Festival Bangun Sahur Simfoni Harmoni Budaya dan Spirit Religi Pontianak

Festival Bangun Sahur Simfoni Harmoni Budaya dan Spirit Religi Pontianak
Suasana Pembukaan Festival Bangun Sahur oleh Wawako Pontianak Bahasan. (Foto: Dok. Panitia)

Spektroom – Denting rebana dan tabuhan beduk memecah malam di tepian Sungai Kapuas. Di halaman Masjid Jami' Sultan Syarif Abdurrahman, ratusan warga berkumpul, menyatu dalam irama Festival Musik Bangun Sahur yang kian menemukan panggungnya sebagai etalase budaya sungai Kota Pontianak.

Bagi Pemerintah Kota Pontianak, agenda tahunan ini bukan sekadar tradisi membangunkan sahur. Ada narasi sejarah yang ingin ditegaskan kembali—bahwa kota ini lahir dari tepian sungai, dari kawasan masjid tua yang berdiri sejak 1771 Masehi, berdampingan dengan Keraton Kadriyah sebagai penanda berdirinya Pontianak.

Masdjid Jami' Sultan Syarif Abdurahman Pontianak.

Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan menyebut festival ini sebagai momentum memperkuat identitas sejarah dan budaya kota. Masjid Jami' bukan hanya bangunan ibadah, melainkan titik awal peradaban Pontianak.

“Kita tidak boleh lupa bahwa cikal bakal Kota Pontianak bermula dari kawasan Masjid Jami ini. Karena itu, penyelenggaraan festival ke depan harus mampu menonjolkan nilai historis tersebut,” ujarnya saat membuka kegiatan, Minggu (22/02/2026) malam.

Di bawah langit malam yang berpendar cahaya lampu panggung, suara musik tradisional berpadu dengan kreativitas generasi muda. Festival ini tumbuh dari tradisi lama masyarakat Melayu membangunkan sahur dengan alat musik sederhana. Kini, bertransformasi menjadi ruang ekspresi seni, sekaligus medium promosi wisata berbasis budaya sungai.

Pemkot pun menyiapkan langkah strategis. Salah satunya, mengarahkan tata letak panggung menghadap Alun-Alun Sungai Kapuas. Konsep ini dinilai memperkuat visual acara, terutama bagi warga dan wisatawan yang melintas di jalur perairan Kapuas—nadi kehidupan kota sejak berabad silam.

Dengan orientasi panggung ke sungai, festival diharapkan menghadirkan lanskap ikonik: masjid berarsitektur kayu khas Melayu, gemerlap cahaya malam, dan riak Kapuas sebagai latar alami. Sebuah komposisi yang tak hanya estetis, tetapi juga sarat makna historis.

Bahasan memastikan dukungan penuh pemerintah agar festival ini berkembang lebih profesional dan tertata. Rebranding kawasan Istana Kadriah dan Masjid Jami sebagai pusat budaya sungai menjadi bagian dari visi tersebut.

Di tengah arus modernisasi, Festival Musik Bangun Sahur menjadi pengingat bahwa identitas kota tak pernah lepas dari sejarahnya. Di tepian Kapuas, tradisi dan masa depan berjumpa—menghidupkan kembali denyut peradaban yang bermula dari azan pertama di Masjid Jami.

Berita terkait

Baru Dilantik Jadi Perwira TNI, Atlet Sumbar Gilang Ilhaza Dipanggil Pelatnas Asian Games 2026

Baru Dilantik Jadi Perwira TNI, Atlet Sumbar Gilang Ilhaza Dipanggil Pelatnas Asian Games 2026

Padang–Spektroom : Prestasi membanggakan kembali ditorehkan atlet gulat Sumatera Barat, Gilang Ilhaza. Peraih medali perak SEA Games Thailand 2026 itu resmi dipanggil mengikuti Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) sebagai persiapan menuju Asian Games 2026 di Nagoya, Jepang. Pemanggilan tersebut dilakukan oleh Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) melalui surat resmi tertanggal 16

Rafles