Hari Ke-33 Berjibaku di Tumbang Nusa, Satgas Udara dan Darat Terus Kepung Karhutla Kalteng

"Penanganan Karhutla terus dilakukan dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia, mulai dari dukungan helikopter hingga regu pemadam di darat."

Hari Ke-33 Berjibaku di Tumbang Nusa, Satgas Udara dan Darat Terus Kepung Karhutla Kalteng
Apel siaga Kepala Pelaksana BPBPK Prov KalTeng, Ahmad Toyib : operasi penanganan secara terpadu mengerahkan seluruh potensi yang dimiliki. (Foto: Humas BPBPK KTg)

Palangka Raya-Spektroom : Memasuki hari ke-33 penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, personel Satgas Pengendalian Karhutla Kalimantan Tengah masih berjibaku tanpa henti. Dukungan patroli udara, pemadaman darat, hingga patroli masyarakat terus digencarkan untuk memastikan api tidak kembali meluas di tengah musim kemarau.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Provinsi Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib, mengatakan operasi penanganan dilakukan secara terpadu dengan mengerahkan seluruh potensi yang dimiliki, mulai dari Satgas Udara hingga Satgas Darat.

"Penanganan Karhutla terus dilakukan dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia, mulai dari dukungan helikopter hingga regu pemadam di darat. Seluruh personel bekerja sesuai tugasnya masing-masing dan terus melaporkan perkembangan kondisi di lapangan," ujarnya, Senin (3/8/2026).

Sebanyak empat regu Satgas Udara melaksanakan patroli, pemantauan titik panas (hotspot), pengintaian, serta mendukung operasi water bombing bila diperlukan. Operasi udara didukung helikopter Bell 206 L3, Grand Caravan Cessna 208B-EX, serta dua helikopter water bombing, yakni SA330J Puma dan Sikorsky EH-60A Blackhawk.

Sementara itu, 17 regu Satgas Darat disiagakan. Sebanyak 13 regu difokuskan di wilayah Tumbang Nusa untuk pemadaman, pendinginan, dan patroli, sedangkan empat regu lainnya bersiaga di Pos Komando sebagai cadangan dan pendukung operasional.

Tim melakukan sosialisasi karhutla di rumah rumah warga. (Foto: Huma BPBPK KTg)

Berdasarkan data BMKG Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, terdeteksi 125 titik panas di Kalimantan Tengah pada periode 2 Agustus 2026. Meski demikian, hasil patroli udara, verifikasi Sipongi, dan indikator Fine Fuel Moisture Code (FFMC) menunjukkan kondisi karhutla secara umum masih terkendali. Sebagian besar titik panas telah dinyatakan aman atau target clear.

Meski begitu, perhatian khusus masih diberikan pada sejumlah wilayah yang berpotensi memunculkan kembali titik api, di antaranya Kabupaten Barito Selatan, Barito Timur, Gunung Mas, dan beberapa lokasi lain yang masih ditemukan sisa asap maupun aktivitas pembukaan lahan.

Di Tanjung Taruna, Kabupaten Pulang Pisau, tim gabungan juga berhasil mengendalikan kebakaran lahan gambut seluas sekitar 0,4 hektare menggunakan pompa berkapasitas besar dengan memanfaatkan sumber air dari embung. Proses dilanjutkan dengan pembasahan dan pendinginan agar bara api tidak kembali menyala.

Selain pemadaman, upaya pencegahan terus diperkuat melalui patroli Masyarakat Peduli Api (MPA), sosialisasi larangan membuka lahan dengan cara membakar, hingga siaran keliling dan pembagian masker kepada warga di kawasan rawan karhutla.

Operasi terpadu yang melibatkan BPBPK, Dinas Kehutanan, Tim Serbu Api Kalimantan (TSAK), TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta berbagai unsur lainnya akan terus dilaksanakan selama ancaman karhutla masih berlangsung. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menegaskan komitmennya menjaga Bumi Tambun Bungai tetap aman dari kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau. (Polin-Ros)

Berita terkait

Perang Sunyi dari Pedalaman Kalimantan: Ketika Rakyat Landak Menumpahkan Darah demi Merah Putih

Perang Sunyi dari Pedalaman Kalimantan: Ketika Rakyat Landak Menumpahkan Darah demi Merah Putih

Oleh: Syafaruddin Daeng Usman Landak - Spektroom : Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada 17 Agustus 1945 di Jakarta. Namun bagi masyarakat Landak, wilayah pedalaman Kalimantan Barat yang saat itu terisolasi dari pusat informasi, kabar kemerdekaan tidak serta-merta tiba. Ketika berita itu akhirnya sampai, semangat mempertahankan republik yang baru lahir justru menyala

Apolonius Welly, Rafles