Energizing Maluku Tak Berhenti di Ambon, Dorong Anak Muda dan UMKM Naik Kelas
Ambon-Spektroom : Program Energizing Maluku 2026 diarahkan untuk membuka lebih banyak peluang kerja, usaha, dan pengembangan sumber daya manusia bagi masyarakat Maluku.
Program ini tidak dirancang sebagai kegiatan sesaat, melainkan gerakan bersama yang menghubungkan generasi muda, pelaku UMKM, dunia usaha, pemerintah, hingga lembaga pembiayaan.
Ketua Energizing Maluku 2026, Reza Valdo Maspaitella, mengatakan tahap awal program berlangsung selama enam minggu untuk pembinaan. Pada minggu ketujuh, peserta akan dievaluasi melalui pengukuran capaian dan presentasi rencana usaha.
“Tujuan kita sebenarnya ingin mengenergize, bagaimana anak-anak muda Maluku bisa bangkit bersama dan melihat bahwa kita punya masa depan,” kata Reza seusai kegiatan Energizing Maluku 2026 di Kantor Gubernur Maluku, Ambon, Sabtu (12/9/2026).
Menurut Reza, ada tiga kelompok utama yang menjadi sasaran. Pertama, lulusan SMA, SMK, akademi, hingga perguruan tinggi yang akan mendapatkan pembinaan sebelum dipertemukan dengan dunia kerja melalui job fair dan rekrutmen.
Kedua, masyarakat yang ingin memulai usaha. Setelah mengikuti pembinaan, mereka akan diberi kesempatan melakukan pitching untuk mempertemukan ide bisnis dengan lembaga pembiayaan maupun perusahaan yang memiliki kapasitas pendanaan.
Kelompok ketiga adalah UMKM yang telah berjalan. Mereka didorong naik kelas melalui penguatan usaha dan business matching dengan BUMN, perusahaan swasta, APINDO, IWAPI, HIPMI serta jaringan dunia usaha lainnya.
“Bagaimana UMKM di Maluku bisa menjadi supplier, subkontraktor atau mitra perusahaan. Kita mulai merajut usaha-usaha di Maluku, dari yang paling kecil sampai yang besar,” ujarnya.
Reza menegaskan, evaluasi pada minggu ketujuh akan menjadi dasar untuk program lanjutan, termasuk pembinaan selama enam bulan. Karena itu, Energizing Maluku diharapkan berkembang menjadi gerakan berkelanjutan, bukan berhenti setelah rangkaian kegiatan awal selesai.
Program ini juga akan diperluas ke luar Ambon. Tahap berikutnya diarahkan ke sejumlah daerah seperti Kepulauan Tanimbar, Buru, Kepulauan Kei dan Maluku Tengah.
Reza menilai konektivitas antardaerah penting agar potensi lokal tidak berjalan sendiri-sendiri. Produk seperti kain tenun Maluku, misalnya, dinilai memiliki peluang pasar lebih luas jika diperkuat dari sisi kualitas, branding dan pemasaran.
“Kita ingin membangun ekosistem, supaya potensi yang ada di Maluku bisa saling terhubung dan membuka pasar yang lebih luas,” pungkasnya.