Kepala Desa Bukit Gadang Sawahlunto Masuk Verifikasi Adhikarya Pangan Nusantara Sumbar
Sawahlunto-Spektroom : Upaya membangun ketahanan pangan dari tingkat desa mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Kepala Desa Bukit Gadang, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Epi Yusman, menjalani verifikasi lapangan dalam Penilaian Adhikarya Pangan Nusantara kategori Pembina Ketahanan Pangan.
Verifikasi lapangan dilakukan oleh Tim Penilai Adhikarya Pangan Provinsi Sumatera Barat yang dipimpin Kepala Dinas Pangan Provinsi Sumatera Barat, Drs. Iqbal Ramadani Payana, M.Si, bersama rombongan pada Selasa, 8 September 2026.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (KP3) Kota Sawahlunto, Heni Purwaningsih, kepada Spektroom, Kamis (10/9/2026), menjelaskan bahwa Penilaian Adhikarya Pangan Nusantara merupakan bentuk apresiasi pemerintah kepada kelompok dan kelembagaan masyarakat, petugas pendamping, serta kepala desa yang memiliki kontribusi dalam mewujudkan kedaulatan pangan, kemandirian pangan dan ketahanan pangan di daerah.
“Penilaian Adhikarya Pangan Nusantara merupakan salah satu bentuk penghargaan pemerintah kepada berbagai unsur yang berperan dalam memperkuat kedaulatan, kemandirian dan ketahanan pangan di wilayah masing-masing,” kata Heni.
Sejumlah inovasi menjadi bagian dari materi verifikasi, di antaranya Kandang Padi, Jaran Tor, pembangunan bak cadangan air, penguatan gotong royong melalui Batobo, pemanfaatan pekarangan, serta berbagai kegiatan masyarakat yang diarahkan untuk mendukung ketersediaan dan keberlanjutan pangan.
Menurut Heni, inovasi berbasis potensi lokal menjadi salah satu aspek penting dalam membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan. Keterlibatan pemerintah desa dan masyarakat menjadi faktor utama karena persoalan pangan tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga kemampuan masyarakat mengelola sumber daya yang tersedia di lingkungannya.
Kehadiran tim penilai di Desa Bukit Gadang menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung penerapan program ketahanan pangan di tingkat masyarakat. Verifikasi tidak hanya menilai keberadaan program, tetapi juga menjadi bagian dari proses memastikan inovasi yang dikembangkan memiliki manfaat dan dapat mendukung kemandirian pangan masyarakat.
Pengembangan ketahanan pangan dari desa menjadi salah satu pendekatan penting dalam menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, ketersediaan air hingga keberlanjutan produksi pangan. Karena itu, inovasi yang memanfaatkan potensi lokal dan melibatkan masyarakat dinilai memiliki peran strategis.
Heni berharap proses verifikasi tersebut dapat menjadi motivasi bagi pemerintah desa dan masyarakat lainnya di Kota Sawahlunto untuk terus mengembangkan inovasi dalam sektor pangan.
“Ketahanan pangan tidak bisa hanya dibangun oleh pemerintah. Peran masyarakat, kelompok, petugas pendamping hingga pemerintah desa sangat menentukan dalam menciptakan kemandirian pangan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui Penilaian Adhikarya Pangan Nusantara, berbagai inovasi yang tumbuh dari tingkat desa diharapkan tidak hanya menjadi objek penilaian dan apresiasi, tetapi juga dapat menjadi contoh pengembangan program ketahanan pangan yang berbasis potensi serta kebutuhan masyarakat lokal. (Ris1)