Gereja Kapal St.Fransiskus Xaverius Pacitan, Destinasi Wisata Rohani Jawa Timur

Gereja Kapal St.Fransiskus Xaverius Pacitan, Destinasi Wisata Rohani Jawa Timur

Spektroom -Saat jurnalis Spektroom berkunjung ke gereja ini akhir bulan lalu (31/1/2026) kesan unik langsung terasa saat melihat gereja di Jalan Pierre Tendean. Bukan mirip rumah, bentuknya identik dengan sebuah bahtera.
Pemilihan arsitektur Gereja Santo Fransiskus Xaferius ini ternyata sarat filosofi. "Bangunan ini dirancang oleh mahasiswa universitas Katolik di Surabaya dengan memadukan apa yang menjadi pemikiran saya tentang nilai-nilai Kristiani terutama gereja Katolik," ucap Romo Sabas Kusnugroho, inisiator pembangunan gereja saat itu.

Dia pun memaparkan dari model bangunan berbentuk pentagonal asimetris. Lima sisi yang tidak saling bertemu itu, terang Romo Sabas, melambangkan kehidupan manusia yang tidak sempurna. Di sisi lain angka 5 juga merupakan simbol Pancasila.

"Kami bisa beribadah, bisa melaksanakan kewajiban agama dengan baik karena kita memiliki Pancasila dan kita berlindung di bawahnya," papar pastur kelahiran Gunungkidul, DIY itu.

Dari kelima singkap yang ada, posisinya tidak rata. Ada yang naik, ada pula yang turun. Itu merupakan simbolisasi dari gelombang. Hal ini tidak berlebihan. Karena posisi geografis Kabupaten Pacitan memang berdekatan dengan Samudera Indonesia.

"Maka kita juga mengangkat nilai atau kearifan lokal yaitu ini simbol dari gelombang Samudera Selatan," imbuhnya.

Dari sisi ajaran gereja, bangunan juga sarat makna iman Katolik. Salah satunya tergambar dengan huruf M. Karakter ini merujuk pada Bunda Maria. Sosok yang melahirkan Yesus Kristus sekaligus pelindung bagi umat Katolik.

Secara umum, bentuk bangunan yang mirip kapal juga memiliki arti khusus. Gereja, lanjut Romo Sabas, tak ubahnya kapal yang berlayar di samudera yang sangat luas. Samudera sendiri dimaknai kekuasaan Tuhan yang tanpa batas.

"Maka di sini bentuknya seperti kapal, lalu ada gambar gelombang-gelombang," tambahnya.

Bagian dalam gereja juga tak kalah unik. Material yang digunakan merupakan batuan asli Pacitan. Sedikitnya ada 40 jenis batu alam yang diambil dari seantero wilayah Kota 1001 Gua. Benda-benda tersebut disusun sedemikian rupa hingga membentuk mozaik dinding dan ornamen lain khas gereja.

Tidak itu saja, pada bagian lantai juga kental dengan nuansa khas batu alam. Bahkan altar yang berada di bagian depan juga terbuat dari batu. Di antara jenis batuan yang digunakan adalah andesit, marmer, jesper, fosil kayu serta beragam jenis lain.

"Mozaik dinding itu terdiri dari 10 jenis batu. Itu simbol dari 10 perintah Allah yang diturunkan kepada Nabi Musa. Dan ini menjadi sandaran bagi agama-agama samawi," terang pria yang juga aktif di kegiatan sosial tersebut.

Romo Sabas yakin geliat pariwisata Pacitan akan terus berkembang. Karenanya. Gereja kapal ini diharapkan memperkaya khazanah pariwisata, terutama wisata rohani. Gereja yang ikonik ini merupakan sumbangsih umat Katolik bagi dunia pariwisata Pacitan.

"Bahwa gereja ini bukan hanya milik umat Katolik tetapi juga milik masyarakat Pacitan," tuturnya.

Nilai lain yang dimasukkan dalam unsur bangunan adalah mitigasi bencana. Seperti diketahui, sebagian titik di Kota Pacitan merupakan kawasan rawan bencana banjir. Alasan itu pula yang mendasari dibuatnya konstruksi gereja relatif tinggi. Ruangan di dalamnya juga dirancang sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk tempat evakuasi sementara saat bencana.

"Lalu bangunan miring ini kalau ada gempa, material akan jatuh keluar sehingga tidak menimpa orang-orang yang ada di dalam," pungkas Romo Sabas terkait tempat ibadah itu.(Purwo & Ye).

Berita terkait