Di Kaki Gunung Slamet, Stasiun Bumiayu Jadi Simpul Kehidupan
Bumiayu-Spektroom; Di kaki perbukitan hijau Brebes selatan, Stasiun Bumiayu berdiri bukan sekadar tempat persinggahan kereta api. Di sana, denyut kehidupan bergerak setiap hari.
Suara pengumuman keberangkatan, derap langkah penumpang, hingga gemuruh lokomotif yang melintas menjadi irama yang menghubungkan masyarakat Brebes selatan dengan berbagai kota besar di Pulau Jawa. Panorama alam yang membentang di kaki Gunung Slamet menjadikan kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri.
Stasiun kelas II yang berada di Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu itu kini menjadi simpul transportasi penting sekaligus gerbang awal tumbuhnya aktivitas ekonomi dan pariwisata di wilayah Brebes selatan.
Pagi hari menjadi waktu paling sibuk di stasiun ini. Pedagang kecil tampak melayani pembeli yang menunggu kereta datang. Sebagian penumpang adalah pekerja dan mahasiswa yang bepergian ke kota lain, sementara lainnya merupakan wisatawan yang hendak menikmati destinasi alam di Brebes selatan.
Manager Humas PT KAI Daop 5 Purwokerto, M. As’ad Habibuddin mengatakan, Stasiun Bumiayu memiliki peran strategis dalam mendukung mobilitas masyarakat sekaligus memperkuat konektivitas antarwilayah.
“Stasiun Bumiayu bukan hanya menjadi titik keberangkatan dan kedatangan penumpang, tetapi juga bagian penting dalam mendukung konektivitas dan aktivitas ekonomi masyarakat Brebes selatan,” ujarnya.
Keunikan Stasiun Bumiayu juga terletak pada panorama alam di sekitarnya. Tak sedikit penumpang yang mengabadikan momen ketika kereta melintas di tengah lanskap hijau perbukitan. Karena keindahannya, stasiun ini bahkan kerap disebut sebagai salah satu stasiun tercantik di Indonesia.
Tak jauh dari stasiun, berdiri Jembatan Sakalibel atau “Saka Lima Belas” yang menjadi ikon lokal Bumiayu. Jembatan yang membentang di atas Sungai Keruh itu menjadi tempat favorit warga maupun wisatawan untuk menikmati suasana sore.

Endang, warga Kecamatan Purwokerto Utara, mengaku dirinya bersama keluarga kerap singgah di kawasan tersebut saat berkunjung ke Bumiayu.
“Kami tidak pernah bosan melihat pemandangan Jembatan Sakalibel. Sambil makan ayam goreng di warung dekat jembatan, kami bisa menikmati pemandangan sekaligus melihat aktivitas warga di Sungai Keruh, dan melihat kereta api melintas dari kejauhan” katanya.
Dari Stasiun Bumiayu, wisatawan juga dapat melanjutkan perjalanan menuju sejumlah destinasi wisata alam, salah satunya Kebun Teh Kaligua yang dapat ditempuh sekitar satu jam perjalanan.
Mobilitas masyarakat yang tinggi terlihat dari banyaknya perjalanan kereta yang berhenti di stasiun ini. Setiap hari terdapat 39 perjalanan kereta api yang melayani penumpang, termasuk KA Bengawan relasi Purwosari–Pasarsenen yang mendapat subsidi pemerintah dengan tarif terjangkau menuju Jakarta.
Data KAI Daop 5 Purwokerto juga menunjukkan peningkatan jumlah penumpang dari tahun ke tahun. Pada 2023 rata-rata penumpang tercatat 15.709 orang per bulan, meningkat menjadi 18.465 pada 2024, lalu 21.726 pada 2025. Hingga April 2026, jumlahnya mencapai 25.865 penumpang per bulan.
Peningkatan itu menjadi tanda bahwa Stasiun Bumiayu bukan hanya tempat singgah perjalanan, melainkan juga urat nadi mobilitas dan wajah perkembangan Brebes selatan yang terus tumbuh.