Ketika Anak Muda Negeri Matahari Terbit Datang, Pontianak Kembali Mengingat Sejarah
Oleh : Syafaruddin Daeng Usman Sejarawan Kalbar.
Pontianak - Spektroom : Sapaan Yōkoso, shin'ainaru yūjin yo—selamat datang, sahabat baik kami—seolah kembali menggema di Pontianak.
Kali ini bukan dalam suasana perang, melainkan dalam sebuah misi kemanusiaan untuk membantu Kalimantan Barat menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap.
Kehadiran para relawan dari Pemerintah Jepang di tengah situasi karhutla mendapat sambutan hangat masyarakat.
Kehadiran mereka bahkan memunculkan sebutan jenaka dari warga, "Mr Naruto", merujuk pada sosok-sosok muda dari Negeri Matahari Terbit yang datang dengan perlengkapan dan misi kemanusiaan.
Bagi pemerhati sejarah dan budaya Pontianak, Syafaruddin Daeng Usman, kedatangan mereka menghadirkan kenangan yang jauh lebih tua.
Sebuah kenangan tentang Pontianak sekitar 85 tahun silam.
Syafaruddin mengaku menerima kiriman video dari Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono yang memperlihatkan kehadiran para relawan Jepang tersebut.
Video itu kemudian membawanya menerawang pada sebuah peristiwa bersejarah pada 1941.
Kala itu, kedatangan orang-orang Jepang di Pontianak bukanlah untuk membantu memadamkan api atau menghadapi bencana alam. Mereka datang dalam suasana perang.
Dalam catatan sejarah yang dikenangnya, pada Jumat, 19 Desember 1941 sekitar pukul 10.00, sembilan pesawat Jepang melingkupi langit Pontianak.
Peristiwa yang kemudian dikenal dengan sebutan Kapal Terbang Sembilan itu menjadi bagian dari rangkaian kedatangan Jepang ke Kalimantan Barat.
Generasi kakek-nenek masyarakat Pontianak ketika itu menyebut para tentara Jepang sebagai "tentara katai". Anak-anak muda dengan topi boshi tersebut disambut masyarakat dengan sorak-sorai.
Bahkan, mereka disuguhi air kelapa muda.
Delapan puluh lima tahun kemudian, sejarah seakan memperlihatkan sebuah ironi sekaligus keakraban yang berbeda.
Anak-anak muda dari "Jepon" kembali hadir di Pontianak. Namun kali ini mereka datang bukan membawa senjata, melainkan membawa misi kemanusiaan.
Dan lagi-lagi, air kelapa muda menjadi bagian dari sambutan masyarakat.
Bagi Syafaruddin, pemandangan tersebut seperti sebuah lingkaran sejarah yang menarik.
Jika dahulu para pemuda Jepang datang ketika asap mesiu membumbung di tengah suasana perang, kini mereka datang ketika kabut asap akibat karhutla menyelimuti sebagian wilayah Kalimantan Barat.
"Bedanya, kalau dulu kedatangan mereka tidak disambut seremoni karena suasananya zaman perang.
Kini ada sambutan seremonial sebagai ucapan selamat datang untuk sebuah misi kemanusiaan," demikian refleksi Syafaruddin.
Ia kemudian membagikan video kiriman Wali Kota Pontianak tersebut kepada sahabatnya, Prof Kanzawa, di Tokyo.
Tak lama berselang, Prof Kanzawa membalas melalui pesan WhatsApp.
Pesan sederhana itu menggambarkan rasa bahagia bisa bersama-sama menghadapi keadaan alam yang sedang tidak baik.
Syafaruddin pun menjawab dengan ucapan arigato, yang kemudian dibalas Kanzawa-san dengan haik.
Percakapan sederhana itu memperlihatkan bahwa hubungan manusia kadang tidak membutuhkan bahasa yang panjang.
Cukup sebuah sapaan, senyum, air kelapa muda, dan niat baik.
Melihat gerak-gerik para relawan muda Jepang tersebut, ingatan Syafaruddin kembali melayang kepada nama-nama yang pernah menjadi bagian dari sejarah Pontianak: Murakawa, Honda, dan Yamamoto.
Namun sekali lagi, konteksnya berbeda.
Jika dahulu nama-nama itu hadir dalam catatan sejarah masa perang, para pemuda Jepang yang datang hari ini hadir membawa semangat kemanusiaan.
Di meja makan malamnya, Syafaruddin bahkan menemukan sebuah benda sederhana yang kembali mengingatkannya pada Jepang: sebungkus penyedap rasa Ajinomoto.
Ia kemudian menghubungkan semuanya dalam sebuah perenungan.
Sambutan seremonial, air kelapa muda, percakapan lintas negara, hingga makanan di meja makan menjadi "penyedap rasa" bagi sebuah hubungan kemanusiaan yang kembali terjalin di Pontianak.
"Shico Edi Kamtono, dōga o okuri itadaki arigatō gozaimasu," tulisnya sebagai ungkapan terima kasih kepada Wali Kota Pontianak atas kiriman video tersebut.
Kepada Prof Kanzawa, ia juga menyampaikan terima kasih karena telah menyimak cerita tentang keadaan Pontianak dengan penuh perhatian.
Di balik seluruh kisah itu, terselip harapan sederhana.
Semoga semangat bushido, jiwa samurai, dan prinsip keteguhan seperti batang bambu yang dibawa orang-orang baik dari Negeri Matahari Terbit dapat ikut mempercepat berlalunya musim kabut asap di Kalimantan Barat.
Dan semoga pula, orang-orang Jepang yang datang ke Kalimantan Barat tidak sampai salah memahami daerah ini.
Sebab, Kalimantan Barat sejatinya hanya mengenal musim hujan dan musim kemarau.
Bukan musim ketiga bernama karhutla.
Kini, sejarah memang tidak sedang berulang.
Tetapi sebuah peristiwa lama seakan menemukan wajah barunya.
Dulu, orang-orang Jepang datang ke Pontianak di tengah asap mesiu.
Kini, anak-anak muda dari Negeri Matahari Terbit datang ketika asap karhutla membubung.
Yang berubah adalah zaman dan tujuan kedatangan.
Yang tetap sama adalah manusia-manusia yang saling menyambut.
Yorokonde. Yōkoso okoshi kudasaimashita.
Selamat datang, sahabat baik.
Semoga bencana ini segera berlalu.
Wazawai ga ikkokumohayaku sugisarimasu yō ni.