Karolin Tegaskan Dukungan untuk Semua Budaya di Landak, Grebeg Suro Jadi Simbol Persatuan
Landak,Spektroom – Bupati Landak Karolin Margret Natasa menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Landak dalam menjaga dan mendukung seluruh kegiatan seni budaya dari berbagai etnis yang hidup berdampingan di wilayah tersebut.
Pesan itu disampaikan saat membuka malam puncak Festival Budaya Grebeg Suro ke-6 yang digelar Paguyuban Jawa Kabupaten Landak di GOR Patih Gumantar, Sabtu (27/06/2026) malam.
Meski baru kembali dari Jakarta di hari yang sama, Karolin memilih hadir langsung di tengah masyarakat sebagai bentuk dukungan terhadap keberagaman budaya yang menjadi kekuatan Kabupaten Landak.
Dalam sambutannya, Karolin menegaskan bahwa pemerintah daerah membuka ruang yang sama bagi seluruh kelompok masyarakat untuk melestarikan budaya masing-masing.
“Pemerintah daerah akan terus mendukung seluruh kegiatan seni budaya masyarakat di Kabupaten Landak. Semua boleh mengadakan dan berkembang,” ujarnya.
Karolin juga mengajak masyarakat menjaga kerukunan dan persatuan di tengah berbagai tantangan global yang saat ini terjadi.
Menurutnya, kehidupan yang harmonis menjadi modal penting bagi pembangunan daerah dan bangsa.
“Kita harus tetap hidup rukun. Itu merupakan sumbangan besar bagi bangsa dan negara karena pemerintah dapat fokus menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Grebeg Suro ke-6, Teguh Pambudi, mengatakan festival tersebut tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya Jawa, tetapi juga sarana memperkuat persaudaraan antarwarga yang berasal dari beragam suku, agama, dan latar belakang budaya.
Mengusung tema “Kukuh Manunggal Ngawiji Ngabang Landak”, festival tahun ini menjadi simbol tekad masyarakat untuk terus menjaga persatuan dalam keberagaman serta mendukung kemajuan Kabupaten Landak.
Karolin turut mengapresiasi konsistensi Paguyuban Jawa Kabupaten Landak yang berhasil mempertahankan penyelenggaraan Grebeg Suro hingga memasuki tahun keenam.
Ia mengenang perjalanan awal festival yang digelar dengan berbagai keterbatasan hingga kini berkembang menjadi agenda budaya besar yang berlangsung selama empat hari.
Tingginya antusiasme masyarakat terlihat dari partisipasi ratusan peserta dalam rangkaian kegiatan festival.
Salah satu agenda yang paling menyedot perhatian publik adalah pawai mobil hias yang diikuti sekitar 760 peserta.
Menurut Karolin, peringatan Tahun Baru Jawa melalui Grebeg Suro menjadi momentum untuk bersyukur atas berbagai pencapaian yang telah diraih sekaligus memanjatkan doa dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
Malam puncak festival ditutup dengan pagelaran wayang kulit yang membawakan lakon “Wahyu Tjempoko Muljo” oleh dalang Ki Trisnanto.
Pertunjukan tersebut menyampaikan pesan tentang kepemimpinan yang bijaksana, ketulusan dalam pengabdian, serta pentingnya integritas dalam membangun bangsa dan daerah.