Dinkes Ternate: 4.903 Kasus TBC dan 3.657 HIV/AIDS Jadi Alarm Kesehatan Maluku Utara

Dinkes Ternate: 4.903 Kasus TBC dan 3.657 HIV/AIDS Jadi Alarm Kesehatan Maluku Utara
Kepala Dinas Kesehatan Kota Ternate dr. Fathiyah Suma saat membuka kegiatan Workshop petunjuk teknis integrasi AIDS, Tuberkulosis dan Malaria dan Kebijakan Nasional terkait AIDS, Tuberkulosis dan Malaria (Foto:Spektroom/Nng)

Ternate-Spektroom : Dinas Kesehatan Kota Ternate menyebut tingginya angka kasus Tuberkulosis (TBC), HIV/AIDS, dan Malaria di Provinsi Maluku Utara sebagai alarm serius bagi sektor kesehatan. Hingga 2026, estimasi kasus TBC mencapai 4.903 kasus, sementara jumlah kumulatif HIV/AIDS tercatat sebanyak 3.657 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Ternate, dr. Fathiyah Suma, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular masih harus diperkuat melalui strategi yang terintegrasi dan berkelanjutan.

"Pencegahan dan pengendalian AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria harus diperkuat secara sistematis agar target eliminasi pada 2030 dapat tercapai," kata dr. Fathiyah saat membuka Workshop Petunjuk Teknis Integrasi AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria serta Kebijakan Nasional terkait ATM Provinsi Maluku Utara di Meeting Room Boulevard Hotel Ternate, Selasa (28/7/2026).

Selain tingginya kasus TBC dan HIV/AIDS, Maluku Utara juga masih mencatat 474 kasus positif malaria. Dari 10 kabupaten/kota di provinsi tersebut, tujuh daerah telah memperoleh status eliminasi malaria, sedangkan tiga kabupaten/kota lainnya masih dalam proses menuju eliminasi.

Menurut dr. Fathiyah, HIV/AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria hingga kini tetap menjadi persoalan kesehatan masyarakat berskala global. Ketiga penyakit tersebut tidak hanya menyebabkan tingginya angka kesakitan dan kematian, tetapi juga menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang besar.

Secara global, setiap tahun diperkirakan sekitar 2,5 juta orang terinfeksi HIV, delapan juta orang menderita Tuberkulosis, dan antara 300 hingga 500 juta orang terserang malaria.

Ia menjelaskan, pengendalian HIV memerlukan penguatan upaya promotif dan preventif, sedangkan keberhasilan pengendalian TBC dan malaria sangat dipengaruhi oleh pemenuhan kebutuhan sosial dasar, kualitas lingkungan, serta akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang bermutu.

Karena itu, integrasi program AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga efektivitas penggunaan anggaran, memastikan keberlanjutan pendanaan, sekaligus menyelaraskan program kesehatan dengan prioritas pembangunan nasional maupun daerah.

"Integrasi ini sangat penting agar seluruh intervensi berjalan lebih efektif, efisien, dan saling mendukung dalam mencapai target eliminasi ATM tahun 2030," ujarnya.

Melalui workshop tersebut, Pemerintah Provinsi Maluku Utara menargetkan penguatan sistem kesehatan daerah mulai 2027, termasuk memperkuat dukungan anggaran bagi program ATM, meningkatkan kolaborasi dengan mitra pembangunan, serta mendorong lahirnya regulasi daerah yang mendukung percepatan eliminasi HIV/AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria.

Workshop diikuti peserta lintas sektor dari tiga daerah lokus, yakni Kota Ternate, Kabupaten Halmahera Selatan, dan Kabupaten Pulau Morotai. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan penanggulangan penyakit menular di Maluku Utara menuju target eliminasi pada 2030.

Berita terkait

Kemensos Salurkan Bantuan ATENSI Rp136 Juta untuk 211 Warga Rentan di Sawahlunto

Kemensos Salurkan Bantuan ATENSI Rp136 Juta untuk 211 Warga Rentan di Sawahlunto

Sawahlunto–Spektroom : Pemerintah Kota Sawahlunto bersama Kementerian Sosial Republik Indonesia menyalurkan bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) senilai Rp136 juta kepada kelompok masyarakat rentan di Kota Sawahlunto. Penyaluran bantuan tersebut berlangsung pada Kamis (30/7/26) dan dihadiri oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Sawahlunto Rovanly Abdams, mewakili Wali Kota Sawahlunto. Program ATENSI

Riswan Idris, Rafles