Fadli Zon: Pancasila adalah "Bintang Penuntun" Yang Telah Membuktikan Ketangguhannya
Jakarta Pusat - Spektroom: Upacara Bendera dalam rangka Peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2026 ini diselenggarakan secara kolaboratif oleh tiga kementerian, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Kementerian Kebudayaan (Kemenbud), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), berlangsung dihalaman Gedung A, Kemendiknasmen, Senayan Jakarta Pusat, Senin (1/6/2026).
Dari akun YouTube Kemendiknasmen RI diketahui, Mentri Kebudayaan Fadli Zon menjadi Inspektur upacara dan diikuti oleh ASN di tiga kementerian kolaboratif tersebut.
Dalam Amanatnya Fadli Zon menyampaikan, Pancasila adalah "bintang penuntun" yang telah membuktikan ketangguhannya.
Di tengah dunia yang diwarnai ketidakpastian dan ancaman fragmentasi, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman yang terdiri atas lebih dari 17.000 (tujuh belas ribu) pulau dan ratusan etnik dapat disatukan dalam satu ikatan kebangsaan. Pancasila adalah "jangkar moral" kita dalam menghadapi turbulensi global, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik.
"Selama ini, Indonesia kerap dipahami semata sebagai negara bangsa modern. Padahal secara historis, geografis, dan kultural, Indonesia melampaui kerangka tersebut. Indonesia bukan hanya nation state, melainkan juga civilimational state, negara peradaban yang berdiri di atas fondasi mega diversity dan jejak sejarah kemanusiaan yang sangat panjang" ujar Fadli Zon dalam amanatnya.
Menurut Fadli Zon, bukti arkeologis menunjukkan Sejak 1,8 juta tahun lalu, Nusantara telah menjadi salah satu kawasan penting dalam evolusi dan migrasi manusia awal.
Temuan fosil dan artefak dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Flores, Sulawesi, Maluku, dan Papua menegaskan Indonesia bukan pinggiran sejarah dunia, melainkan salah satu koridor penting perjalanan peradaban manusia.
Bangsa Indonesia juga lahir dari realitas kemajumukan yang luar biasa, mencakup keberagaman etnis, bahasa, budaya, agama, dan pengalaman sejarah.
Namun keberagaman itu tak menjadi faktor pemecah melainkan Fondasi Persatuan Nasional Bineka Tunggal Ika.
"Bahwa persatuan Indonesia dibangun bukan melalui penyeragaman, melainkan melalui kesadaran kolektif untuk hidup bersama dalam satu komunitas kebangsaan yang inklusif." tandasnya.
Pada bagian lain amanatnya Menbud Fadli Zon juga mengingatkan, dari 1.340 kelompok etnis, ratusan bahasa daerah, ribuan ekspresi budaya, Indonesia memiliki kekayaan megadiversity yang menjadi sumber kekuatan dan ketahanan bangsa.
Nilai toleransi, gotong royong, persatuan dan penghormatan terhadap perbedaan yang tumbuh dari kemajemukan inilah, yang kemudian menemukan artikulasi dalam Pancasila sebagai dasar negara falsafah hidup bangsa sekaligus kontribusi Indonesia bagi peradaban dunia" katanya lagi.
Dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, lanjut Menbud, Indonesia menegaskan komitmen tetap berada pada jalur non-blok, tidak memihak pada aliansi manapun, namun aktif membangun kerjasama internasional dan menghormati seluruh negara, menjunjung prinsip-prinsip dalam piagam perserikatan bangsa-bangsa.
"Sikap ini mencerminkan konsistensi politik luar negeri bebas aktif Indonesia, menjadi sahabat bagi semua, menjaga kepentingan nasional dan berkontribusi nyata bagi perdamaian dunia" demikian Menbud Fadli Zon.(@Ng).