sesudahnya. (Polin-Andrian)