Di Gudang BUMDes, Seorang Ayah Menunggu Uluran Tangan: Kisah Pilu Lansia Oro-Oro Ombo yang Terlantar
Batu-Spektroom: Di sebuah ruang sederhana yang dulunya difungsikan sebagai gudang BUMDes Oro-Oro Ombo, seorang lansia terbaring dalam kondisi memprihatinkan. Tubuhnya semakin ringkih, langkahnya tak lagi mampu menopang usia, dan suaranya pelan nyaris tertelan ruang kosong. Ia bukan hanya sakit—ia juga sendirian, menunggu uluran tangan yang tak kunjung datang.
Kisah pilu ini terungkap setelah warga setempat melaporkan keberadaan sang ayah renta yang tidak lagi tinggal di rumah keluarga, melainkan menumpang sementara di gudang BUMDes. Kondisi tersebut membuat warga dan perangkat desa khawatir mengingat sang lansia membutuhkan perawatan medis dan perhatian yang lebih layak.
Kepala Desa Oro-Oro Ombo, Wiweko, membenarkan bahwa warga lansia tersebut kini ditempatkan di gudang BUMDes karena tidak ada keluarga yang merawatnya secara layak.
“Sampai hari ini tidak ada pihak yang menangani, baik dari Dinsos maupun Dinas Kesehatan. Keluarga korban, yakni anak-anaknya, sudah beberapa kali kami panggil ke balai desa, tetapi tidak ada respon,” ungkap Wiweko.
Ia menegaskan bahwa kondisi sang ayah sangat membutuhkan penanganan segera, bukan hanya dari pemerintah desa, tetapi juga dari Pemkot Batu.
“Semestinya pihak Pemkot Batu mengambil alih. Keluarga korban harus dipanggil dan dimintai keterangan bagaimana sebaiknya penanganan ayah mereka yang sedang sakit ini. Kami di desa memiliki keterbatasan,” lanjutnya.
Kondisi ini turut mendapat perhatian Ketua LSM Alab-Alab Kota Batu, Gaib Sampurno. Ia menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap situasi yang menimpa lansia tersebut.
“Ini bukan sekadar persoalan keluarga. Ini persoalan kemanusiaan. Seorang ayah yang pernah bekerja keras untuk membesarkan anak-anaknya kini harus beristirahat di gudang. Ini sangat menyedihkan,” ucap Gaib.
Ia menambahkan bahwa pemerintah harus segera hadir untuk memastikan hak-hak lansia terpenuhi, terutama yang sudah tidak memiliki kemampuan untuk merawat diri.
Lebih jauh, Gaib menggambarkan kondisi sang ayah dengan penuh empati.
“Ketika saya melihat beliau, tatapan matanya kosong. Seakan bertanya, apakah masih ada yang peduli. Hati saya teriris. Tidak seharusnya seorang ayah menghabiskan hari tuanya di tempat seperti itu,” tuturnya.
Warga sekitar pun berharap agar kisah ini menjadi perhatian serius dan segera ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Batu. Mereka menilai bahwa keberpihakan kepada kelompok rentan seperti lansia seharusnya menjadi prioritas layanan sosial.
Di gudang sederhana itu, sang ayah masih menunggu—bukan hanya bantuan, tetapi pengakuan bahwa ia tidak dilupakan. Sebuah penantian panjang yang seharusnya bisa segera berakhir jika semua pihak mau bergerak cepat.