Jumat Agung, Saat Sunyi yang Menguatkan Relasi Manusia dengan Tuhan

Jumat Agung, Saat Sunyi yang Menguatkan Relasi Manusia dengan Tuhan
Suasana Perayaan Jumat Agung di Gereja Paroki Gembala Baik Jayapura. Foto: Toni Teniwut

Jayapura-Spektroom : Langit Abepura tampak teduh pada Jumat siang itu. Di dalam Gereja Paroki Gembala Baik, suasana hening menyelimuti ratusan umat Katolik yang datang dengan langkah pelan dan wajah penuh permenungan.

Mereka berkumpul untuk mengikuti perayaan Jumat Agung, sebuah momen sakral yang tidak hanya menghadirkan ritual keagamaan, tetapi juga ruang refleksi mendalam tentang makna pengorbanan dan kasih. Perayaan yang berlangsung pada Jumat, (03/04/ 2026)  ini dipimpin oleh RD Habel Jadera.

Dalam liturgi yang sederhana tanpa perayaan Ekaristi, umat diajak menyelami tiga bagian utama: Liturgi Sabda yang mengisahkan sengsara Yesus Kristus, penghormatan salib, dan Komuni Kudus. Tidak ada nyanyian meriah, tidak pula lonceng berbunyi. Yang terdengar hanya doa, bacaan suci, dan keheningan yang seakan berbicara.

Bagi umat Katolik, Jumat Agung bukan sekadar mengenang peristiwa historis ribuan tahun lalu. Lebih dari itu, hari ini menjadi titik perenungan tentang cinta tanpa batas yang diyakini terwujud melalui pengorbanan Yesus di kayu salib.

“Ini bukan hanya tentang penderitaan, tetapi tentang kasih yang begitu besar bagi manusia,” ungkap RD Habel dalam homilinya.

Di tengah kesunyian itu, banyak umat menundukkan kepala lebih lama dari biasanya. Sebagian tampak memejamkan mata, larut dalam doa pribadi. Bagi mereka, Jumat Agung adalah waktu untuk berdialog secara jujur dengan diri sendiri dan dengan Tuhan tentang kegagalan, harapan, serta kerinduan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

RD Habel, yang merupakan imam diosesan dari Keuskupan Bogor, mengajak umat untuk tidak berhenti pada simbol dan ritual semata. Ia menekankan pentingnya menjadikan momen ini sebagai titik balik dalam kehidupan sehari-hari.

“Relasi dengan Tuhan harus tercermin dalam relasi dengan sesama. Kasih yang kita renungkan hari ini harus nyata dalam tindakan,” pesannya.

Rangkaian perayaan ini menjadi bagian dari Tri Hari Suci, yang dimulai dari Kamis Putih, Jumat Agung, hingga Sabtu Suci, dan berpuncak pada Hari Raya Paskah.

Sehari sebelumnya, umat telah mengikuti misa Kamis Putih sebagai peringatan perjamuan terakhir Yesus bersama para murid. Sementara itu, Sabtu Suci dan Paskah akan menjadi momen sukacita atas kebangkitan Kristus.

Namun di antara seluruh rangkaian itu, Jumat Agung tetap menjadi titik paling sunyi sebuah jeda yang mengajak manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Dalam keheningan itulah, banyak umat menemukan kembali makna iman, memperbaiki relasi dengan Tuhan, dan menata ulang langkah hidup ke depan.

Berita terkait

Pemkab Banyuwangi Gratiskan Retribusi Ribuan Pedagang Pasar pada Sabtu-Minggu

Pemkab Banyuwangi Gratiskan Retribusi Ribuan Pedagang Pasar pada Sabtu-Minggu

Banyuwangi-Spektroom : Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali menunjukkan keberpihakannya kepada rakyat bawah. Kali ini, keberpihakan itu ditujukan kepada ribuan pedagang pasar rakyat yang tersebar di seluruh pasar se-Banyuwangi, dengan membebaskan retribusi setiap hari Sabtu dan Minggu. Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, program ini sebagai bentuk dukungan bagi pedagang pasar tradisional. "Pemkab

Julianto