Gula Kelapa di Tengah Gejolak Global: Bertahan di Antara Harga dan Harapan
Banyumas-Spektroom: Gejolak global akibat konflik di kawasan Teluk mulai terasa hingga ke dapur-dapur produksi di pelosok desa Indonesia.
Perang yang memicu gangguan distribusi minyak mentah dunia itu berdampak luas, termasuk pada rantai pasok energi dan harga komoditas. Sejumlah kapal tanker kesulitan berlayar akibat blokade dan larangan di sejumlah wilayah, membuat pasokan energi tersendat dan harga melonjak.
Di dalam negeri, pemerintah bergerak cepat. Kebijakan penghematan energi diterapkan, termasuk skema work from home (WFH) pada hari tertentu untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Namun, langkah itu belum cukup. Pada 18 April 2026, harga BBM nonsubsidi resmi naik. Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mengalami penyesuaian harga, sementara BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar masih ditahan.
Kenaikan ini tak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga merambat ke berbagai lini industri, termasuk industri kecil dan menengah. Salah satunya dirasakan para pengusaha gula kelapa di Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas—sentra produksi gula kelapa yang selama ini menyuplai pasar lokal hingga ekspor.
Anang Iqdam Baikuni , pemilik UD Ngudi Lestari, desa Kalisalak kecamatan Kebasen, menjadi salah satu UKM pelaku usaha yang merasakan langsung tekanan tersebut. Ia menyebut, lonjakan harga bahan pendukung produksi menjadi pukulan awal.
“Harga plastik naik dua kali lipat. Dari sekitar Rp26 ribu sekarang jadi Rp55 ribu. Itu cukup mengejutkan,” ujarnya (Senin 20/4/2026)
Tak hanya itu, dampak yang lebih besar justru datang dari sektor logistik global. Menurut Anang, biaya pengiriman ekspor melonjak drastis hingga dua kali lipat akibat sulitnya mendapatkan kapal. Bahkan, salah satu pengiriman ke luar negeri terpaksa ditunda.
“Barang sudah siap kirim, tapi dibatalkan karena sulit cari kapal dan ongkos kirim naik. Akhirnya eksportir menunda sambil negosiasi ulang harga dengan pembeli di luar negeri,” katanya.

Kondisi ini memaksa Anang dan pelaku usaha lain untuk memutar strategi. Alih-alih mengandalkan pasar ekspor, mereka mulai memperkuat pasar domestik.
Penjualan diarahkan ke kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, hingga Kalimantan untuk menjaga arus kas tetap berjalan.Namun, dilema tetap ada. Di tengah lonjakan biaya produksi, harga jual tidak bisa serta-merta dinaikkan.
Daya beli pasar yang belum siap membuat para pengusaha harus rela memangkas margin keuntungan.
“Kalau dulu bisa ambil untung 10 persen, sekarang paling 3 sampai 5 persen. Yang penting usaha tetap jalan,” ujar Anang.
Di sisi lain, persoalan klasik juga belum terpecahkan: menurunnya jumlah petani nira akibat minimnya regenerasi. Dari ratusan mitra yang dulu dimiliki, kini hanya tersisa sebagian kecil yang masih aktif. Produksi pun ikut tergerus.
Meski demikian, harapan tetap disematkan kepada pemerintah. Anang berharap harga BBM subsidi tetap dipertahankan agar tidak menambah beban biaya produksi dan distribusi.
“Kalau BBM subsidi ikut naik, pasti semua biaya ikut naik. Kami berharap yang subsidi tetap dijaga,” katanya.
Di tengah tekanan global dan tantangan lokal, industri gula kelapa bertahan dengan segala keterbatasan. Dari desa kecil di Banyumas, para pelaku usaha terus berupaya menjaga manisnya gula kelapa—meski dunia di sekelilingnya tengah bergejolak.