Gamelan Sekaten Kembali Menggema, Warga Datang Menikmati Tradisi Menyambut Maulid Nabi

Gamelan Sekaten Kembali Menggema, Warga Datang Menikmati Tradisi Menyambut Maulid Nabi
Gamelan Sekaten di bangsal Pradonggo kompleks masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta, mulai dibunyikan, sebagai bagian dari tradisi menyambut Maulid Nabi sekaligus sarana dakwah Islam. (Foto: Dok. Ciptati Handayani)

Surakarta-Spektroom : Alunan gamelan Sekaten kembali menggema dari Bangsal Pradonggo atau Bangsal Sekati, kompleks Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Tradisi tahunan menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut menarik perhatian warga yang ingin mendengarkan langsung suara gamelan pusaka Keraton Surakarta.

Irama gending yang khas membuat sejumlah pengunjung sengaja datang ke Masjid Agung untuk menyaksikan sekaligus mendengarkan gamelan Sekaten yang hanya dibunyikan dalam rangkaian perayaan Maulid Nabi.

Suradi, warga Sukoharjo, mengaku selalu menyempatkan diri datang setiap tradisi Sekaten digelar. Baginya, mendengarkan langsung gamelan Sekaten menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari suasana perayaan tersebut.

“Saya selalu berusaha ke Masjid Agung setiap ada tradisi Sekaten untuk mendengarkan langsung gamelan Sekaten. Rasanya kurang afdol datang ke Sekaten tanpa melihat dan mendengarkan langsung gamelannya,” ungkap Suradi kepada Spektroom, Jumat (21/8/2026).

Pria berusia 60 tahun itu mengatakan, suara gamelan Sekaten memiliki nuansa berbeda dibandingkan gamelan pada umumnya. Selain menikmati keindahan gending, ia merasakan suasana batin yang berkaitan dengan doa, rasa syukur dan harapan.

“Indah gendingnya, dan iramanya hanya ditemui di gamelan Sekaten ini. Harapannya, semoga Allah SWT melimpahkan berkah dan rezeki kepada kita semua,” ujarnya.

Pengunjung lainnya, Noviana, mahasiswa asal Boyolali, mengaku baru pertama kali menyaksikan gamelan Sekaten. Ia datang bersama teman dan saudaranya setelah melaksanakan salat di Masjid Agung Surakarta.

“Baru pertama. Kebetulan ramai-ramai melihat Sekaten. Ternyata di halaman Masjid Agung ada gamelan dari Keraton. Penasaran, saya menunggu sampai dibunyikan dan ternyata suara gamelannya unik,” katanya.

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Agung Surakarta sekaligus Penghulu Tafsir Anom Keraton Kasunanan Surakarta, KH Muhammad Muhtarom, menjelaskan, gamelan Sekaten dibunyikan sebagai bagian dari tradisi menyambut Maulid Nabi sekaligus sarana dakwah Islam yang memiliki akar sejarah panjang di tanah Jawa.

Menurutnya, dua perangkat gamelan pusaka Keraton, Kanjeng Kiai Guntur Madu dan Kanjeng Kiai Guntur Sari, dibunyikan oleh para pengrawit Keraton selama rangkaian Sekaten.

“Miyos gongso atau keluarnya gamelan dari Keraton pada 19 Agustus, kemudian dibunyikan setiap hari selama tujuh hari hingga 26 Agustus 2026 sebagai puncak perayaan Sekaten yang nanti ditandai dengan Grebeg Maulid,” jelasnya.

Ia menambahkan, kata Sekaten sering dihubungkan dengan istilah Syahadatain, yakni dua kalimat syahadat. Karena itu, tradisi tersebut tidak hanya menghadirkan pertunjukan budaya, tetapi juga membawa pesan keimanan, dzikir dan ajaran akhlak mulia. (Ciptati Handayani)

Berita terkait