HUT ke 81 PMI Mengingat Kembali Arti Kemanusiaan di Pusara Bung Hatta

HUT ke 81 PMI   Mengingat Kembali Arti Kemanusiaan di Pusara  Bung Hatta
Mengenang jasa Bung Hatta dalam momentum HUT ke-81 PMI, Jajaran Pemkot dan PMI Jakarta Selatan, ziarah dan tabur bunga di makam Mohammad Hatta, TPU Tanah Kusir, , Jaksel. ( Foto: Spektroom/ Iis)

Jakarta — Spektroom: Bunga-bunga ditaburkan perlahan di atas pusara Mohammad Hatta di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Rabu (16/9/2026). Tidak banyak kata yang terucap. Namun, dari tempat peristirahatan terakhir salah satu Proklamator Kemerdekaan Indonesia itu, sebuah pesan tentang kemanusiaan kembali diingat.

Jajaran Pemerintah Kota dan Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Selatan datang untuk mengenang jasa Bung Hatta dalam momentum HUT ke-81 PMI. Ziarah dan tabur bunga bukan sekadar agenda peringatan.

Kegiatan itu menjadi kesempatan, membuka kembali lembaran sejarah tentang bagaimana sebuah organisasi kemanusiaan lahir di tengah situasi Indonesia yang pada waktu itu baru saja merdeka.

Wali Kota Jakarta Selatan, Syafrin, mengatakan Bung Hatta merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah awal PMI. Ia menyebut, berdasarkan cerita dari putri Bung Hatta, pengalaman sang Proklamator saat berkunjung ke Jenewa turut memberikan gambaran mengenai pentingnya pelayanan kemanusiaan, termasuk kebutuhan darah.

"Berdasarkan cerita dari putri beliau, Bung Hatta awalnya sempat berkunjung ke Jenewa dan kemudian mendapatkan gambaran mengenai kebutuhan warga terkait penyediaan darah di masa depan. Untuk itu, PMI didirikan di Indonesia agar masyarakat dapat terus merasakan manfaat dan jasa beliau dalam bidang kemanusiaan," ujarnya.

PMI resmi berdiri pada 17 September 1945, Kehadiran organisasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pelayanan kemanusiaan Indonesia di tengah situasi pascakemerdekaan yang penuh tantangan.


PMI membantu korban pertempuran, pengungsi, hingga mereka yang membutuhkan pertolongan akibat konflik dan situasi darurat.
Kini, lebih dari delapan dekade kemudian, tantangan kemanusiaan telah berkembang. Bencana alam, kebakaran, kebutuhan darah, hingga berbagai kondisi darurat masyarakat membutuhkan respons yang cepat dan terorganisasi.

Syafrin, menilai semangat yang diwariskan para pendiri PMI harus diterjemahkan sesuai perkembangan zaman. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi digital untuk mendekatkan PMI dengan generasi muda.

"Mengingat masyarakat semakin melek teknologi, PMI harus mampu merangkul kaum milenial dengan memanfaatkan platform digital agar mereka memahami sejarah dan alasan Bung Hatta mendirikan PMI," terangnya.

Menurut Syafrin, masyarakat perlu memahami, PMI bukan hanya tentang donor dan penyediaan darah. Organisasi tersebut memiliki peran menangani berbagai potensi bencana. Karena itu, momentum Bulan Dana PMI dapat menjadi ruang untuk memperkuat budaya gotong royong.

"Kontribusi sekecil apa pun, jika dilakukan secara kolektif dan kolegial, akan menjadi besar dan memberikan banyak manfaat bagi para korban bencana," ucapnya.

Ketua PMI Jakarta Selatan, Mundari, mengatakan ziarah ke makam Bung Hatta diharapkan membuat masyarakat semakin mengenal sejarah PMI sekaligus nilai kemanusiaan yang melatarbelakangi kelahirannya.

"Kami ingin PMI tetap solid, selalu berada di tengah masyarakat, memberikan bantuan secara maksimal kepada masyarakat, serta bersama masyarakat dan OPD saling membantu dalam menghadapi berbagai kebencanaan," jelasnya.

Berita terkait

Gubernur Maluku Dorong Penyelesaian Sengketa Aset Banda 3.700 Hektar dan Penataan Batas Taman Nasional Manusela

Gubernur Maluku Dorong Penyelesaian Sengketa Aset Banda 3.700 Hektar dan Penataan Batas Taman Nasional Manusela

Jakarta-Spektroom: Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, mendorong pemerintah pusat dan Komisi II DPR RI untuk segera menyelesaikan penataan aset perkebunan pala di Kepulauan Banda serta melakukan rekonstruksi ulang tata batas Taman Nasional Manusela. Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Ruang Rapat Komisi II, Senayan, Jakarta,

Eva Moenandar, Pelinus Latuheru
Sulawesi Tenggara Akan Memiliki Bendungan Terbesar Pesosika

Sulawesi Tenggara Akan Memiliki Bendungan Terbesar Pesosika

Jakarta – Spektroom :  Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan pembangunan Bendungan Pelosika di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), sebagai bagian dari target pembangunan infrastruktur baru bidang Sumber Daya Air tahun 2025–2029. Bendungan Pelosika diproyeksikan menjadi bendungan terbesar ketiga di Indonesia setelah Bendungan Jatiluhur dan Jatigede, sekaligus menjadi bendungan terbesar di Sultra.

Nurana Diah Dhayanti