Keren! Mahasiswa UIN Belajar Manasik Haji Langsung dari Kakanwil Kemenhaj
Palangka Raya-Spektroom: Semangat generasi muda memahami dunia perhajian tampak dalam kegiatan Manasik Haji Mahasiswa UIN Palangka Raya Tahun 2026 yang digelar di Aula Utama UIN Palangka Raya, Jumat (19/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 19–21 Juni 2026 ini menghadirkan langsung Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Kalimantan Tengah, Hasan Basri, sebagai pemateri utama.
Dalam paparannya, Hasan Basri mengupas berbagai kebijakan terbaru penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1447 H/2026 M, mulai dari transformasi kelembagaan, regulasi baru, sistem layanan digital, kuota jemaah, hingga efisiensi biaya haji.
“Haji sekarang memasuki era pelayanan yang lebih fokus, terintegrasi, dan berbasis digital. Generasi muda harus mulai memahami sistem ini sejak dini,” ujar Hasan Basri di hadapan mahasiswa.
Ia menjelaskan, tata kelola haji kini berada di bawah payung hukum baru melalui UU Nomor 14 Tahun 2025 tentang Perubahan Ketiga atas UU Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah serta PP Nomor 92 Tahun 2025 tentang Kementerian Haji dan Umrah.
Menurutnya, transformasi tersebut menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada jemaah Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Hasan Basri juga memaparkan kuota haji Indonesia tahun 2026 yang mencapai 221 ribu jemaah. Sementara Provinsi Kalimantan Tengah memperoleh kuota reguler sebanyak 1.559 orang.
Tak hanya itu, kabar baik juga datang dari penurunan biaya haji Embarkasi Banjarmasin. Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) tahun 2026 turun menjadi Rp88,7 juta dari sebelumnya Rp93,3 juta.
“Efisiensi dilakukan tanpa mengurangi kualitas pelayanan. Bahkan proses dokumen dan visa kini lebih cepat,” jelasnya.
Selain Hasan Basri, kegiatan ini juga menghadirkan Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj RI, Puji Raharjo, serta Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Perencanaan UIN Palangka Raya, Syaiku, yang turut membahas teknis dan nonteknis manasik haji.
Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya memahami rukun Islam kelima secara teologis, tetapi juga melek terhadap perkembangan regulasi dan digitalisasi layanan haji di Indonesia.
Dengan edukasi sejak dini, mahasiswa diharapkan dapat menjadi agen literasi haji yang mampu memberikan pemahaman informatif kepada masyarakat luas.
(Polin-Mustafa)