Ketika Gol Ferran Menghidupkan Malam Ternate dan Rezeki UMKM

Ketika Gol Ferran Menghidupkan Malam Ternate dan Rezeki UMKM
Pelaku UMKM di Ternate memperoleh berkah rejeki dari pagelaran Nobar Pildum. ( Foto : Samin Hamudu).

Ternate Spektroom : Minggu dini hari di Benteng Oranje, Ternate, tak hanya menjadi penutup perjalanan Piala Dunia 2026. Malam itu berubah menjadi perayaan kebersamaan yang menyatukan ribuan warga dalam satu irama: menatap layar raksasa, menahan napas di setiap peluang, lalu bersorak ketika gol kemenangan akhirnya tercipta.

Final yang mempertemukan Spanyol melawan Argentina memang layak disebut laga impian. Sejak peluit awal dibunyikan, kedua tim saling menyerang dengan permainan cepat dan atraktif.

Namun hingga babak pertama usai, skor tetap bertahan 0-0. Ketegangan justru semakin terasa ketika memasuki babak kedua. Setiap peluang yang tercipta mampu dipatahkan oleh penampilan gemilang kedua penjaga gawang.

Di Kampung Piala Dunia Benteng Oranje, ribuan penonton larut dalam suasana. Tak ada yang beranjak dari depan layar. Sorak, tepuk tangan, hingga decak kecewa bergantian memenuhi udara setiap kali peluang tercipta.

0:00
/1:48

Final piala dunia, Senin (20/7/2026), di Ternate menyatukan ribuan warga dalam satu irama.(Vidio: Samin Hamudu)

Penantian panjang itu akhirnya terbayar pada menit ke-105 babak perpanjangan waktu. Ferran, penyerang Spanyol bernomor punggung tujuh, melepaskan tendangan keras kaki kiri yang melesat ke gawang Argentina.

Seketika kawasan Benteng Oranje bergemuruh. Bendera-bendera Spanyol berkibar, pelukan antarpenonton terjadi di berbagai sudut, sementara teriakan kemenangan menggema hingga peluit panjang dibunyikan.

Gol tunggal Ferran memastikan La Roja keluar sebagai juara Piala Dunia 2026.

Namun kemenangan malam itu bukan hanya milik Spanyol. Bagi para pelaku UMKM di sekitar lokasi nonton bareng, pesta sepak bola juga menghadirkan berkah ekonomi.

Aminah, salah seorang pedagang makanan dan minuman sekaligus pendukung fanatik Spanyol, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Selain tim kesayangannya menjadi juara, dagangannya pun laris selama penyelenggaraan nonton bareng.

"Sejak babak perempat final hingga final, dagangan saya habis. Pendapatan meningkat sampai dua kali lipat dibanding hari biasa. Kegiatan seperti ini benar-benar menghidupkan UMKM," ujarnya sambil tersenyum dan mengibarkan bendera kecil Spanyol.

Layar raksasa yang dipasang di kawasan Benteng Oranje ternyata bukan sekadar media menyaksikan pertandingan. Selama beberapa pekan, tempat itu menjelma menjadi ruang berkumpul masyarakat, pusat hiburan, sekaligus penggerak ekonomi warga sekitar.

Harapan agar suasana serupa kembali hadir pada Piala Dunia berikutnya pun disampaikan Ahmad, salah satu penonton. Ia mengapresiasi penyelenggaraan nonton bareng serta siaran langsung melalui TVRI yang memungkinkan masyarakat menikmati pesta sepak bola bersama-sama.

"Semoga kegiatan seperti ini bisa kembali digelar pada Piala Dunia 2030," katanya.

Ketika langit Ternate mulai menyambut pagi, sorak kemenangan perlahan mereda.

Namun cerita tentang satu gol Ferran, ribuan penonton yang bersatu dalam euforia, dan para pedagang yang pulang dengan senyum karena dagangannya ludes, menjadi bukti bahwa sepak bola selalu menghadirkan lebih dari sekadar pertandingan. Ia juga menghadirkan kebersamaan, harapan, dan rezeki bagi banyak orang.

Berita terkait

Pemkot Ambon dan Majelis Latupati Siap Bentuk Mahkamah Adat Lewat Koordinasi dengan Kementerian Hukum

Pemkot Ambon dan Majelis Latupati Siap Bentuk Mahkamah Adat Lewat Koordinasi dengan Kementerian Hukum

Jakarta-Sprktroom : Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon bersama Majelis Latupati Kota Ambon terus mematangkan rencana pembentukan Mahkamah Adat sebagai lembaga penyelesaian sengketa di negeri-negeri adat. Upaya tersebut kini memasuki tahap koordinasi dengan Kementerian Hukum untuk memperkuat dasar hukum dan pengakuan terhadap sistem peradilan adat di Maluku. Ketua Majelis Latupati Kota Ambon, Reza

Eva Moenandar, Bian Pamungkas
Yayasan Kolase gelar Klinik Jurnalistik dan Kolase Jurnalis Camp (KJC) 2026

Yayasan Kolase gelar Klinik Jurnalistik dan Kolase Jurnalis Camp (KJC) 2026

Pontianak,Spektroom — Yayasan Kolase bersama sejumlah organisasi masyarakat sipil dan komunitas lingkungan menggelar Klinik Jurnalistik dan Kolase Jurnalis Camp (KJC) 2026 menandai peringatan Hari Mangrove Internasional, sebagai upaya mendorong lahirnya karya jurnalistik yang lebih konstruktif dalam mengangkat isu lingkungan, khususnya ekosistem mangrove di Kalimantan Barat. Program digelar dalam rangka Hari

Apolonius Welly, Bian Pamungkas