Dari Solo untuk Generasi Digital, Kearifan Nusantara Didorong Masuk Kurikulum Sekolah
Surakarta – Spektroom: Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), Pemerintah Kota Surakarta ingin memastikan generasi mudanya tidak kehilangan pijakan. Kemajuan zaman dinilai perlu berjalan beriringan dengan karakter dan nilai-nilai budaya yang telah hidup di tengah masyarakat.
Karena itu, Pemerintah Kota Surakarta mendorong nilai-nilai kearifan Nusantara untuk semakin hadir dalam dunia pendidikan, khususnya pada jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP).
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkot Surakarta memperkuat pendidikan karakter sekaligus menjaga agar anak-anak Solo tetap memiliki akar budaya yang kuat ketika menghadapi perubahan kehidupan modern.
Pesan itu disampaikan Wali Kota Surakarta Respati Ardi dalam Simposium Budaya bertajuk “Jejak Solo untuk Dunia: Membangkitkan Kearifan Nusantara untuk Manusia Modern” di Bale Pangenggar Taman Balekambang Solo, Selasa (1/9/2026).
Menurut Respati, Solo memiliki kekayaan budaya yang bukan sekadar warisan masa lalu. Di balik tradisi dan kearifan lokal tersebut terdapat nilai kehidupan yang masih relevan untuk menjawab tantangan generasi masa kini.
Beberapa di antaranya adalah eling lan waspada, tepa selira, gotong royong, dan memayu hayuning bawana.
Nilai-nilai itu, kata Respati, tidak seharusnya berhenti sebagai materi pelajaran atau hafalan di ruang kelas. Anak-anak perlu diajak merasakan dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tepa selira, misalnya, dapat tumbuh melalui kebiasaan menghargai teman, mendengarkan orang lain dan memahami perbedaan. Sementara gotong royong dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan bersama yang mengajarkan kerja sama sekaligus tanggung jawab.
Begitu pula dengan eling lan waspada, yang mengajarkan anak untuk berpikir sebelum bertindak dan mempertimbangkan dampak dari setiap keputusan.
Sedangkan memayu hayuning bawana dapat menjadi pijakan untuk menumbuhkan kesadaran menjaga keseimbangan kehidupan, lingkungan dan hubungan antarmanusia.
“Nilai-nilai budaya tersebut perlu ditanamkan sejak usia dini agar tidak berhenti sebagai pengetahuan tentang budaya, tetapi menjadi bagian dari karakter dan perilaku generasi muda,” ungkap Respati.
Bukan Sekadar Belajar Budaya
Respati menegaskan, semangat Jejak Solo untuk Dunia tidak hanya berbicara tentang sejarah, bangunan, kesenian maupun berbagai peninggalan budaya yang menjadi identitas Kota Surakarta.
Lebih dari itu, Solo memiliki warisan berupa nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Nilai tersebut menjadi semakin penting ketika anak-anak hari ini tumbuh dalam lingkungan yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya.
Mereka hidup berdampingan dengan teknologi digital, media sosial hingga kecerdasan buatan yang berkembang sangat cepat.
Teknologi membuka peluang besar bagi generasi muda untuk belajar dan berkreasi. Namun, pada saat yang sama, perkembangan tersebut juga membawa tantangan dalam kehidupan sosial dan cara anak berinteraksi dengan lingkungannya.
Karena itu, pendidikan menurut Respati tidak boleh hanya mengejar kemampuan akademik dan penguasaan teknologi.
“Pendidikan tidak cukup hanya membentuk anak yang unggul secara akademik dan menguasai teknologi, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian sosial, rasa hormat kepada sesama serta kesadaran menjaga lingkungan dan kehidupan bersama,” jelasnya.
Di titik inilah budaya diharapkan hadir bukan sebagai sesuatu yang jauh dan asing bagi anak-anak, melainkan sebagai nilai yang dekat dengan kehidupan mereka.
Anak belajar menghargai teman sebagai bentuk tepa selira. Mereka belajar bekerja bersama melalui gotong royong. Mereka belajar berpikir sebelum bertindak melalui eling lan waspada. Dan mereka belajar merawat lingkungan sebagai bagian dari semangat memayu hayuning bawana.
Dari Ruang Simposium Menjadi Gerakan
Respati menyadari, menjaga dan mengembangkan kebudayaan bukan pekerjaan pemerintah semata. Dibutuhkan keterlibatan banyak pihak agar nilai-nilai tersebut benar-benar hidup dan berkembang.
Kolaborasi itu dapat melibatkan keraton, budayawan, seniman, akademisi, lembaga pendidikan, komunitas, generasi muda, dunia usaha, media hingga masyarakat.
Karena itu, ia berharap Simposium Budaya tidak berhenti sebagai forum untuk bertukar gagasan.
Diskusi yang berlangsung diharapkan mampu melahirkan kolaborasi dan tindakan nyata, salah satunya melalui dunia pendidikan.
Harapannya sederhana tetapi penting: anak-anak Solo tetap mampu melangkah mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan akar yang membentuk jati dirinya.
“Dengan demikian, budaya tidak hanya menjadi sesuatu yang dilihat dalam pertunjukan atau dikenang melalui sejarah, tetapi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan dan karakter generasi muda Kota Solo,” tandasnya.
Di tengah dunia yang semakin digital, Solo pun ingin menunjukkan bahwa menjadi modern tidak harus berarti meninggalkan akar budaya. Justru dari nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu itulah generasi muda diharapkan memiliki bekal untuk menghadapi masa depan.. (Ciptati Handayani)