Indonesia Serukan Pentingnya Peran BRICS Menjaga Stabilitas Global
Jakarta - Spektroom : Tahun 2026 merupakan tahun kedua Indonesia sebagai anggota BRICS, yang juga bertepatan dengan perayaan 20 tahun sejak dibentuknya BRICS pada tahun 2006.
Dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Menteri Luar Negeri ( Menlu ) BRICS, Menteri Luar Sugiono menyerukan BRICS harus berperan aktif dalam menjaga perdamaian dan stabilitas global, salah satunya dengan mendorong penegakkan hukum internasional secara adil dan tanpa standar ganda.
"Nilai terbesar BRICS terletak pada penguatan suara negara-negara berkembang dalam membentuk tatanan global masa depan”, ujar Menlu Sugiono pada BRICS Foreign Ministers’ Meeting (FMM) di New Delhi, 14 Mei 2026. melansir keterangan tertulis Kemlu RI, Jumat (15/5/2026).
Dalam kesempatan itu, Menlu Sugiono mengangkat masalah gugurnya empat penjaga perdamaian Indonesia yang bertugas di UNIFIL (pasukan sementara Perserikatan Bangsa Bangsa/PBB di Lebanon) dan menyerukan akuntabilitas penuh bagi pihak yang bertanggung jawab.
"Keselamatan personel penjaga perdamaian PBB adalah prinsip yang tidak boleh dikompromikan": tegas Sugiono.
Sejalan dengan tema Keketuaan India, Indonesia menyambut baik penguatan New Development Bank (NDB) dan menegaskan tengah menyelesaikan proses internal untuk bergabung.
Ke depan, Indonesia dapat memanfaatkan forum BRICS untuk terus memperkuat kolaborasi di sejumlah sektor strategis termasuk ekonomi, perubahan iklim, energi, kesehatan serta reformasi tata kelola global.
BRICS FMM merupakan forum utama BRICS di tingkat Menteri Luar Negeri serta merupakan bagian dari rangkaian menuju Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18, yang dijadwalkan dilaksanakan pada 12-13 September 2026 di New Delhi, India.
Bergabungnya Indonesia dalam BRICS bertujuan untuk memperkuat kerja sama negara Global South, memajukan kepentingan negara berkembang, mendorong reformasi multilateral, dan solidaritas perdamaian global.
BRICS merupakan blok ekonomi yang beranggotakan negara-negara berkembang. Nama ini diambil dari inisial negara inisiator yakni Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan.