Kabut Asap Mengganas di Palangka Raya, Terapi ABK Tak Boleh Terhenti! Guru dan Terapis Jemput Bola ke Rumah

Kabut Asap Mengganas di Palangka Raya, Terapi ABK Tak Boleh Terhenti! Guru dan Terapis Jemput Bola ke Rumah
Petugas saat melayani di rumah ABK PLA selama kabut asab. (Foto: dok MC Pky)

Palangka Raya –Spektroom: Kabut asap yang menyelimuti Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, tak hanya membuat warga membatasi aktivitas di luar rumah. Bagi anak berkebutuhan khusus (ABK), kualitas udara yang tidak sehat juga memaksa rutinitas terapi dan stimulasi mereka harus diubah.

Namun, terapi tak boleh ikut “tercekik” kabut asap.

Pusat Layanan Autis (PLA) Kota Palangka Raya di bawah naungan Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memilih cara berbeda. Layanan yang biasanya dilakukan secara tatap muka di pusat layanan untuk sementara dipindahkan ke rumah anak.

Guru dan terapis turun langsung melakukan kunjungan. Mereka membawa program terapi dan pendampingan agar anak tetap mendapatkan stimulasi sesuai kebutuhan tanpa harus keluar rumah dan terpapar udara yang tidak sehat.

Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Jayani, mengatakan pola layanan tersebut dilakukan secara kolaboratif antara guru dan terapis.

“Program pendampingan ke rumah ini menggunakan pendekatan ganda, yakni terapis dan guru melakukan visit serta memberikan program seperti yang dilakukan di pusat layanan, tetapi dialihkan ke rumah,” ujar Jayani, Selasa (1/9/2026).

Menurut Jayani, keberlanjutan rutinitas menjadi hal penting bagi anak berkebutuhan khusus. Perubahan aktivitas secara mendadak dapat menjadi tantangan tersendiri bagi proses belajar dan perkembangan anak.

Karena itu, kabut asap tidak boleh membuat proses stimulasi terputus.

Dalam kunjungan ke rumah, guru dan terapis menyesuaikan program dengan kondisi anak sekaligus lingkungan tempat tinggal. Pendampingan difokuskan pada sejumlah aspek, terutama kemampuan sensori motorik dan kemandirian.

Tidak selalu membutuhkan peralatan khusus. Berbagai benda sederhana yang tersedia di rumah dapat dimanfaatkan sebagai media latihan selama sesuai dengan program dan kemampuan anak.

Di sinilah orang tua juga mendapatkan peran yang semakin besar.

Kehadiran guru dan terapis di rumah memungkinkan orang tua menyaksikan langsung proses pendampingan. Mereka dapat memahami cara melatih anak sekaligus memperoleh gambaran aktivitas sederhana yang bisa diteruskan secara mandiri di rumah.

“Kami berharap orang tua tetap membantu anak melakukan aktivitas latihan meskipun dengan keterbatasan media yang ada di rumah,” kata Jayani.

Pesan tersebut menjadi penting karena selama kondisi udara belum membaik, anak-anak akan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah.

Orang tua dapat mengisi waktu tersebut dengan aktivitas sederhana dan terarah sesuai kemampuan anak. Selain menjaga stimulasi, kegiatan rutin juga dapat membantu anak tetap aktif dan memiliki kesibukan positif meski aktivitas luar ruangan dibatasi.

Kabut asap boleh membatasi langkah, tetapi tidak boleh menghentikan harapan.

Bagi keluarga ABK, kunjungan guru dan terapis menjadi bukti bahwa layanan pendidikan dan terapi tetap berjalan di tengah situasi yang serba terbatas.

Rumah pun berubah menjadi ruang terapi.

Di ruang keluarga, kamar, atau sudut rumah yang tersedia, proses belajar tetap berlangsung. Guru, terapis, dan orang tua berkolaborasi menjaga agar kemampuan yang telah dibangun anak tidak terputus hanya karena kondisi udara.

Langkah PLA Kota Palangka Raya tersebut sekaligus menunjukkan bahwa layanan publik harus mampu beradaptasi ketika keadaan berubah.

Keselamatan anak tetap menjadi prioritas. Tetapi di saat yang sama, kebutuhan mereka untuk mendapatkan terapi, stimulasi, dan pendampingan juga tidak boleh diabaikan.

Saat Palangka Raya diselimuti kabut asap, guru dan terapis justru bergerak mendekat. Mereka datang ke rumah, memastikan ABK tetap belajar, berlatih, dan tumbuh—meski dunia di luar sedang tidak bersahabat. (Polin-ndk)

Berita terkait

Dari Solo untuk Generasi Digital, Kearifan Nusantara Didorong Masuk Kurikulum Sekolah

Dari Solo untuk Generasi Digital, Kearifan Nusantara Didorong Masuk Kurikulum Sekolah

Surakarta – Spektroom: Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), Pemerintah Kota Surakarta ingin memastikan generasi mudanya tidak kehilangan pijakan. Kemajuan zaman dinilai perlu berjalan beriringan dengan karakter dan nilai-nilai budaya yang telah hidup di tengah masyarakat. Karena itu, Pemerintah Kota Surakarta mendorong nilai-nilai kearifan Nusantara untuk semakin hadir

Ciptati Handayani, Buang Supeno