Kasus Perundungan Masih Jadi PR, Pemprov Jateng Perkuat Edukasi Lewat Forum Anak Pesantren
Semarang-Spektroom: Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan bahwa upaya pencegahan perundungan atau bullying tidak boleh berhenti di lingkungan sekolah saja. Menurutnya, penanganan masalah ini memerlukan keterlibatan aktif dari keluarga, masyarakat, hingga berbagai lembaga pendidikan, termasuk pondok pesantren.
Pernyataan tersebut disampaikan pria yang akrab disapa Gus Yasin ini usai menghadiri Rapat Koordinasi Daerah Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Grhadika Bhakti Praja, Semarang, dikutip Sabtu (8/8/2026). Langkah ini menjadi perhatian serius menyusul adanya laporan dugaan kasus perundungan yang menimpa siswa madrasah di Kabupaten Pati serta peristiwa serupa di Kabupaten Pemalang baru-baru ini
“Bullying ini menjadi PR kita bersama. Bukan hanya di sekolah-sekolah, tetapi juga sampai ke pesantren. Karena itu, kita harus betul-betul melakukan langkah pencegahan dan edukasi,” ujar Taj Yasin.
Gus Yasin menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong berbagai langkah preventif. Salah satu inovasi yang dihadirkan adalah pembentukan Forum Anak Pesantren, yang berfungsi sebagai ruang edukasi sekaligus wadah partisipasi santri untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman.
Tidak hanya di tingkat remaja, penguatan karakter dan pencegahan perundungan kini mulai ditanamkan sejak dini melalui jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Kemarin saat Rapat Koordinasi PAUD, kami menyampaikan bahwa salah satu yang harus dibekali kepada para guru adalah bagaimana menciptakan suasana yang nyaman bagi anak-anak. Jangan sampai mereka diberikan beban yang berlebihan,” tambahnya.
Analisis Akar Masalah dan Sinergi Orang Tua
Lebih lanjut, Wagub menilai bahwa penanganan setiap kasus perundungan harus melihat akar persoalannya secara mendalam. Lingkungan tempat anak tumbuh dan berinteraksi sehari-hari perlu dianalisis agar penyebab utama perilaku tersebut dapat teridentifikasi dengan tepat.
“Permasalahan itu harus kita analisis. Jangan-jangan sumbernya ada di lingkungan sekitar, kemudian terbawa ke sekolah. Karena itu, penanganannya tidak bisa hanya dilakukan di lingkungan sekolah,” jelasnya.
Oleh karena itu, komunikasi yang intensif antara pihak sekolah dan orang tua menjadi kunci penting. Dengan saling memantau perkembangan perilaku anak baik di rumah maupun di tempat belajar, potensi perundungan dapat ditekan sejak dini.
Gus Yasin berharap seluruh elemen masyarakat dapat memperkuat sinergi demi menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk perundungan. Hal ini penting agar anak-anak di Jawa Tengah dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.