Kebijakan Nutri Level Terkesan Kompromistis dan Ambigu

Kebijakan Nutri Level Terkesan Kompromistis dan Ambigu
Flyer Spektroom

Oleh: Tulus Abadi - Pegiat Perlindungan Konsumen

Jakarta - Spektroom: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) baru saja menerbitkan aturan pencantuman label gizi berupa Nutri Level pada pangan siap saji, terutama minuman berpemanis, yang akan diterapkan pada usaha skala besar sebagai upaya mendorong pola konsumsi masyarakat yang lebih sehat.

Aturan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 tentang pencantuman label gizi dan pesan kesehatan pada pangan siap saji yang diterbitkan pada Selasa (14/4/2026).

Upaya Kemenkes dengan kebijakan tersebut secara kasat mata bernilai positif. Namun jika dicermati secara mendalam kebijakan tersebut terlihat kompromistis bahkan ambigu.

Kompromistis, sebab jika ditelisik kebijakan itu lebih berpihak pada kepentingan industri. Apalagi sejak awal Kemenkes dalam menelurkan kebijakan tersebut kerap mendapatkan pressure dari kalangan industri makanan dan minuman.

Jika memang Kemenkes tidak "jiper" (takut) dengan tekanan dari industri, maka seharusnya penandaan itu harus lebih tegas, lebih jelas dan harus diletakkan di bagian depan kemasan. Bukan sekadar informasi nutri level belaka, yang sangat mikro.

Dengan kata lain, kebijakan nutri level adalah kebijakan ambigu (setengah hati), dan patut dipertanyakan keberpihakan Kemenkes pada kepentingan publik.

Sehingga, dampaknya, kebijakan nutri level kurang/bahkan tidak efektif untuk menekan prevalensi berbagai penyakit degeneratif, seperti diabet, darah tinggi, kanker, dan jantung koroner.

Oleh sebab itu, kebijakan ini seharusnya hanya bersifat transisional, dan ke depan--dalam waktu dua tahun, harus diupgrade dengan kebijakan yang lebih kuat.

Selain itu, kebijakan ini akan lebih bergigi jika dibarengi dengan sisi kebijakan fiskal, yakni pengenaan cukai sebagaimana mandat PP 28/2024 tentang Kesehatan.

Salah satunya adalah pengenaan cukai pada produk MBDK (Minuman Manis Dalam Kemasan). Terkait cukai MBDK, Kemenkeu seharusnya mengambil langkah lebijakan yang konsisten, karena sudah digodog sejak 2022 lalu.

Apalagi pendapatan negara dari sektor pajak sedang tertekan keras, dan posisi APBN defisit hingga Rp 250 triliun untuk kuartal pertama 2026. Seharusnya ini menjadi momen untuk menggali pendapatan negara, untuk mengenakan cukai MBDK dan juga menaikkan cukai rokok. Bukan malah sebaliknya.

Sejalan dengan kebijakan nutri level tersebut, sebagai mandat implementasi PP 28/2024 tentang Kesehatan, seharusnya berbarengan dengan pengesahan Rapermenkes tentang pengendalian konsumsi tembakau, yang juga menjadi mandat PP 28/2024 tersebut, yaitu perihal: standardisasi kemasan, ketentuan maksimal tar dan nikotin, larangan penjualan ketengan, dan perluasan peringatan kesehatan bergambar. Menkes tak punya nyali dengan tekanan industri rokok.(**)

Berita terkait

Permen Asbuton Rampung 2 Pekan Kedepan  Dorong Penurunan Impor Aspal

Permen Asbuton Rampung 2 Pekan Kedepan  Dorong Penurunan Impor Aspal

Jakarta – Spektroom : Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menargetkan  penyusunan Rancangan Peraturan Menteri (Permen) tentang penggunaan Aspal Buton (Asbuton) Olahan dapat rampung dalam dua pekan ke depan sebagai langkah strategis untuk menekan ketergantungan impor aspal nasional. Menurut Menteri Dody, secara teknis penggunaan Asbuton tidak menjadi kendala signifikan, namun tetap membutuhkan

Nurana Diah Dhayanti
Perkumpulan Purna Bakti Pegawai Propinsi Kepulauan Riau Tetap Bisa Memberikan Masukan Kepada Pemerintahan Kendati Sudah Pensiun

Perkumpulan Purna Bakti Pegawai Propinsi Kepulauan Riau Tetap Bisa Memberikan Masukan Kepada Pemerintahan Kendati Sudah Pensiun

Tanjungpinang-Spektroom : Perkumpulan Purna Bakti Pegawai Propinsi (P2BP2) Kepulauan Riau (Kepri) keanggotaannya terdiri dari para pensiunan Aparatur Sipil Negeri (ASN) Pemerintahan Propinsi (Pemprov) Kepri. Ketua Perkumpulauan Purna Bakti Pegawai Propinsi Kepulauan Riau Amir Faisal kepada Spektroom mengemukakan P2BP2 adalah wadah silaturahim pensiunan pegawai Pemprov, ujarnya Sabtu (18/4/2026). “Organisasi pensiunan

Desmawati, Rafles
Soft Launching Hotel Saka Ombilin Heritage, Sinyal Kebangkitan Ekonomi Sawahlunto di Tengah Rencana Reaktivasi Tambang

Soft Launching Hotel Saka Ombilin Heritage, Sinyal Kebangkitan Ekonomi Sawahlunto di Tengah Rencana Reaktivasi Tambang

Sawahlunto-Spektroom : Kota Sawahlunto kembali menegaskan posisinya sebagai kawasan strategis berbasis warisan dunia dengan dilaksanakannya soft launching Hotel Saka Ombilin Heritage, Jumat (17/4). Hotel ini resmi menjadi hotel bintang empat pertama di kota yang berstatus UNESCO World Heritage tersebut, sekaligus simbol diversifikasi ekonomi dari sektor tambang menuju pariwisata berkelas. Kehadiran

Riswan Idris, Rafles