Di Rumah Betang Lingga, Naik Dango Jadi Ruang Bertemunya Tradisi dan Generasi
Kubu Raya - Spektroom - Di Rumah Betang Desa Lingga, Senin pagi (27/04/2026) , langkah-langkah manusia bertemu dengan jejak panjang tradisi.
Bunyi gong bersahutan, kain-kain adat berwarna cerah bergerak mengikuti irama, dan aroma masakan khas memenuhi udara.
Di sinilah perayaan Naik Dango ke-41 dibuka sebuah ritual yang bukan sekadar seremoni panen, tetapi juga ruang temu identitas, ingatan, dan harapan masyarakat Dayak.

Iringan tetabuhan untuk kontingen yang membawa hasil panen diarak ke pelataran Betang.
Tradisi mengenalnya dengan Panompok yang diserahkan sebagai persembahan setiap kecamatan berisi padi hasil panen.
Bupati Kubu Raya, Sujiwo, berdiri berdampingan dengan Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan menyaksikannya gawai dengan Hikmah
Namun, pusat perhatian pagi itu bukan hanya pada para pejabat, melainkan pada ratusan warga yang datang dari tiga kabupaten Kubu Raya, Landak, dan Mempawah membawa cerita dari kampung masing-masing.
Seorang perempuan paruh baya tampak sibuk merapikan hiasan kepala anaknya.
Di sudut lain, para tetua adat duduk tenang, menyaksikan generasi muda menari dengan gerakan yang diwariskan turun-temurun.
Naik Dango, yang selalu digelar usai panen, menjadi cara masyarakat Dayak mengucap syukur sekaligus menjaga hubungan dengan alam dan leluhur.
“Ini bukan hanya perayaan, ini adalah pengingat,” ujar Krisantus.
Baginya, kemeriahan tahun ini bukan sekadar soal jumlah peserta atau kemegahan acara, melainkan tentang kebersamaan lintas daerah yang jarang terlihat dalam satu panggung budaya.
Di tengah arus modernisasi, kekhawatiran akan hilangnya tradisi bukan tanpa alasan. Namun di Sungai Ambawang hari itu, kekhawatiran itu seolah ditepis.
Anak-anak muda yang biasanya lekat dengan gawai, tampak larut dalam tarian dan ritual. Mereka tidak sekadar hadir, tetapi ikut menjaga.
Sujiwo menyebut budaya sebagai jati diri yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat.
Pemerintah daerah, katanya, mencoba hadir bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai penjaga termasuk melalui dukungan anggaran untuk renovasi rumah betang yang menjadi simbol kehidupan komunal Dayak.
Namun, lebih dari itu, Naik Dango adalah tentang rasa memiliki. Tentang bagaimana tradisi tidak hanya dikenang, tetapi dijalani.
Ketika senja perlahan turun, dan suara musik mulai mereda, yang tersisa bukan hanya kemeriahan acara, melainkan keyakinan bahwa budaya masih punya tempat di hati generasi hari ini.
Tradisi juga syarat dengan kearifan lokal menyuguhkan berbagai lomba tradisional yg diikuti masing masing kontingen peserta. Di Rumah Betang Desa Lingga, cerita itu terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya