Ketika Alam Jadi Penentu: Kisah Naik Dango dan Kearifan Lokal Dayak
Kubu Raya - Spektroom : Di tepian Sungai Ambawang, suara gong dan langkah kaki yang beriringan menyatu dengan aroma tanah basah usai panen. Bagi masyarakat adat Dayak di Kalimantan Barat, momen ini bukan sekadar perayaan, melainkan cara merawat ingatan kolektif tentang hidup yang bergantung pada alam.
Tahun 2026, Ritual Naik Dango ke-41 kembali digelar. Tiga kabupaten-Landak, Kubu Raya, dan Mempawah-mengirimkan para pemangku adat dan warganya ke satu titik: Rumah Adat Betang Sungai Ambawang, yang tahun ini menjadi tuan rumah.
Seperti tradisi yang terus dijaga, Naik Dango selalu hadir di penghujung April, menandai berakhirnya masa panen sekaligus ungkapan syukur.Sehari sebelum pembukaan resmi, suasana sudah terasa hidup. Para Timanggong, Pasirah, hingga Pangaraga dari berbagai kecamatan tampak berkumpul.
Mereka tidak sekadar datang, tetapi membawa peran penting dalam rangkaian ritual yang sarat makna. Minggu (26/04/2026), prosesi Bahaupm digelar. Dalam keheningan yang khidmat, pertemuan besar ini menjadi ruang musyawarah adat.
Di sinilah keputusan diambil, bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk siklus kehidupan berikutnya.Bahaupm bukan sekadar forum, melainkan simbol bagaimana masyarakat adat menjaga harmoni melalui mufakat.
Dalam tradisi Dayak, musyawarah ini juga menyentuh hal yang lebih dalam: menentukan waktu bertanam padi atau batahutn. Penentuannya tidak bergantung pada kalender modern, melainkan pada “rasi”-tanda-tanda alam seperti suara burung dan perubahan lingkungan.
Di tengah dunia yang semakin digital, cara ini tetap dipertahankan sebagai bentuk kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Ketua Panitia Naik Dango ke-41, Lorensius, menyebutkan bahwa pembukaan resmi dilaksanakan Senin (27/04/2026) dan direncanakan dibuka oleh Gubernur Kalimantan Barat bersama sejumlah undangan.
Namun, esensi dari perayaan ini sejatinya sudah dimulai sejak para pemangku adat duduk bersama dalam Bahaupm.Tidak hanya ritual, Naik Dango juga menjadi ruang dialog antara adat dan negara.

Sejumlah seminar digelar, menghadirkan tokoh, praktisi, hingga unsur pemerintah. Salah satu yang mengemuka mengangkat tema tentang menjaga hutan adat, memperkuat ketahanan pangan, dan menegakkan hukum adat di Kalimantan Barat. Dengan penyaji materi Glorio Sanen SH, Presedium Dewan Kehutanan Nasional.
Di Sungai Ambawang, Naik Dango bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah cerita tentang identitas, tentang hubungan manusia dengan alam, dan tentang upaya menjaga keseimbangan di tengah perubahan zaman.
Dalam setiap denting gong dan setiap keputusan musyawarah, tersimpan harapan agar tradisi ini tetap hidup-bukan hanya sebagai warisan, tetapi sebagai arah masa depan.