Dua Ibadah, Satu Semangat: MTQH Muara Teweh Ditutup, PESPARANI Palangka Raya Dibuka, Pemprov Kalteng Teguhkan Kerukunan
Spektroom - Dalam satu hari malam yang sama, dua momentum kompetisi keagamaan berlangsung di dua kota berbeda di Kalimantan Tengah. MTQH XXXIII resmi ditutup di kota Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, sementara di Palangka Raya Gubernur Agustiar Sabran membuka PESPARANI Katolik I. Dua arus ibadah, satu pesan utama: keragaman yang dirawat, kerukunan yang ditegakkan.

Penutupan MTQH XXXIII di Muara Teweh oleh Wagub Edy Pratowo menjadi penanda kuat komitmen pemerintah daerah dalam menjaga syiar dan kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an. Kafilah dari 14 kabupaten/kota berkumpul, memperlihatkan bahwa pembinaan tilawah, tahfiz, hingga syarhil terus berjalan dan mendapat dukungan penuh nan berkesan dan ucapan selamat bagi Kabupaten Barito Utara tampil sebagai juara umum.
Di Palangka Raya, suasana tak kalah khidmat. Gubernur Agustiar Sabran membuka PESPARANI Katolik I seraya menegaskan bahwa ajang ini lebih dari sekadar kompetisi.
“Melalui Pesparani, kita belajar bahwa keragaman suara dapat menghasilkan harmoni indah, seperti keragaman suku, agama, budaya di Kalimantan Tengah yang bersatu dalam bingkai NKRI,” ujar Gubernur.Jumat (21/11/2025) malam
Ia menambahkan bahwa pembangunan daerah hanya bisa berjalan jika seluruh unsur masyarakat dirangkul.
“Kalau kita membangun dengan mengkotak-kotakkan, sulit mencapai tujuan. Dengan saling menghormati dan bergotong royong, membangun Kalimantan Tengah akan jauh lebih mudah.”

Ketua Panitia PESPARANI, Sutoyo, dalam laporannya menjelaskan bahwa kegiatan berlangsung empat hari dan digelar di tiga lokasi, dengan berbagai mata lomba yang menguatkan pembinaan iman dan persaudaraan antar umat.
Di dua kota berbeda, dua perayaan keagamaan berlangsung bersamaan, yakni MTQH yang menguatkan syiar Islam dan PESPARANI yang meneguhkan seni liturgi Katolik. Namun arah keduanya sama: memperluas ruang perjumpaan, memperkuat rasa saling menghargai.
Dua panggung ibadah dalam satu hari menunjukkan wajah Kalimantan Tengah yang inklusif. Dari lantunan ayat suci di Muara Teweh hingga harmoni paduan suara di Palangka Raya, Pemerintah Provinsi Kalteng yang wilayahnya satu setengah kali pulau Jawa, menegaskan bahwa keberagaman bukan sekadar identitas, tetapi fondasi yang terus dijaga. Kerukunan dibuktikan dengan kerja nyata mendukung setiap umat, di setiap ruang, tanpa kecuali. (Polin)