Kemarau : Saat Polisi Tak Hanya Melawan Karhutla, Tetapi Juga Mengantar Setetes Harapan
Ketapang-Spektroom : Musim kemarau tahun ini menghadirkan dua ancaman sekaligus bagi masyarakat Kalimantan Barat.
Di satu sisi, asap dan kobaran api terus mengintai akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di sisi lain, ancaman yang lebih senyap namun sama beratnya mulai dirasakan warga: krisis air bersih.
Di sejumlah wilayah Kabupaten Ketapang, sungai-sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat perlahan menyusut. Permukaan air turun drastis. Sumur warga mulai mengering.
Aktivitas sehari-hari yang biasanya sederhana, seperti memasak, mandi, hingga mencuci, berubah menjadi perjuangan yang harus dilakukan dengan penuh penghematan.

Di tengah kondisi itu, Polres Ketapang memilih tidak hanya berkutat di garis depan penanggulangan karhutla.
Mereka juga melakukan "gerilya kemanusiaan" dengan menyasar titik-titik masyarakat yang mulai terdampak kekeringan.
Jumat (14/8/2026) pagi, kendaraan Water Cannon dan mobil tangki milik Polres Ketapang bergerak menuju Desa Tanjung Baik Budi, Kecamatan Matan Hilir Utara.
Sebanyak 16 ton air bersih dibawa untuk memenuhi kebutuhan warga yang selama beberapa pekan terakhir kesulitan mendapatkan pasokan air layak konsumsi.
Di halaman Kantor Desa Tanjung Baik Budi, warga telah berkumpul sejak pagi. Mereka membawa berbagai wadah penampungan, mulai dari ember, jeriken hingga tong air.
Bagi sebagian warga, kedatangan bantuan tersebut menjadi jawaban atas kesulitan yang semakin terasa setelah hujan tak kunjung turun selama sekitar satu bulan terakhir.
Kapolres Ketapang AKBP Muhammad Harris mengatakan, situasi kemarau yang berkepanjangan telah memaksa banyak masyarakat menghadapi keterbatasan air bersih.
Karena itu, kehadiran Polri tidak hanya diwujudkan melalui upaya menjaga keamanan, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
"Polri hadir untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat kemarau.
Ini adalah bentuk kepedulian dan pengabdian kepada masyarakat," ujarnya.
Selain menyalurkan air bersih, Polres Ketapang juga membagikan masker sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kabut asap yang sewaktu-waktu dapat muncul akibat karhutla.
Program penyaluran beras murah melalui Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) turut dilakukan guna membantu masyarakat menghadapi tekanan ekonomi selama musim kemarau.
Fenomena kemarau tahun ini memang menghadirkan tantangan yang kompleks.
Saat petugas berjibaku memadamkan titik api di berbagai wilayah, mereka juga harus memastikan masyarakat tidak kehilangan akses terhadap kebutuhan paling mendasar: air.
Kondisi tersebut menggambarkan bahwa dampak kemarau tidak hanya terlihat dari hamparan lahan yang mengering atau kepulan asap di cakrawala.
Dampaknya juga terasa langsung di dapur-dapur warga, di sumur yang mulai kosong, dan di sungai yang debit airnya terus menyusut.
Karena itu, upaya penanganan kemarau tidak cukup hanya dengan memerangi api.
Dibutuhkan langkah-langkah kemanusiaan yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.
Di Ketapang, setidaknya pada hari itu, perjuangan melawan kemarau bukan hanya dilakukan dengan selang pemadam, tetapi juga melalui ribuan liter air bersih yang diantarkan sebagai setetes harapan bagi warga yang sedang bertahan menghadapi musim kering terpanjang tahun ini.