Kemenag Sawahlunto Soroti Tantangan Moral Generasi Muda, ASN Diajak Perkuat Pendidikan Akhlak
Sawahlunto-Spektroom : Kementerian Agama (Kemenag) Kota Sawahlunto kembali menggelar kegiatan tausiyah mingguan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan kantor tersebut pada Senin (25/5/2026). Kegiatan kali ini menghadirkan Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Penmad) Syafruddin, M.Pd yang membawakan materi bertema pendidikan anak dan tantangan moral generasi saat ini.
Dalam tausiyahnya, Syafruddin menyoroti berbagai persoalan yang tengah dihadapi dunia pendidikan, khususnya terkait degradasi moral generasi muda. Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan akademik, tetapi juga menyangkut akhlak, perilaku, tata krama, dan adab anak-anak di lingkungan keluarga maupun sekolah.
“Dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan yang sangat berat. Ketimpangan mulai terlihat dari sisi akhlak, perilaku, hingga adab anak-anak kita,” ujarnya di hadapan peserta tausiyah.
Ia juga mengutip firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa ayat 9 yang mengingatkan umat Islam agar tidak meninggalkan generasi yang lemah, baik secara moral, pendidikan, fisik, maupun mental.
Menurut Syafruddin, peran orang tua menjadi faktor utama dalam membentuk karakter anak sejak dini. Ia menegaskan bahwa anak lahir dalam keadaan suci dan lingkungan keluargalah yang menentukan arah pembentukan kepribadiannya.
“Anak lahir dalam keadaan suci. Orang tua lah yang nantinya sangat menentukan bagaimana karakter dan arah pendidikan anak tersebut,” katanya.
Dalam pemaparannya, Syafruddin juga menjelaskan sejumlah langkah penting dalam mendidik anak di era modern. Ia menekankan pentingnya penanaman nilai tauhid sejak dini, bahkan dimulai sejak memilih pasangan hidup dengan menjadikan agama sebagai prioritas utama.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya mengikuti sunnah Rasulullah SAW, termasuk membaca doa sebelum hubungan suami istri sebagai bagian dari ikhtiar melahirkan generasi yang saleh.
Syafruddin kemudian memaparkan pola pendidikan berdasarkan tahapan usia anak. Menurutnya, usia 0 hingga 7 tahun merupakan fase bermain sekaligus pemenuhan kebutuhan gizi dan kasih sayang.
Selanjutnya, usia 7 sampai 14 tahun menjadi fase pembiasaan dan penguatan karakter melalui pendidikan agama dan kedisiplinan. Sedangkan usia 14 hingga 21 tahun merupakan masa pendampingan, di mana orang tua dituntut mampu menjadi sahabat sekaligus tempat anak berbagi cerita.
“Setiap fase usia memiliki pendekatan pendidikan yang berbeda. Orang tua harus memahami tahapan tersebut agar anak tumbuh dengan baik secara mental dan spiritual,” jelasnya.
Sementara itu, Kasubbag Tata Usaha Kemenag Sawahlunto, H. Mustatir, S.Pd.I, M.Pd dalam arahannya mengajak seluruh ASN untuk menjadikan kegiatan tausiyah sebagai kebutuhan spiritual dan sarana memperkuat akhlak.
Ia menilai, antusiasme masyarakat terhadap hiburan sering kali jauh lebih besar dibandingkan kegiatan keagamaan yang justru memberi manfaat bagi kehidupan.
“Kebanyakan orang begitu semangat datang ke konser, rela berhujan-hujanan hingga malam. Namun untuk hadir ke tausiyah di masjid yang nyaman dan ber-AC terkadang masih terasa berat,” ungkapnya.
Mustatir menegaskan bahwa tujuan akhir dari pendidikan bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan tausiyah rutin di lingkungan Kemenag Sawahlunto tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan nilai keagamaan dan pembinaan karakter ASN, sekaligus mendorong terciptanya lingkungan kerja yang religius dan berintegritas. (Ris1)