Netty Syahruddin: Jangan Biarkan Kota Hanya Menjadi Pasar, Urban Farming Harus Jadi Strategi Pangan
Makassar- Spektroom : Kota semakin penuh, tetapi pangan yang dikonsumsi warganya justru semakin bergantung pada wilayah lain.
Lahan pertanian terdesak permukiman. Ruang terbuka berubah menjadi bangunan. Harga tanah semakin tinggi. Sementara kebutuhan pangan terus bertambah mengikuti pertumbuhan penduduk.
Di tengah paradoks itu, pertanian perkotaan atau urban farming seharusnya tidak diperlakukan sebagai sekadar aktivitas menghijaukan halaman rumah.
Guru Besar Fakultas Pertanian dan Bioremediasi Lahan Tambang Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Needty Syahruddin, melihat urban farming sebagai bagian dari strategi membangun ketahanan pangan dari lingkungan terdekat.
Sebab persoalannya bukan hanya apakah warga kota masih memiliki ruang untuk menanam.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: berapa lama sebuah kota bisa terus bergantung pada pasokan pangan dari luar tanpa membangun kapasitas produksi di dalam kotanya sendiri?
Urban farming memang tidak akan menggantikan pertanian konvensional. Namun, menurut Etty, pertanian kota dapat menjadi salah satu lapisan ketahanan pangan keluarga dan komunitas.
“Urban farming bukan sekadar kegiatan menanam sayuran di halaman rumah. Lebih jauh, ia merupakan strategi untuk mendekatkan produksi pangan kepada konsumen, memanfaatkan ruang terbatas, memperindah lingkungan, sekaligus membangun kesadaran masyarakat terhadap pangan sehat dan berkelanjutan,” kata Nety.
Jangan Sampai Urban Farming Sekadar Seremoni
Di banyak tempat, program pertanian perkotaan mudah dimulai tetapi belum tentu mudah dipertahankan.
Bibit dibagikan. Pot disusun. Hidroponik dipasang. Foto kegiatan diambil.
Lalu apa?
Pertanyaan itu penting karena urban farming tidak selesai ketika bibit masuk ke media tanam.
Tanaman membutuhkan air, nutrisi, pengawasan, tenaga, pengetahuan, dan waktu. Jika salah satu mata rantai itu putus, kebun kota bisa berubah menjadi instalasi yang tidak produktif.
Karena itu Nety menawarkan 6 T atau 6 Tepat Urban Farming: tepat lahan, tepat teknologi, tepat tanaman, tepat nutrisi, tekun mengelola, dan terhubung dengan pasar.
Konsep tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap cara pandang yang terlalu menyederhanakan urban farming.
Menanam bukan tujuan akhir. Menanam harus menghasilkan.
Tepat Lahan: Kota Tak Harus Menunggu Tanah Kosong
Persoalan lahan sering dijadikan alasan bahwa pertanian tidak mungkin berkembang di perkotaan.
Nety justru membalik logika itu.
Menurut dia, warga tidak perlu menunggu memiliki tanah luas. Balkon, halaman sempit, atap rumah, dinding, hingga ruang kosong di lingkungan permukiman dapat dimanfaatkan.
“Jangan menunggu memiliki lahan luas untuk mulai bertani. Mulailah dari ruang yang ada, meskipun hanya beberapa meter persegi,” ujar Netty.
Di sinilah urban farming menjadi menarik.
Ia tidak menuntut kota mengembalikan seluruh lahan yang telah berubah menjadi bangunan. Ia menuntut kreativitas untuk memanfaatkan ruang yang tersisa.
Namun pemerintah juga tidak bisa melepaskan seluruh tanggung jawab kepada masyarakat.
Jika urban farming dianggap bagian dari strategi ketahanan pangan, maka pemerintah kota harus ikut memikirkan ruang, air, pendampingan, akses bibit, pengetahuan, hingga pemasaran.
Tanpa dukungan kebijakan, urban farming berisiko hanya menjadi proyek individual.
Tepat Teknologi: Jangan Membeli Gengsi, Beli Solusi
Hidroponik sering menjadi wajah modern urban farming.
Padahal, teknologi bukan ukuran keberhasilan.
Vertikultur, pot, polybag, maupun media organik dapat digunakan. Teknologi harus disesuaikan dengan kemampuan pengelola.
“Teknologi tidak harus mahal. Untuk pemula, sistem sederhana justru lebih baik karena mudah dipelajari, dirawat, dan dikembangkan,” kata Netty.
Pesannya jelas: jangan sampai urban farming justru menciptakan beban baru.
Apa gunanya instalasi mahal jika tidak dirawat? Apa gunanya sistem modern jika warga tidak memiliki pengetahuan untuk mengoperasikannya?
Teknologi yang tepat bukan yang paling mahal, melainkan yang paling mungkin dipertahankan.
Tepat Tanaman: Jangan Menanam Sekadar untuk Dipotret
Persoalan berikutnya adalah komoditas.
Kangkung, sawi, bayam, selada, pakcoy, cabai, tomat, dan tanaman herbal bisa menjadi pilihan. Tetapi Netty mengingatkan agar masyarakat tidak sekadar memilih tanaman karena mudah tumbuh.
Ada pertanyaan lain yang lebih penting: siapa yang membutuhkan hasilnya?
“Prinsipnya: tanam apa yang dibutuhkan dan manfaatkan apa yang ditanam,” tutur Netty.
Kalimat ini seharusnya menjadi dasar kebijakan urban farming.
Sebab kegagalan pertanian bukan hanya terjadi ketika tanaman mati. Tanaman yang tumbuh tetapi tidak termanfaatkan juga merupakan bentuk inefisiensi.
Urban farming harus berangkat dari kebutuhan.
Apa yang dikonsumsi keluarga? Apa yang dibutuhkan lingkungan? Komoditas apa yang memiliki pasar?
Pertanyaan semacam itu menentukan apakah kebun kota hanya menjadi penghijauan atau berkembang menjadi sumber pangan.
Tepat Nutrisi: Tanaman Tidak Tumbuh karena Slogan
Urban farming juga membutuhkan pengetahuan teknis.
Media harus memiliki aerasi dan drainase yang baik. Air harus tersedia secara cukup dan efisien. Unsur hara harus dikelola sesuai kebutuhan tanaman.
“Tanaman dalam ruang terbatas sangat bergantung pada pengelolaan media, air, dan unsur hara,” ujar Netty.
Artinya, slogan ketahanan pangan tidak cukup.
Warga perlu pengetahuan.
Di sinilah pemerintah, kampus, penyuluh, komunitas, dan pelaku usaha memiliki pekerjaan yang jauh lebih penting daripada sekadar membagikan bibit.
Bibit adalah awal. Pengetahuan adalah modal untuk bertahan.
Tekun Mengelola: Musuh Terbesar Bukan Lahan, tapi Konsistensi
Banyak program pertanian gagal bukan karena tidak memiliki teknologi, melainkan karena kehilangan pengelola.
Tanaman harus diperiksa. Air harus dikontrol. Hama harus ditangani. Pemupukan harus dijadwalkan. Panen harus dilakukan tepat waktu.
“Kunci keberhasilan adalah konsistensi,” kata Netty.
Karena itu, urban farming perlu dipandang sebagai aktivitas produksi, bukan sekadar kegiatan sambilan.
Ada pekerjaan harian. Ada risiko. Ada biaya. Ada kegagalan.
Jika semua itu diabaikan, urban farming hanya akan menghasilkan kebun yang bagus pada awal program.
Terhubung dengan Pasar: Di Sini Urban Farming Diuji
Inilah titik yang paling menentukan.
Jika urban farming ingin disebut sebagai bagian dari penguatan ekonomi dan ketahanan pangan, hasilnya harus memiliki jalur pemanfaatan.
Etty mendorong terbentuknya ekosistem yang melibatkan warga, sekolah, kampus, komunitas, pemerintah, dan pelaku usaha.
“Urban farming akan jauh lebih kuat jika dilakukan bersama,” ujarnya.
Hasil panen dapat dikonsumsi sendiri atau dijual kepada tetangga, restoran, pasar lokal, maupun melalui media sosial.
Namun pasar tidak muncul dengan sendirinya.
Produksi harus konsisten. Kualitas harus dijaga. Harga harus masuk akal. Distribusi harus berjalan.
Di sinilah urban farming naik kelas: dari kegiatan menanam menjadi kegiatan ekonomi.
Kota Harus Berhenti Menjadi Konsumen Pangan Semata
Urban farming tidak boleh dibebani harapan berlebihan. Ia tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan pangan sebuah kota.
Tetapi menganggapnya tidak penting juga keliru.
Penelitian mengenai urban farming di Malang, misalnya, menunjukkan pertanian kota berpotensi mendukung ketahanan pangan dan ketahanan masyarakat, dengan partisipasi warga serta kapasitas sumber daya manusia menjadi faktor penting.
Artinya, persoalan urban farming bukan semata soal tanah.
Persoalannya adalah manusia, pengetahuan, kebijakan, pengelolaan, dan pasar.
Karena itu, pemerintah kota perlu berhenti melihat urban farming sebagai program pelengkap.
Jika serius dijadikan bagian dari strategi pangan, harus ada peta jalan yang jelas: siapa yang mengelola, lahan mana yang dapat dimanfaatkan, teknologi apa yang digunakan, komoditas apa yang diprioritaskan, bagaimana pendampingannya, dan ke mana hasil panen dipasarkan.
Tanpa itu semua, urban farming akan mudah terjebak menjadi program yang ramai ketika diluncurkan dan sepi ketika harus dipelihara.
Dari Pot Kecil ke Politik Pangan Kota
Etty pada akhirnya mengajak masyarakat mengubah cara pandang.
Lahan sempit bukan alasan untuk tidak bertani.
Tetapi gagasan itu juga membawa konsekuensi bagi pemerintah: jangan hanya meminta warga menanam. Pemerintah harus menciptakan ekosistem agar kegiatan tersebut bisa bertahan.
Satu pot sayuran memang tidak akan mengubah sistem pangan.
Tetapi ribuan keluarga yang menanam, mengelola, mengonsumsi, dan menjual hasilnya dapat menciptakan perubahan.
“Urban farming bukan sekadar bisa menanam, tetapi harus mampu menanam dengan benar, mengelola dengan disiplin, dan menghasilkan manfaat,” kata Netty.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan berapa banyak pot yang dibagikan atau berapa banyak instalasi hidroponik yang diresmikan.
Ukuran sebenarnya jauh lebih sederhana: berapa banyak pangan yang berhasil diproduksi, berapa lama kebun itu bertahan, berapa banyak keluarga yang memperoleh manfaat, dan apakah hasilnya benar-benar terserap pasar.
Kota tidak boleh hanya menjadi tempat orang membeli pangan.
Kota juga harus mulai belajar memproduksi pangan.
Sebab ketika lahan semakin sempit, harga pangan semakin rentan, dan ketergantungan terhadap pasokan luar semakin besar, urban farming bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup.
Ia adalah salah satu cara untuk memastikan kota tidak sepenuhnya kehilangan kemampuan memberi makan dirinya sendiri.