Duka Terasa Hingga Ke Jambi, Ketika Sesama Kereta Api Beradu Di Bekasi
Bekasi - Spektroom: Sejumlah keluarga korban kecelakaan KRL dengan Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek Selasa (28/4/2026) malam mendatangi Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.
Mereka datang untuk memastikan kondisi kerabat mereka yang menjadi korban dalam kecelakaan KRL dengan Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur.
Di antaranya Watarisin (70), datang ke gedung Disaster Victim Identification (DVI) RS Polri Kramat Jati yang mencari keberadaan keponakannya Vica Acnia Pratiwi (23).
Peristiwa kecelakaan kereta api di Bekasi Timur dukanya juga terasa hingga ke Jambi, merenggut nyawa seorang mahasiswi asal Jambi, Nur Alimatun Citra Lestari (19).
Korban diketahui sedang menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Manajemen Asuransi (STMA) Trisakti, Jakarta, dan telah memasuki semester empat.
Citra demikian dia kerap disapa merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Selama kuliah di Jakarta, tinggal bersama kakak laki-lakinya, Anggi Al Hakim.
Hakim mengaku awalnya tidak menyangka adiknya menjadi korban dalam insiden tersebut. Bahkan sempat berpikir Citra telah kembali ke rumah seperti biasa usai kuliah. Namun, rasa khawatir muncul ketika adik bungsunya tidak ditemukan di rumah.
Kekhawatiran itu semakin menjadi ketika upaya menghubungi Citra tidak membuahkan hasil. Hakim mencoba menelepon berulang kali, namun tidak ada respons.
Malam itu juga, Hakim bersama istrinya berusaha mencari informasi dengan mendatangi sejumlah rumah sakit rujukan di wilayah Bekasi. Mereka menyisir satu per satu fasilitas kesehatan, tetapi tidak menemukan nama Citra dalam daftar korban selamat.
Keesokan harinya, pihak keluarga kemudian mengikuti arahan kepolisian untuk melaporkan kehilangan ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Hingga akhirnya, pada Selasa sore (28/4/2026), kepastian itu datang melalui konferensi pers.
Setelah identitasnya dipastikan, jenazah almarhumah segera dipulangkan ke kampung halaman di Jambi melalui jalur udara. Jenazah tiba di Bandara Sultan Thaha pada Rabu pagi sekitar pukul 08.00 WIB, lalu dibawa ke rumah duka di Kelurahan Sungai Asam, Kecamatan Pasar Jambi.
Jenazah tiba di rumah duka dan disambut tangis keluarga, terutama sang ibu. Selanjutnya, almarhumah dimakamkan di TPU Talang Jauh, Kota Jambi.
Citra, yang menjadi korban kecelakaan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, dimakamkan pada Rabu (29/4/2026) pagi. Sebagaimana dilansir dari Detikcom, almarhumah merupakan salah satu dari 15 korban jiwa dalam insiden tersebut.
Kabar duka juga datang dari keluarga besar redaksi Kompas TV. Salah satu rekan kerja dan sahabat terbaik, Nur Ainia Eka Rahmadhynna, wafat dalam tragedi kecelakaan kereta di area Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat.
Almarhumah yang akrab disapa Ain merupakan bagian dari keluarga besar Kompas TV yang berkontribusi sebagai news production support.
Lain Citra lain pula kisah Ainia Eka Rahmadhyna, Adik Ain, Zhafa, menceritakan gelagat terakhir sang kakak sebelum hilang kontak.
Sambil menahan air mata, Zhafa menceritakan, Ain pulang kerja sekira pukul 21.30 WIB. Almarhumah kemudian menghubungi keluarga untuk meminta dijemput.
Namun, hingga larut malam, Ain tidak memberikan kabar lagi. Keluarga pun cemas.
Pada malam harinya, pihak keluarga baru mengetahui ada insiden kecelakaan maut KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL.
Ya, begitulah namanya Musibah tetap akan menjadi musibah, jangan lalu cari kambing yang hitam untuk disalahkan, namun investigasi perlu, paling tidak untuk mengetahui penyebab dan apa pemicunya.
Seperti yang dilakukan Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi, pihaknya melakukan audit investigasi terhadap perusahaan taksi Green SM, yang ditengarai sebagai biang kecelakaan maut tersebut.
Kecelakaan kereta api jarak jauh dengan Kereta Rel Listrik Commuter di Bekasi, terjadi akibat kelalaian pengendara taksi di perlintasan sebidang.
Dudy menyebut audit investigasi, khususnya dilakukan di pool tempat kendaraan taksi tersebut beroperasi.
Audit investigasi yang dilakukan lakukan meliputi seluruh aspek, baik operasional, teknis, kemudian juga sumber daya manusia.
Menhub menambahkan, langkah tersebut dilakukan guna memastikan perusahaan taksi tersebut memberikan layanan sesuai dengan kaidah keselamatan dan operasional sebagai perusahaan taksi.
Kendaraan bermotor seharusnya tidak melintasi jalur rel ketika kereta sudah dalam jarak dekat. Kalau sudah jelas kereta dekat, mobil itu melintas pasti mesin mati. Apalagi mobil listrik, mobil apa pun mesinnya mati, pasti. Karena ada getaran dari mesin lokomotif, dan Medan magnet di rell.
Senada dengan Menhub, Korlantas Polri mengungkap penyebab awal kecelakaan yang melibatkan sejumlah kereta api di wilayah Bekasi. Peristiwa itu bermula dari gangguan yang dialami taksi listrik Green SM, yang mogok di perlintasan rel.
Subdirektorat Penegakan Hukum (Subditlaka) Korlantas Polri, Sandhi Wiedyanoe, menjelaskan kendaraan tersebut mengalami masalah kelistrikan saat melintas di perlintasan Ampera.
Kendaraan yang berhenti di atas rel itu kemudian tertabrak kereta api. Insiden awal ini sebenarnya hanya menimbulkan kerugian material. Namun, dampaknya meluas karena mengganggu perjalanan kereta lain di jalur tersebut.
Dalam situasi tersebut, sejumlah perjalanan kereta, termasuk KRL, sempat tertahan untuk proses evakuasi insiden awal.
Saat itulah, polisi menduga ada kendala dalam penyampaian informasi di lapangan. Sehingga kondisi di jalur tidak sepenuhnya terkomunikasikan dengan baik ke seluruh rangkaian kereta.
Dari musibah ini dan mungkin musibah kecelakaan lainnya, ada satu kebiasaan publik setiap kali terjadi kecelakaan besar: kita cepat sekali mencari siapa yang salah. Sopirnya? Masinisnya? Petugas sinyalnya? Operatornya? Pemerintahnya?
Pertanyaan itu penting. Tetapi kalau terlalu cepat diungkapkan, bisa membuat kita kehilangan pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa sebuah sistem yang seharusnya memiliki banyak lapisan perlindungan masih bisa membiarkan satu gangguan berubah menjadi tragedi?
Kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026, layak dibaca dengan cara seperti itu. (@Ng).
(Dari berbagai sumber).