HUT RRI ke-81: Strategi RRI Menghadapi Digitalisasi

HUT RRI ke-81:  Strategi RRI Menghadapi Digitalisasi
Flyer Spektroom (Repro ChatGpt)

Oleh: Dr. H.M. Kabul Budiono, M.Pd.

“Sekali di Udara, Tetap di Udara.”
Pada 11 September 2026, Radio Republik Indonesia (RRI) genap berusia 81 tahun. Usia yang bukan sekadar angka, melainkan perjalanan panjang sebuah institusi yang lahir hampir bersamaan dengan lahirnya Republik Indonesia.

RRI lahir ketika bangsa ini membutuhkan suara untuk mempertahankan kemerdekaan. Melalui gelombang radio, RRI menghadirkan berita, informasi, pendidikan, dan hiburan, sekaligus menemani perjalanan bangsa selama lebih dari delapan dekade.

Berbeda dengan masa awal kelahirannya hingga era pascareformasi, angkasawan dan angkasawati RRI kini bekerja dalam lingkungan yang jauh berbeda, yakni era digital. Karena itu, muncul pertanyaan mendasar: RRI seperti apa yang diperlukan masyarakat Indonesia di era digital?.

Perubahan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Masyarakat tidak lagi harus menunggu jam siaran. Informasi, materi pendidikan, dan hiburan dapat diperoleh melalui telepon pintar.

Video dapat ditonton kapan saja, podcast didengarkan sesuai waktu yang dipilih, sementara media sosial memungkinkan setiap orang menjadi sekaligus produsen dan konsumen informasi.

Dalam situasi tersebut, RRI tentu tidak dapat menafikan perubahan ekosistem media massa. Mau tidak mau, suka tidak suka, RRI telah berada dalam ekosistem multiplatform.

Namun, masuk ke dunia digital tidak berarti RRI harus kehilangan identitasnya sebagai media audio.
Inilah yang menurut saya perlu menjadi kesadaran strategis seluruh angkasawan dan angkasawati RRI.

Digitalisasi bukan berarti meniru televisi. Digitalisasi juga bukan berarti mengubah RRI menjadi media online. Digitalisasi adalah cara baru agar kekuatan audio RRI dapat menjangkau masyarakat melalui cara yang sesuai dengan perilaku media masyarakat saat ini.
Karena itu, yang perlu dilakukan bukan sekadar memindahkan siaran radio ke YouTube, Facebook, Instagram, TikTok, atau platform lainnya.

Yang lebih penting adalah menjawab bagaimana RRI mengantisipasi era digital yang antara lain ditandai oleh konvergensi media.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pengelola RRI perlu membuka diri menjadi learning organization, sebuah organisasi pembelajar. Salah satunya dengan mempelajari strategi media penyiaran publik yang lebih maju.

Kita dapat melihat BBC yang berdiri sejak 1923. Institusi penyiaran publik Inggris tersebut mampu bertahan dan tetap dipercaya publik, baik di Inggris maupun di tingkat internasional.

BBC tidak merespons digitalisasi dengan meninggalkan radio dan televisi. Sebaliknya, BBC memindahkan hubungan dengan audiens ke lingkungan digital sambil mempertahankan public service mission dan kekuatan editorialnya.

Setidaknya ada delapan pelajaran penting yang dapat dipetik RRI.

  1. Tidak melawan banjir informasi, tetapi menjadi sumber yang dipercaya
    Di era internet, persoalannya bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi. Karena itu, BBC tidak berusaha menjadi sumber dengan jumlah informasi terbanyak. BBC berusaha menjadi sumber yang dipercaya, terkurasi, dan memiliki nilai editorial.
    Pada BBC.com, misalnya, halaman depan tidak sekadar menampilkan semua berita yang tersedia. BBC menggabungkan berita utama dengan editor's picks, yakni cerita yang dinilai relevan, penting, dan menarik oleh editor.
    Ini penting bagi RRI.
    RRI tidak perlu memenangkan perang jumlah konten. RRI harus memenangkan perang kepercayaan.
    Karena itu, pelaksana RRI News tidak dapat memisahkan diri dari kebijakan dan agenda redaksi Pusat Pemberitaan. Konsistensi editorial menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan publik.
  2. Mengubah broadcasting menjadi on demand
    Ini merupakan salah satu perubahan paling fundamental.
    Dulu broadcaster menentukan kapan audiens mendengarkan. Sekarang audiens menentukan kapan mereka ingin mendengarkan.
    BBC mengembangkan BBC Sounds sebagai pengalaman audio digital yang menggabungkan radio live, podcast, dan konten on demand.
    Pelajarannya bagi RRI sederhana: jangan hanya berpikir, “Bagaimana orang mendengarkan RRI?”
    Tetapi juga bertanya, “Bagaimana masyarakat ingin mendengarkan audio, dan bagaimana RRI hadir di sana?”
  3. Membuat konten berbeda untuk perilaku audiens yang berbeda
    BBC memahami bahwa radio linear dan podcast bukanlah hal yang sama.
    Podcast memungkinkan cerita yang lebih personal, mendalam, episodik, dan dapat dikonsumsi kapan saja. Karena itu, digital bukan sekadar “program radio yang direkam kemudian diunggah”.
    Konten digital harus dirancang sejak awal sesuai dengan karakter konsumsi digital.
    Satu isu, misalnya, dapat dikembangkan menjadi versi siaran radio, podcast 30 menit, audio pendek tiga sampai lima menit, potongan wawancara, konten media sosial, dan versi on demand.
    Intinya: satu kerja jurnalistik, banyak bentuk distribusi.
  4. Menggunakan data untuk memahami audiens
    Ini mungkin salah satu pelajaran paling penting bagi RRI.
    Transformasi digital BBC didukung infrastruktur data untuk analitik, personalisasi, pemahaman audiens, dan eksperimen pada berbagai produknya.
    Pertanyaan yang harus dijawab bukan hanya siapa yang mendengarkan, tetapi juga apa yang mereka dengarkan, kapan mereka mendengarkan, apa yang membuat mereka kembali, dan konten apa yang tidak mereka konsumsi.
    Dengan demikian, data menjadi kompas, bukan sekadar statistik.
    Program dan strategi distribusi tidak boleh hanya didasarkan pada perkiraan, apalagi coba-coba. Karena itu, setiap programa dan program RRI harus semakin kuat didasarkan pada riset kebutuhan pendengar.
  5. Tidak menyerahkan hubungan dengan audiens sepenuhnya kepada platform lain
    BBC memang hadir di platform eksternal seperti Apple dan Spotify. Namun, BBC juga membangun ekosistem digitalnya sendiri, antara lain BBC Sounds dan iPlayer.
    Mengapa? Karena jika seluruh hubungan dengan audiens diserahkan kepada YouTube, TikTok, Instagram, Spotify, dan platform lainnya, broadcaster pada akhirnya berisiko hanya menjadi pemasok konten bagi perusahaan platform.
    BBC berusaha tetap memiliki hubungan langsung dengan audiens melalui ekosistem digitalnya sendiri.
    Ini merupakan pelajaran strategis bagi RRI.
    RRI memang harus hadir di YouTube, Spotify, Instagram, TikTok, dan berbagai platform lainnya. Tetapi jangan sampai RRI memiliki konten sementara platform lain memiliki audiensnya.
  6. Tidak membuang kekuatan radio
    BBC tidak mengatakan, “Radio sudah mati. Semua harus digital.”
    Sebaliknya, BBC mengembangkan radio dan digital secara bersamaan.
    Podcast dan program digital dikembangkan untuk memperluas jangkauan program linear. Artinya, radio dan program digital saling memperkuat.
    Inilah prinsip yang penting bagi RRI: digitalisasi seharusnya memperkuat radio, bukan menghapus radio.
  7. Mempertahankan public service mission
    Inilah pembeda utama media penyiaran publik dengan perusahaan media digital biasa.
    Tujuan akhirnya bukan sekadar mengejar klik, views, likes, atau followers.
    BBC tetap membawa mandat pelayanan publik. Karena itu, ketika menghadapi banjir informasi dan hiburan, BBC tidak hanya bertanya, “Apa yang paling banyak ditonton?”
    Tetapi juga, “Apa yang dibutuhkan publik?”
    Pelajarannya sederhana: platform boleh berubah, teknologi boleh berubah, dan cara distribusi boleh berubah. Tetapi misi pelayanan publik tidak boleh berubah.
    Inilah yang seharusnya menjadi inspirasi RRI. Bukan meniru BBC secara mentah, melainkan mengambil prinsipnya:
    “Meet the audience where they are, without abandoning who you are.”
  8. Riset pendengar harus menjadi kompas
    Di era digital, membuat program tidak boleh lagi hanya berdasarkan asumsi.
    “Menurut kita bagus” tidak cukup. “Program ini sudah lama ada” juga tidak cukup. Bahkan, “dulu pendengar menyukai program ini” belum tentu relevan untuk sekarang.
    RRI membutuhkan budaya audience research yang jauh lebih kuat.
    Setiap programa dan program seharusnya dirancang berdasarkan data mengenai siapa pendengarnya, apa kebutuhan informasinya, kapan mereka mengakses media, perangkat apa yang digunakan, platform apa yang paling sering digunakan, konten apa yang dicari, berapa lama mereka bertahan, dan yang paling penting, apa manfaat program tersebut bagi kehidupan mereka.
    Dengan demikian, keberhasilan RRI tidak cukup diukur dari berapa jam siaran berlangsung.

RRI Bukan Corong Pemerintah

Di sinilah persoalan yang jauh lebih fundamental muncul.
Sebagai Lembaga Penyiaran Publik, RRI harus tetap berada di tengah masyarakat. Pimpinan RRI, broadcaster, reporter, produser, penyiar, dan seluruh pelaksana operasional harus memahami bahwa penyiaran publik berbeda dengan penyiaran pemerintah.

Pemerintah memang merupakan bagian penting dari kehidupan bernegara dan harus diberitakan. Kebijakan pemerintah harus dijelaskan kepada masyarakat. Tetapi memberitakan pemerintah tidak sama dengan menjadi corong pemerintah.

RRI harus mampu menjalankan fungsi kontrol sosial, memberikan ruang kepada masyarakat, menghadirkan perspektif yang beragam, melakukan verifikasi, serta menyajikan informasi secara independen, berimbang, dan profesional.

Justru di tengah banjir informasi dan disinformasi digital, posisi inilah yang semakin penting.
Ketika masyarakat sulit membedakan mana informasi yang benar dan mana yang palsu, nilai terbesar RRI bukan terletak pada kecepatannya menjadi yang pertama, tetapi pada kemampuannya menjadi yang terpercaya.

Karena itu, independensi bukan sekadar norma kelembagaan. Independensi harus menjadi budaya kerja.

Menghadapi Gagasan RTRI
Pada saat RRI memperingati usia ke-81, muncul pula tantangan kelembagaan yang tidak kalah besar.

DPR RI telah mendorong perubahan regulasi penyiaran. Bahkan pada 8 September 2026, RUU Perubahan Ketiga atas UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran telah disetujui menjadi RUU inisiatif DPR.

Salah satu gagasan yang telah lama muncul adalah penggabungan RRI dan TVRI dalam suatu entitas RTRI.
Dalam dokumen harmonisasi RUU RTRI yang beredar, RTRI dirumuskan sebagai hasil peleburan RRI, TVRI, dan LPPL menjadi satu Lembaga Penyiaran Publik Nasional.
Gagasan ini tentu harus dicermati secara serius. Bukan dengan sikap apriori menolak perubahan, tetapi juga jangan sampai perubahan kelembagaan justru menghilangkan kekuatan khas masing-masing media.

Radio bukan televisi. Audio bukan video.

Kekuatan RRI bukan sekadar jumlah pemancar atau jumlah platform digital yang dimiliki. Kekuatan RRI adalah kedekatannya dengan masyarakat melalui suara.

Karena itu, jika pada akhirnya terjadi perubahan kelembagaan, pertanyaan mendasarnya harus tetap dijaga:
Apakah perubahan tersebut akan memperkuat atau justru melemahkan pelayanan publik?Apakah independensi akan semakin kuat atau semakin rentan?
Apakah karakter dan kekuatan audio RRI tetap terjaga?
Apakah masyarakat akan memperoleh pelayanan informasi yang lebih baik?.

Inilah pertanyaan yang harus dijawab sebelum berbicara mengenai struktur, nomenklatur, dan organisasi. RRI sebagai Organisasi Pembelajar.

Demikian catatan saya untuk RRI yang memasuki usia ke-81.
Menjadi organisasi pembelajar atau learning organization patut menjadi perhatian.

RRI perlu terus belajar dari keberhasilan maupun kegagalan organisasi lain, sekaligus melibatkan setiap elemen di dalam organisasi dalam proses perubahan.
Kebijakan tidak semestinya hanya berjalan secara top-down. Perubahan membutuhkan keterlibatan orang-orang yang setiap hari berhadapan langsung dengan pendengar dan masyarakat.

Dengan terus belajar, beradaptasi, memperkuat riset pendengar, menjaga independensi, dan memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan jati diri, semoga RRI ke depan tetap berada di hati rakyat, disegani dan diperhitungkan para pemangku kepentingan, serta terus menjadi media yang berperan dalam membangun masyarakat.
Dirgahayu Radio Republik Indonesia.

“Sekali di Udara, Tetap di Udara.”
M. Kabul Budiono

Berita terkait

Pemprov Kepri Perkuat Kerjasama dengan PT Taspen untuk Perlindungan dan Jaminan Kesejahteraan bagi ASN

Pemprov Kepri Perkuat Kerjasama dengan PT Taspen untuk Perlindungan dan Jaminan Kesejahteraan bagi ASN

Kepri–Spektroom : Komintmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Riau (Kepri) ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama dengan PT Taspen tentang penyelenggaraan produk asuransi bagi ASN. Penandatanganan kerja sama tersebut disejalankan dengan pembukaan Taspen Safety Day 2026 yang digelar di Aula Wan Seri Beni, Dompak, Tanjungpinang, Kamis (10/

Desmawati, Rafles
Lemhannas Studi Strategis Pengembangan Energi Terbarukan di Surakarta

Lemhannas Studi Strategis Pengembangan Energi Terbarukan di Surakarta

SURAKARTA – Spektroom: Upaya Kota Surakarta mengembangkan energi terbarukan dan mendorong kemandirian energi mendapat perhatian dalam kunjungan Studi Strategis Dalam Negeri (SSDN) Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXX Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) Tahun Anggaran 2026. Rombongan SSDN P4N LXX Lemhannas RI dipimpin Marsekal Muda TNI Paminto

Ciptati Handayani, Bian Pamungkas