Ironi Gedung Mewah : Tahun Ajaran Baru, Ratusan Siswa SD Masih Menumpang
Jakarta - Spektroom : Setiap hari, sepulang sekolah di sore yang gerah, Lia selalu menyempatkan diri menatap sebuah bangunan megah. Gedung berlantai lima di Jalan Gading Raya itu berdiri kokoh, tampak mewah, dan modern. Di sanalah seharusnya Lia dan ratusan temannya belajar. Namun, hingga dua pekan setelah tahun ajaran baru 2026/2027 dimulai, gedung itu hanyalah sebuah pemandangan mati.
"Bulan Agustus berapa bulan lagi, Kek?" tanya Lia dengan mata berbinar penuh harap kepada kakeknya sore itu
"Bulan depan, Nduk," jawab sang kakek lembut.
"Kalau Desember, kapan?" kejar Lia lagi.
Sang kakek tersenyum tipis, menyembunyikan rasa iba. "Coba hitung dari sekarang, ini kan baru Juli. Emang ada apa?"
"Kata teman-teman, sekolah kita mau pindah ke gedung baru itu," ujar Lia lirih.
Harapan polos Lia adalah representasi dari kegelisahan sekitar 500 siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 01 Pondok Bambu, Jakarta Timur. Sudah dua tahun lamanya mereka menyandang status sebagai "penumpang".

Sejak musibah kebakaran hebat melanda sekolah mereka pada Selasa, 23 Juli 2024 silam yang diduga akibat korsleting listrik kegiatan belajar mengajar terpaksa diungsikan ke gedung SDN 07 Pondok Bambu. Pagi berganti sore, siswa SDN 01 harus rela masuk siang demi bergantian kelas.
Ironi ini tidak hanya menjadi beban pikiran anak-anak, tetapi juga menjadi buah bibir yang hangat di kalangan orang tua murid yang setia menunggu di gerbang SDN 07 setiap sore.
"Ya, informasinya di dalam belum ada meja dan bangku belajar. Masih kosong melompong," bisik salah seorang ibu dengan raut wajah serius kepada orang tua lainnya.
Gedung baru yang dibangun mewah sebagai fasilitas pengganti pasca-kebakaran tersebut kabarnya memang sudah rampung secara fisik. Suku Dinas Pendidikan Jakarta Timur awalnya menargetkan gedung ini siap pakai pada tahun 2025. Namun, kemewahan arsitektur luar ternyata belum selaras dengan kesiapan fasilitas di dalam kelas.
Ibu Ros, guru kelas 1 SDN 01 Pondok Bambu, mencoba memberikan secercah kepastian di tengah ketidakpastian.
. "Insya Allah, Desember paling lambat. Karena saat ini meja dan bangku sekolahnya memang masih kurang," jelasnya mencoba menenangkan para orang tua.
Melihat kemegahan gedung baru dari balik pagar, seorang wali murid pria yang sedang menunggu anaknya pulang hanya bisa menggelengkan kepala.
"Terlalu mewah gedungnya buat anak SD, tapi sayang kalau belum bisa dipakai."
Desain modern gedung lima lantai itu sejatinya dirancang untuk memberikan ruang belajar yang aman, nyaman, dan memadai bagi anak-anak pasca-trauma kebakaran. Namun bagi Lia dan ratusan siswa lainnya, kemewahan bangunan tidak ada artinya tanpa kehadiran sebuah meja dan bangku untuk mereka merajut cita-cita.
Kini, hitung mundur menuju bulan Desember pun dimulai dari bulan Juli ini, mengiringi langkah kaki anak-anak yang harus kembali masuk sekolah di siang hari esok kelak.