Hadiri Dies Natalis Unila, Gubernur Mirza Paparkan Lampung Sebagai Lumbung Pangan Strategis Nasional
Bandarlampung - Spektroom: Sejak berdiri pada 23 September 1965, Universitas Lampung (Unila) telah menempuh perjalanan panjang, dari perguruan tinggi yang lahir dari cita-cita masyarakat Lampung, menjadi universitas yang terus memperkuat kualitas pendidikan, penelitian, pengabdian, tata kelola, serta kontribusinya di tingkat daerah nasional maupun di internasional.
Angka 61, bukan sekedar angka usia, ini adalah perjalanan tentang kerja keras, pembelajaran, perubahan, dan tanggung jawab untuk memastikan bahwa keberadaan Unila semakin memberikan manfaat.
Hal itu disampaikan Rektor Unila Prof. Lusmeilia Afriani pada Rapat Luar Biasa Senat Universitas Lampung Dalam Rangka Dies Natalis Ke-61 Universitas Lampung, di Gedung Serbaguna Unila, Rabu, 23 September 2026.
Prof. Lusmeilia mengatakan Dies Natalis ke-61 bukan hanya momentum untuk mengenang perjalanan, tetapi juga kesempatan untuk melihat kembali apa yang telah kita bangun dan kemana kita akan melangkah.
Pada momentum strategis transisi dari kerangka delapan indikator kinerja utama menuju dikti Saintec berdampak sekaligus sebagai refleksi perjalanan periode kepemimpinan tahun 2023-2027.
"Capaian tidak cukup dibaca sebagai angka, capaian harus dilihat sebagai rantai kinerja yang menghubungkan kebijakan, program, output, outcome hingga dampak bagi mahasiswa lulusan, mitra, masyarakat, dunia kerja, dunia usaha, lingkungan, dan pembangunan" ujar Rektor, Rabu (23/9/2026).
Prof. Rusmelia Afriani melanjutkan, slogan Be Strong menjadi visi, misi, template mengikat, dan program kerja berisi nilai-nilai (core values) yang menjadi benang merah, dies natalis ke-61 pada hari ini, Be Strong merupakan implementasi dari Bisnis, Informan, Service, Teaching, Research, Organizational Partnership, Network, serta Infrastruktur dan Good Government.
"Sebagai fondasi kelembagaan yang kuat, tangguh, adaptif, dan berdaya saing" tandas Rusmelia diakhir laporannya.
Sementara diforum yang sama Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djauzal menyampaikan bagi pemerintah, perguruan tinggi merupakan tempat kita mengembangkan ilmu, memperoleh bekal sebagai calon pemimpin, calon pengusaha, dan tentunya calon pembawa perubahan bagi provinsi Lampung.
"Karena itu, saya melihat Dies Natalis ke 61 Universitas Lampung adalah tahun berkarya, bersinergi menjadi pusat inovasi berdampak merupakan wujud nyata atas keberadaan Unila sebagai perguruan tinggi yang terus menjawab persoalan yang ada di tengah masyarakat" ujar Mirza.
Gubernur menambahkan, provinsi Lampung tidak kaya dengan tambang atau mineral, namun kaya akan bahan pangan dan ke depan kebutuhan pangan baik di provinsi Lampung, Indonesia bahkan di dunia ini akan sangat strategis bagi daerah-daerah yang menjadi penghasil pangan.

Gubernur Mirza juga memaparkan profil komparatif Lampung sebagai lumbung pangan strategis Nasional. Produksi gabah/padi Lampung menembus 3,5 juta ton dengan separuhnya didistribusikan guna menyuplai kebutuhan pangan lintas provinsi. Selain surplus jagung yang menopang industri unggas dan telur wilayah DKI Jakarta dan Pulau Jawa,
"Lampung menyuplai 70 persen tapioka nasional sekaligus menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia, eksportir 60 persen kopi nasional, produsen lada terbesar, serta penghasil gula peringkat kedua" terang Gubernur.
Namun demikian, Mirza mengungkapkan bahwa selama belasan tahun limpahan kekayaan agraris belum dirasakan optimal bagi kesejahteraan petani akibat volatilitas harga komoditas mentah.
Titik balik fundamental terjadi melalui intervensi perlindungan komoditas diera Presiden Prabowo Subianto yang berhasil mengungkit pendapatan petani dan mendongkrak laju ekonomi daerah.
"Selama 15 tahun, Provinsi Lampung ini pertumbuhan ekonominya selalu di bawah rata-rata nasional. 2026 kemarin kita nomor dua tertinggi se-Sumatera, jadi setelah Kepri, Lampung, karena harga komoditas," ujar Gubernur Mirza.(@Ng).