Gula Kelapa di Tengah Gejolak Global: Bertahan di Antara Harga dan Harapan

Gula Kelapa di Tengah Gejolak Global: Bertahan di Antara Harga dan Harapan
Gula semut produksi UKM desa Kalisalak Kebasen tembus manca negara, antara lain India, Singapura, Australia, dan Arab Saudi serta Canada. (Foto : Bian Pamungkas).

Banyumas-Spektroom: Gejolak global akibat konflik di kawasan Teluk mulai terasa hingga ke dapur-dapur produksi di pelosok desa Indonesia.

Perang yang memicu gangguan distribusi minyak mentah dunia itu berdampak luas, termasuk pada rantai pasok energi dan harga komoditas. Sejumlah kapal tanker kesulitan berlayar akibat blokade dan larangan di sejumlah wilayah, membuat pasokan energi tersendat dan harga melonjak.

Di dalam negeri, pemerintah bergerak cepat. Kebijakan penghematan energi diterapkan, termasuk skema work from home (WFH) pada hari tertentu untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).

Namun, langkah itu belum cukup. Pada 18 April 2026, harga BBM nonsubsidi resmi naik. Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mengalami penyesuaian harga, sementara BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar masih ditahan.

Kenaikan ini tak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga merambat ke berbagai lini industri, termasuk industri kecil dan menengah. Salah satunya dirasakan para pengusaha gula kelapa di Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas—sentra produksi gula kelapa yang selama ini menyuplai pasar lokal hingga ekspor.

Anang Iqdam Baikuni , pemilik UD Ngudi Lestari, desa Kalisalak kecamatan Kebasen, menjadi salah satu UKM pelaku usaha yang merasakan langsung tekanan tersebut. Ia menyebut, lonjakan harga bahan pendukung produksi menjadi pukulan awal.

“Harga plastik naik dua kali lipat. Dari sekitar Rp26 ribu sekarang jadi Rp55 ribu. Itu cukup mengejutkan,” ujarnya (Senin 20/4/2026)

Tak hanya itu, dampak yang lebih besar justru datang dari sektor logistik global. Menurut Anang, biaya pengiriman ekspor melonjak drastis hingga dua kali lipat akibat sulitnya mendapatkan kapal. Bahkan, salah satu pengiriman ke luar negeri terpaksa ditunda.

“Barang sudah siap kirim, tapi dibatalkan karena sulit cari kapal dan ongkos kirim naik. Akhirnya eksportir menunda sambil negosiasi ulang harga dengan pembeli di luar negeri,” katanya.

15 ton gula kelapa siap eksport ke Singapura terpaksa tertunda akibat kondisi global. (Foto : Bian Pamungkas).

Kondisi ini memaksa Anang dan pelaku usaha lain untuk memutar strategi. Alih-alih mengandalkan pasar ekspor, mereka mulai memperkuat pasar domestik.

Penjualan diarahkan ke kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, hingga Kalimantan untuk menjaga arus kas tetap berjalan.Namun, dilema tetap ada. Di tengah lonjakan biaya produksi, harga jual tidak bisa serta-merta dinaikkan.

Daya beli pasar yang belum siap membuat para pengusaha harus rela memangkas margin keuntungan.

“Kalau dulu bisa ambil untung 10 persen, sekarang paling 3 sampai 5 persen. Yang penting usaha tetap jalan,” ujar Anang.

Di sisi lain, persoalan klasik juga belum terpecahkan: menurunnya jumlah petani nira akibat minimnya regenerasi. Dari ratusan mitra yang dulu dimiliki, kini hanya tersisa sebagian kecil yang masih aktif. Produksi pun ikut tergerus.

Meski demikian, harapan tetap disematkan kepada pemerintah. Anang berharap harga BBM subsidi tetap dipertahankan agar tidak menambah beban biaya produksi dan distribusi.

“Kalau BBM subsidi ikut naik, pasti semua biaya ikut naik. Kami berharap yang subsidi tetap dijaga,” katanya.

Di tengah tekanan global dan tantangan lokal, industri gula kelapa bertahan dengan segala keterbatasan. Dari desa kecil di Banyumas, para pelaku usaha terus berupaya menjaga manisnya gula kelapa—meski dunia di sekelilingnya tengah bergejolak.

Berita terkait

Mengais Rejeki  Dihari Kemerdekaan RI: Pedagang Musimam di Mimika Jual Atribut Merah Putih

Mengais Rejeki Dihari Kemerdekaan RI: Pedagang Musimam di Mimika Jual Atribut Merah Putih

Mimika-Spektroom : Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, para pedagang musiman atribut Merah Putih mulai bermunculan dan membuka lapak di pinggir jalan utama di berbagai kota untuk menawarkan bendera, umbul-umbul serta berbagai perhiasan lainnya. Gunawan salah satunya, pedagang pernak pernik hari kemerdekaan juga bendera Merah Putih,

Anthonius Teniwut, Julianto
Dari Kemudahan Izin Menuju Peluang Kerja, Kalteng Tembus 10 Besar Nasional Layanan Investasi

Dari Kemudahan Izin Menuju Peluang Kerja, Kalteng Tembus 10 Besar Nasional Layanan Investasi

Palangka Raya-Spektroom : Di balik proses perizinan yang semakin cepat dan mudah, terbuka harapan baru bagi tumbuhnya investasi, lahirnya lapangan kerja, dan bergeraknya roda perekonomian daerah. Upaya Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dalam membenahi pelayanan publik kini membuahkan pengakuan di tingkat nasional. Berdasarkan Keputusan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM RI Nomor

Polin, Julianto
Pramono Optimistis Transaksi Jakarta Sneaker Day 2026 Lampaui Rp30 Miliar, UMKM Ikut Terdongkrak

Pramono Optimistis Transaksi Jakarta Sneaker Day 2026 Lampaui Rp30 Miliar, UMKM Ikut Terdongkrak

Jakarta-Spektroom : Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, optimis nilai transaksi Jakarta Sneaker Day (JSD) Blok M Festival 2026 mampu melampaui capaian tahun sebelumnya yang mencapai sekitar Rp30 miliar. Optimisme tersebut didorong tingginya antusiasme masyarakat yang memadati kawasan Blok M pada hari pertama penyelenggaraan. "Tahun lalu ketika diadakan di JCC, nilai

Irvan Idris Saleh, Julianto
ссс