Kekeringan Masih Dominasi Bencana Nasional, BNPB Perkuat Distribusi Air Bersih dan Penanganan Karhutla
Jakarta-Spektroom : Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kekeringan masih menjadi bencana yang paling banyak terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah provinsi juga terus menjadi perhatian melalui operasi penanganan darat maupun udara.
Berdasarkan laporan perkembangan situasi bencana periode 21 Juli 2026 pukul 07.00 WIB hingga 22 Juli 2026 pukul 07.00 WIB, ribuan kepala keluarga di sejumlah daerah masih terdampak kekeringan.
Di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kekeringan berdampak pada 16.291 kepala keluarga atau 52.602 jiwa. BPBD Kabupaten Bogor terus menyalurkan bantuan air bersih ke Desa Hambalang, Desa Gadog, dan Desa Sukajaya untuk memenuhi kebutuhan warga.

Sementara itu di Jawa Tengah, kekeringan juga masih melanda Kabupaten Banyumas, Cilacap, Klaten, Sragen, Grobogan, dan Pemalang. Penyaluran air bersih terus dilakukan, bahkan di Kabupaten Klaten distribusi bantuan telah mencapai 321 tangki atau sekitar 1,6 juta liter air sejak pertengahan Juni 2026.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, BPBD Kabupaten Kulon Progo juga menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak.
BNPB menyatakan pemerintah terus memperkuat langkah mitigasi menghadapi musim kemarau dan potensi El Nino melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pembangunan sumur bor, serta pipanisasi untuk menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat dan sektor pertanian.
Selain kekeringan, perkembangan karhutla juga masih menjadi perhatian nasional. Di Aceh, luas lahan terbakar telah mencapai 761,68 hektare yang tersebar di 20 kabupaten dan satu kota. Sementara di Sumatera Selatan, luas lahan terbakar mencapai 664,87 hektare dengan 479 kejadian karhutla hingga 20 Juli 2026.
Di Kalimantan Tengah, luas lahan terbakar mencapai 889,92 hektare, sedangkan di Kalimantan Selatan mencapai 39,4 hektare. BNPB bersama pemerintah daerah terus melakukan operasi darat, patroli udara, water bombing, serta Operasi Modifikasi Cuaca untuk menekan perluasan kebakaran.
BNPB juga melaporkan sejumlah bencana hidrometeorologi dan geologi masih dalam penanganan. Banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, masih menyebabkan 236 warga mengungsi dan 145 rumah terdampak akibat luapan Sungai Arse.
Di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, tanah longsor masih mengisolasi sekitar 460 kepala keluarga atau 1.507 jiwa. BNPB telah mengirimkan bantuan logistik melalui jalur laut dari Tarakan untuk mendukung penanganan di wilayah tersebut.
Sementara itu, gempa bumi di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, mengakibatkan dua orang meninggal dunia, dua orang luka berat, satu orang luka ringan, serta berdampak pada 193 kepala keluarga atau 345 jiwa,sebanyak 276 rumah mengalami kerusakan, dan BPBD masih melakukan evakuasi warga ke lokasi yang lebih aman.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau.
"Pemerintah daerah diharapkan memastikan ketersediaan air bersih, memperkuat langkah mitigasi, serta mengoptimalkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan serta selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG, BPBD, dan instansi terkait," ujarnya.